
GOWA — Sebanyak 24 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Sulawesi Selatan bertemu dengan dua perusahaan dari Arab Saudi dalam kegiatan business matching pada Sulsel Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah 2026. Pertemuan ini membuka peluang bagi pelaku usaha daerah untuk menjajaki pasar di Arab Saudi, meski belum ada informasi mengenai kesepakatan dagang yang dihasilkan.
Menurut rilis Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) pada 18 Oktober 2026, pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses pasar bagi produk UMKM melalui kemitraan dengan calon mitra bisnis dari luar negeri.
24 UMKM Jajaki Kerja Sama dengan Perusahaan Saudi
Kemenhaj menyebut pertemuan antara 24 UMKM dan dua perusahaan Arab Saudi menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan produk lokal kepada calon mitra bisnis internasional.
Melalui business matching, pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan produk dan menjajaki kemungkinan kerja sama. Namun, rilis tersebut belum merinci identitas kedua perusahaan, jenis produk yang ditawarkan, maupun bentuk kemitraan yang sedang dibicarakan.
Belum ada pula keterangan mengenai kontrak ekspor, nilai transaksi, atau jadwal realisasi kerja sama. Dengan demikian, pertemuan tersebut masih perlu ditindaklanjuti untuk mengetahui apakah peluang yang terbuka dapat berkembang menjadi transaksi komersial.
30 UMKM Jalani Kurasi untuk Haji dan Umrah Store
Selain penjajakan kerja sama dengan perusahaan Arab Saudi, Sulsel Expo juga memfasilitasi perluasan akses pasar melalui Haji dan Umrah Store.
Dalam rilisnya, Kemenhaj menyampaikan bahwa 30 UMKM tengah menjalani proses kurasi produk. Tahapan ini ditujukan untuk menilai kesesuaian produk dengan kebutuhan jemaah haji dan umrah.
Produk yang memenuhi kriteria berpeluang menjangkau pasar melalui kanal tersebut. Meski demikian, Kemenhaj belum merinci hasil akhir kurasi maupun jumlah UMKM yang nantinya akan diterima sebagai pemasok.
Kelanjutan Kemitraan Menjadi Penentu
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj, Jaenal Effendi, menekankan pentingnya tindak lanjut setelah kegiatan expo berakhir. Menurutnya, keberhasilan pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah tidak cukup diukur dari transaksi selama pameran, tetapi juga dari keberlanjutan usaha dan kemitraan yang terbentuk.
Dalam konteks penjajakan dengan perusahaan Arab Saudi, perkembangan berikutnya menjadi hal penting untuk diperhatikan. Informasi mengenai kesepakatan pembelian, persyaratan produk, serta mekanisme distribusi akan membantu memperjelas peluang yang tersedia bagi UMKM Sulawesi Selatan.
Hingga rilis Kemenhaj diterbitkan, belum tersedia rincian yang menunjukkan apakah pertemuan tersebut telah menghasilkan komitmen ekspor. Karena itu, peluang kerja sama yang dibuka melalui Sulsel Expo masih perlu dibedakan dari realisasi perdagangan yang telah terkonfirmasi.
Sumber: Kementerian Haji dan Umrah RI
Catatan ASPHIRASI: Penjajakan Ekspor Belum Berarti Transaksi
Pertemuan bisnis seperti ini membuka pintu, tetapi rilisnya sendiri belum memuat informasi mengenai kesepakatan dagang yang dihasilkan. Bagi pembaca, penting membedakan peluang yang sedang dijajaki dari ekspor yang sudah terjadi. Pembedaan itu pula yang akan kami pegang saat memberitakan kelanjutannya.
Anggota asosiasi sebenarnya berada dekat dengan rantai pasok ini. Travel umrah membeli perlengkapan dan kebutuhan jemaah, sehingga bisa menjadi mitra yang menguji langsung apakah produk UMKM benar-benar cocok dengan kebutuhan jemaah. Kurasi produk untuk Haji dan Umrah Store akan lebih bermakna bila melibatkan pihak yang setiap hari melayani jemaah.
ASPHIRASI berharap hasil kurasi dan kriteria pemasoknya diumumkan secara terbuka. Dengan begitu, UMKM daerah tahu standar yang harus dipenuhi, dan travel dapat memilih pemasok dengan dasar yang jelas. Seperti ditegaskan Jaenal Effendi, tindak lanjut setelah expo yang akan menentukan.
Sumber: Kemenhaj RI




