
Serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam, Arab Saudi, menewaskan dua orang dan melukai delapan lainnya pada Rabu, 21 Oktober 2026. Sehari setelah insiden tersebut, Amerika Serikat memerintahkan sebagian staf diplomatik non-darurat beserta anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi, sementara perusahaan minyak negara Saudi Aramco meminta pegawainya mengosongkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh.
Rangkaian perkembangan ini memperlihatkan meningkatnya tekanan keamanan terhadap infrastruktur penerbangan dan energi Arab Saudi. Pada saat yang sama, ancaman militer Iran dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz turut mendorong harga minyak mentah Brent mencapai US$112,68 per barel pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Serangan Dammam dan penarikan staf AS menambah tekanan keamanan
Bandara Internasional King Fahd berada di Dammam, kawasan timur Arab Saudi yang juga menjadi pusat penting industri energi negara tersebut. Serangan pada Rabu menewaskan dua orang, masing-masing warga Saudi dan warga negara India, serta melukai delapan orang lainnya, menurut laporan Reuters pada 22 Oktober.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi menyatakan pada Kamis bahwa operasional bandara telah kembali berjalan dan lalu lintas udara kembali normal. Dengan demikian, laporan mengenai serangan perlu dibedakan dari status operasional bandara setelah kejadian.
Pada hari yang sama, Reuters melaporkan bahwa Saudi Aramco meminta pegawainya meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Informasi tersebut diperoleh Reuters dari enam orang yang mengetahui persoalan itu. Perusahaan tidak segera memberikan tanggapan mengenai alasan instruksi tersebut.
Di tengah perkembangan itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memerintahkan sebagian personel diplomatik non-darurat dan anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menegaskan bahwa perintah yang telah dikeluarkan saat itu berlaku bagi personel dan keluarga di Arab Saudi.
Reuters juga melaporkan bahwa Washington berencana menarik anggota keluarga dari sejumlah misi diplomatik lain di Timur Tengah. Rencana tersebut tidak sama dengan perintah evakuasi yang telah diberlakukan di seluruh kawasan.
Rangkaian langkah ini menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap risiko keamanan regional. Namun, penarikan staf diplomatik dan instruksi kerja jarak jauh bagi pegawai perusahaan energi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh fasilitas atau jalur transportasi di Arab Saudi telah berhenti beroperasi.
Iran mengumumkan doktrin militer ofensif
Ketegangan regional juga meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan perubahan doktrin militernya pada Rabu.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebi mengatakan Iran kini akan menggabungkan respons terhadap serangan dengan tindakan ofensif. Dalam laporan Al Jazeera pada 22 Oktober, ia menyatakan bahwa perubahan tersebut merupakan pergeseran dari pendekatan yang sebelumnya lebih defensif menuju strategi ofensif dan asimetris.
Mohebi memperingatkan bahwa serangan baru terhadap Iran dapat mendorong Teheran menyerang negara-negara yang terlibat dalam operasi terhadapnya, termasuk pangkalan yang digunakan oleh militer Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut merupakan ancaman yang disampaikan pejabat Iran, bukan konfirmasi bahwa operasi militer baru telah diputuskan atau sedang dilaksanakan.
Mohebi juga mengklaim persediaan rudal Iran meningkat 1,5 kali lipat sejak perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025. Ia menyatakan bahwa jangkauan, daya hancur, dan akurasi rudal Iran turut meningkat.
Namun, ia tidak menyampaikan jumlah persediaan rudal, data teknis, atau bukti independen yang dapat digunakan untuk memeriksa klaim tersebut. Karena itu, pernyataan mengenai peningkatan kemampuan militer Iran perlu tetap diatribusikan kepada IRGC.
Ia juga menyebut pasukan Iran tengah mempersiapkan pengenalan senjata yang dijuluki “bapak segala bom”. Tanpa rincian teknis dan bukti pendukung, sebutan tersebut belum cukup untuk memastikan jenis maupun kemampuan senjata yang dimaksud.
Insiden kapal di Selat Hormuz menambah kekhawatiran pasokan energi
Ancaman militer Iran muncul ketika insiden pelayaran di Selat Hormuz terus berlangsung. Jalur laut tersebut merupakan salah satu titik penting perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewatinya dalam kondisi normal sebelum perang.
