
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan bin Abdullah, menerima panggilan telepon dari Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein, pada Kamis (22/10/2026). Keduanya membahas hubungan bilateral serta penguatan kerja sama di berbagai bidang, terutama keamanan, untuk menghadapi tantangan regional saat ini.
Menurut rilis Saudi Press Agency (SPA) pada 22 Oktober 2026, pembicaraan tersebut juga menyinggung serangan teroris terbaru yang menyasar sejumlah wilayah di Arab Saudi. Pemerintah Irak, melalui Fuad Hussein, mengecam serangan tersebut dan menolak segala bentuk tindakan yang membahayakan warga sipil maupun fasilitas sipil.
Hussein juga menegaskan sikap tegas Irak terhadap penggunaan wilayahnya untuk melancarkan serangan atau tindakan apa pun yang mengancam keamanan Arab Saudi dan negara-negara di kawasan.
Sementara itu, Pangeran Faisal menyatakan dukungan Arab Saudi terhadap upaya pemerintah Irak untuk meredakan ketegangan dan melanjutkan kerja sama dengan negara-negara tetangga guna memperkuat keamanan serta stabilitas kawasan.
Irak Tegaskan Penolakan Wilayahnya Digunakan untuk Serangan
Salah satu poin utama dalam pembicaraan kedua menteri adalah penegasan Irak bahwa wilayahnya tidak boleh digunakan untuk melancarkan serangan atau tindakan yang mengancam keamanan Arab Saudi maupun negara-negara lain di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai serangan terbaru yang menyasar sejumlah wilayah di Arab Saudi. Pemerintah Irak juga menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk tindakan yang membahayakan warga sipil dan fasilitas sipil.
Namun, rilis SPA tidak merinci lokasi serangan, jenis fasilitas yang terdampak, pihak yang bertanggung jawab, maupun langkah operasional tertentu yang disepakati kedua negara untuk mencegah serangan berikutnya.
Arab Saudi Dukung Upaya Irak Meredakan Ketegangan
Selain membahas persoalan keamanan, kedua menteri meninjau hubungan bilateral dan peluang memperkuat kerja sama di berbagai bidang.
Pangeran Faisal menegaskan dukungan Arab Saudi terhadap upaya pemerintah Irak dalam meredakan ketegangan regional. Kerja sama dengan negara-negara tetangga juga disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan.
Meski demikian, rilis SPA tidak menyebutkan adanya kesepakatan baru mengenai mekanisme pengamanan perbatasan, operasi bersama, atau pembentukan sistem pemantauan khusus. Pernyataan yang disampaikan berfokus pada hubungan bilateral, kerja sama keamanan, dan komitmen menjaga stabilitas regional.
Apa Relevansinya bagi Travel dan Jemaah Umrah Indonesia?
Pembicaraan keamanan antara Arab Saudi dan Irak relevan untuk dipantau oleh industri haji dan umrah karena berkaitan dengan situasi keamanan regional. Namun, hubungan antara perkembangan diplomatik tersebut dan operasional perjalanan jemaah Indonesia perlu ditempatkan secara proporsional.
Rilis SPA tidak menyebutkan adanya gangguan penerbangan, perubahan rute perjalanan, penutupan bandara, maupun dampak langsung terhadap penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
Bagi penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) dan pelaku industri terkait, beberapa hal yang dapat dipantau meliputi:
- Perkembangan situasi keamanan: mengikuti pengumuman resmi mengenai kondisi keamanan di Arab Saudi dan negara-negara sekitarnya.
- Kebijakan penerbangan: memantau pemberitahuan dari maskapai, bandara, dan otoritas penerbangan apabila terdapat perubahan operasional.
- Informasi untuk jemaah: memastikan informasi perjalanan yang disampaikan kepada jemaah bersumber dari otoritas resmi dan diperbarui sesuai perkembangan.
Pemantauan tersebut merupakan langkah kehati-hatian dalam menghadapi dinamika kawasan, bukan indikasi bahwa perjalanan jemaah Indonesia sedang mengalami gangguan akibat pembicaraan Saudi–Irak.
Catatan ASPHIRASI
Pernyataan bersama dalam pembicaraan Menteri Luar Negeri Arab Saudi dan Irak menyoroti pentingnya kerja sama keamanan regional di tengah serangan yang menyasar wilayah Kerajaan. Pemerintah Irak mengecam serangan tersebut sekaligus menegaskan penolakannya terhadap penggunaan wilayah Irak untuk tindakan yang mengancam keamanan Arab Saudi dan negara-negara kawasan.
Meski perkembangan ini relevan bagi pemantauan situasi regional, rilis SPA tidak mengidentifikasi pelaku serangan maupun menyebutkan dampak langsung terhadap penerbangan dan perjalanan ibadah umrah.
Karena itu, penyelenggara travel haji dan umrah perlu membedakan perkembangan diplomatik dari informasi operasional yang benar-benar memengaruhi perjalanan jemaah. Pembaruan dari otoritas penerbangan, maskapai, dan pemerintah terkait tetap menjadi rujukan utama apabila terjadi perubahan kondisi perjalanan.
Perkembangan selanjutnya yang layak dipantau mencakup pernyataan resmi lanjutan dari Arab Saudi dan Irak, langkah konkret dalam kerja sama keamanan kedua negara, serta pengumuman otoritas terkait jika terdapat perubahan yang berdampak pada perjalanan udara.
Sumber: SPA




