
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, menerima panggilan telepon dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dilansir Al Jazeera pada 12 Oktober 2026, yang mengutip kantor berita resmi Arab Saudi, Saudi Press Agency (SPA), kedua menteri membahas eskalasi terbaru di kawasan setelah serangkaian serangan terhadap bandara-bandara di Arab Saudi yang dikaitkan dengan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Dalam unggahan di Telegram pada Minggu, Araghchi menegaskan bahwa pendekatan militer yang mengabaikan solusi politik hanya akan memperumit situasi. Ia menyatakan bahwa krisis di kawasan tidak memiliki solusi militer. Sepekan sebelumnya, Araghchi juga mengatakan bahwa tidak ada solusi militer untuk perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, hanya negosiasi yang berlandaskan keadilan dan kesetaraan yang dapat mengakhiri konflik tersebut.
Araghchi menyampaikan bahwa Iran siap memberikan bantuan yang diperlukan untuk memfasilitasi dimulainya dialog antara Arab Saudi dan Yaman guna mencapai solusi politik atas krisis yang berlangsung.
Serangan berulang di bandara Riyadh menewaskan korban jiwa
Komunikasi kedua menteri berlangsung setelah serangkaian serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Dalam serangan pada Sabtu, 10 Oktober, sedikitnya 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka, menurut laporan Al Jazeera yang mengutip otoritas Saudi.
Sehari kemudian, bandara tersebut kembali menjadi sasaran serangan. Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi (GACA) mengonfirmasi insiden pada Minggu, 11 Oktober, yang mengakibatkan sejumlah orang terluka. Dalam laporan terpisah pada 12 Oktober, Al Jazeera menyebut seorang warga Pakistan tewas dan 11 orang lainnya terluka dalam serangan tersebut.
Menyusul serangan mematikan di Riyadh, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengevaluasi kembali peran Washington di Yaman dan mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan serangan terhadap Iran. Pernyataan tersebut berbeda dari sikap Trump pada Kamis sebelumnya, ketika ia mengatakan bahwa Washington tidak akan melanjutkan serangan terhadap Iran hingga pemilu paruh waktu di Amerika Serikat selesai.
Hubungan Riyadh–Teheran memanas meski jalur diplomatik tetap terbuka
Hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi tetap bertahan meskipun diwarnai friksi berkepanjangan. Kedutaan kedua negara kembali beroperasi setelah pemulihan hubungan melalui kesepakatan yang dimediasi China pada 2023. Sebelumnya, hubungan diplomatik kedua negara terputus selama tujuh tahun, dalam periode yang juga diwarnai konflik proksi di kawasan.
Hubungan Riyadh dan Teheran memburuk sejak dimulainya perang Amerika Serikat–Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Sejak itu, Iran dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya menyerang sejumlah aset militer AS serta infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk ladang minyak di Arab Saudi, menurut laporan Al Jazeera.
Pada Maret 2026, Pangeran Faisal memperingatkan Iran bahwa toleransi Arab Saudi dan negara-negara Teluk tetangganya terhadap serangan tersebut terbatas. Ia juga meminta Teheran menghitung ulang strateginya.
Tawaran Iran untuk memfasilitasi dialog antara Arab Saudi dan Yaman muncul di tengah meningkatnya ketegangan tersebut. Namun, tawaran itu belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa proses perundingan telah disepakati atau dimulai.
Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?
Informasi dalam laporan utama Al Jazeera tidak menyebutkan dampak langsung terhadap jemaah Indonesia atau jadwal penerbangan haji dan umrah dari Indonesia. Meski demikian, serangkaian serangan terhadap bandara di Arab Saudi meningkatkan risiko gangguan operasional penerbangan yang perlu dicermati penyelenggara perjalanan.
Laporan terbaru juga menyebutkan bahwa Bandara Internasional King Fahd di Dammam menjadi sasaran serangan pada Minggu, 11 Oktober. GACA menyatakan bahwa penilaian kerusakan dan pemeriksaan keselamatan fasilitas sedang dilakukan bersama otoritas terkait. Informasi ini memperluas perhatian terhadap keamanan fasilitas penerbangan sipil di Arab Saudi, di luar insiden Riyadh.
Bagi penyelenggara travel haji dan umrah, beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi:
- Memantau perkembangan diplomatik dan keamanan. Tawaran mediasi Iran merupakan perkembangan diplomatik yang perlu diikuti, tetapi belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa risiko keamanan telah menurun.
- Memeriksa informasi penerbangan secara berkala. Penyelenggara perlu mencermati pengumuman resmi otoritas penerbangan dan maskapai mengenai perubahan jadwal, rute, atau operasional bandara.
- Menyiapkan komunikasi dengan jemaah. Travel perlu memastikan jemaah yang akan berangkat maupun yang sedang berada di Arab Saudi memperoleh informasi terbaru apabila terjadi perubahan perjalanan.
- Menyiapkan prosedur kontingensi. Penyelenggara perlu memiliki langkah penanganan apabila penerbangan mengalami penundaan, pengalihan rute, atau pembatalan.
Catatan ASPHIRASI
Hingga informasi yang dapat diverifikasi dalam laporan-laporan tersebut tersedia, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan dampak spesifik terhadap seluruh jadwal penerbangan jemaah Indonesia. Namun, laporan mengenai serangan berulang di Riyadh dan insiden di Dammam menunjukkan bahwa risiko terhadap operasional penerbangan sipil di Arab Saudi perlu diperhatikan secara serius.
Penyelenggara travel haji dan umrah disarankan memantau pengumuman resmi otoritas penerbangan sipil Arab Saudi serta maskapai mitra. Mereka juga perlu menyiapkan jalur komunikasi yang jelas bagi jemaah yang telah terjadwal berangkat dalam waktu dekat.
Perkembangan selanjutnya yang patut dipantau mencakup respons Arab Saudi terhadap tawaran mediasi Iran, sikap Presiden Trump mengenai kemungkinan operasi militer lanjutan, serta perkembangan operasional bandara-bandara di Arab Saudi. Informasi mengenai perubahan penerbangan harus dikonfirmasi melalui otoritas atau maskapai terkait, bukan disimpulkan semata-mata dari eskalasi keamanan di kawasan.
Sumber: Al Jazeera