Pada Kamis, Angkatan Laut IRGC menyatakan empat kapal yang dituduh terlibat dalam pemindahan minyak ilegal di Teluk bagian utara diserang dan terbakar. IRGC juga mengklaim tiga kapal lainnya menabrak ranjau di sebelah barat Selat Hormuz.
Reuters melaporkan pernyataan tersebut sebagai klaim militer Iran. Informasi yang tersedia tidak memberikan verifikasi independen atas seluruh tuduhan terhadap kapal-kapal itu maupun penyebab setiap insiden.
Meski demikian, risiko gangguan pelayaran menjadi perhatian pasar karena kawasan Teluk memiliki peran besar dalam perdagangan minyak internasional. Gangguan terhadap kapal, infrastruktur energi, atau jalur ekspor dapat memengaruhi perkiraan ketersediaan pasokan dan biaya pengiriman.
Kondisi tersebut juga memperumit penilaian terhadap situasi keamanan regional. Pemulihan sebagian arus ekspor minyak tidak otomatis menghilangkan risiko, terutama ketika serangan terhadap fasilitas dan kapal masih dilaporkan.
Harga Brent mencapai US$112,68 per barel
Pasar minyak merespons meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi. Reuters mencatat harga kontrak berjangka minyak mentah Brent naik menjadi US$112,01 per barel pada pukul 13.11 GMT, Kamis, 22 Oktober. Sebelumnya, harga sempat mencapai US$112,68 per barel, tertinggi sejak 18 Mei 2026.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah serangan Houthi di Arab Saudi, insiden kapal di Selat Hormuz, dan kekhawatiran terhadap potensi gangguan tambahan pada pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Analis minyak Tamas Varga dari PVM Oil mengatakan kepada Reuters bahwa laporan mengenai pemulihan ekspor minyak Timur Tengah belum menghilangkan kekhawatiran pasar akibat serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi Saudi.
Pergerakan harga Brent tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik dapat memengaruhi pasar energi bahkan ketika sebagian arus ekspor mulai pulih. Namun, kenaikan harga minyak mentah tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi angka kenaikan biaya penerbangan atau paket perjalanan ibadah.
Pengaruh terhadap biaya perjalanan bergantung pada faktor lain, termasuk harga bahan bakar penerbangan, nilai tukar, kebijakan maskapai, dan ketentuan kontrak dengan penyedia layanan.
Hal yang perlu dipantau penyelenggara haji dan umrah
Bagi penyelenggara perjalanan ibadah dari Indonesia, perkembangan di Timur Tengah layak dipantau sebagai bagian dari pengelolaan risiko perjalanan. Namun, belum terdapat bukti dalam sumber yang diperiksa bahwa serangan terbaru telah menyebabkan pembatalan penerbangan Indonesia–Arab Saudi atau gangguan langsung terhadap kegiatan ibadah di Makkah dan Madinah.
Sejumlah langkah kehati-hatian yang relevan meliputi:
- Memeriksa informasi penerbangan dan pemberitahuan operasional langsung dari maskapai serta bandara terkait.
- Mengikuti pengumuman resmi pemerintah Indonesia, perwakilan RI di Arab Saudi, dan otoritas penerbangan mengenai perkembangan keamanan.
- Menyiapkan saluran komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan perubahan jadwal atau prosedur perjalanan kepada jemaah.
- Mengevaluasi perubahan biaya operasional berdasarkan informasi aktual dari maskapai dan mitra perjalanan, bukan hanya berdasarkan kenaikan harga minyak mentah.
Perkembangan berikutnya yang perlu diperhatikan mencakup keputusan resmi AS terkait Iran, situasi keamanan di Arab Saudi, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, serta setiap perubahan kebijakan perjalanan atau penerbangan.
Catatan Asphirasi
ASPHIRASI mengajak penyelenggara haji dan umrah serta calon jemaah lebih waspada: bagaimana memastikan perjalanan tetap aman di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah? Pantau informasi resmi maskapai dan otoritas terkait, pastikan status penerbangan serta perubahan rute, dan jangan menyimpulkan keberangkatan terganggu tanpa konfirmasi. Hingga 22 Oktober 2026, belum ada konfirmasi dalam sumber yang diperiksa mengenai dampak langsung terhadap perjalanan jemaah Indonesia.
Sumber: Al Jazeera




