Saudi Update

Inggris Kirim Jet Typhoon untuk Bantu Pertahanan Arab Saudi dari Houthi

Inggris Kirim Jet Typhoon untuk Bantu Pertahanan Arab Saudi dari Houthi

Inggris Kerahkan Jet Tempur Typhoon untuk Pertahanan Arab Saudi dari Serangan Houthi

Inggris akan mengerahkan jet tempur Typhoon milik Royal Air Force (RAF) untuk membantu melindungi Arab Saudi dari serangan rudal dan drone kelompok Houthi Yaman, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah. Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan pengerahan tersebut pada 20 Oktober 2026, dengan menegaskan bahwa jet-jet itu akan menjalankan misi pertahanan udara dan tidak melakukan serangan ofensif terhadap Houthi.

Menurut rilis resmi Kementerian Pertahanan Inggris, dukungan tambahan tersebut mencakup pengerahan jet RAF Typhoon, penyediaan pesawat angkut A400M untuk memindahkan perlengkapan pertahanan di wilayah Saudi, serta penugasan penasihat militer Inggris untuk mendukung staf militer Saudi.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya serangan Houthi di kawasan. Pemerintah Inggris secara khusus mengecam serangan terhadap sasaran sipil, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Dalam pernyataan yang sama, Inggris juga mengumumkan perpanjangan dukungan pengisian bahan bakar udara ke udara untuk operasi udara pertahanan Saudi selama 90 hari. Dukungan tersebut mencakup operasi untuk melemahkan sasaran militer Houthi di Yaman yang dinilai mengancam masyarakat Saudi dan Yaman.

Hubungan Militer Inggris dan Arab Saudi Berakar dari Perang Dunia I

Hubungan pertahanan Inggris dan Arab Saudi memiliki sejarah panjang yang mendahului berdirinya kerajaan tersebut. Dalam laporan Al Jazeera mengenai sejarah hubungan militer kedua negara, salah satu tonggak awalnya adalah Traktat Darin yang ditandatangani pada Desember 1915 oleh Sir Percy Cox, pejabat Inggris di kawasan Teluk, dan Abdulaziz Ibn Saud.

Perjanjian tersebut mengikat Ibn Saud dalam hubungan dengan Inggris di tengah Perang Dunia I, ketika Kesultanan Ottoman masih menjadi kekuatan utama di kawasan. Inggris memberikan dukungan finansial dan persenjataan kepada Ibn Saud. Perjanjian lanjutan kemudian ditandatangani di Jeddah pada Mei 1927.

Kerja sama pertahanan kedua negara berkembang selama beberapa dekade berikutnya. Pada Mei 1966, Arab Saudi menyepakati pembelian pesawat tempur Lightning dan pesawat latih dari Inggris. Hubungan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai kontrak persenjataan, termasuk kesepakatan Al-Yamamah pada 1985 yang melibatkan penjualan pesawat Tornado dan Hawk.

Kesepakatan Al-Yamamah menjadi salah satu bagian penting dalam hubungan industri pertahanan kedua negara. Berdasarkan uraian sejarah Al Jazeera, pengaturan tersebut juga melibatkan minyak Saudi sebagai bagian dari mekanisme pembayaran untuk pesawat dan perlengkapan terkait.

Kerja Sama Jet Tempur Berlanjut hingga Program Typhoon

Kerja sama pengadaan pesawat tempur berlanjut dengan pembelian 72 jet Typhoon oleh Arab Saudi pada 2007. Pada Maret 2018, kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk membahas kemungkinan pengadaan tambahan 48 pesawat Typhoon.

Namun, pembahasan pengadaan tambahan tersebut perlu dibedakan dari kontrak pembelian yang telah difinalisasi. Pada saat itu, nota kesepahaman menjadi dasar untuk melanjutkan pembicaraan mengenai kemungkinan kesepakatan lanjutan.

Jerman, salah satu negara yang terlibat dalam produksi Typhoon, sebelumnya menghentikan ekspor senjata ke Arab Saudi setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018. Kebijakan tersebut menjadi salah satu hambatan bagi pengadaan persenjataan Saudi dari negara-negara Eropa sebelum keberatan Jerman dicabut pada Januari 2024.

RAF Typhoon juga pernah terlibat dalam operasi ofensif terhadap Houthi. Pada 2024, jet tempur Inggris bergabung dengan operasi Amerika Serikat yang menargetkan posisi Houthi di Yaman setelah kelompok tersebut menyerang kapal-kapal di Laut Merah.

Peran itu berbeda dari misi yang diumumkan pada Oktober 2026. Dalam pengumuman terbaru, Kementerian Pertahanan Inggris secara eksplisit menyatakan bahwa jet RAF Typhoon akan menjalankan misi pertahanan udara dan tidak melakukan serangan ofensif terhadap Houthi.

Sebelum pengumuman tersebut, Inggris telah memberikan dukungan pengisian bahan bakar udara bagi operasi pertahanan Saudi. Pada September 2026, Inggris mengumumkan pengerahan pesawat tanker Voyager untuk mendukung operasi tersebut. Kebijakan pada Oktober memperpanjang dukungan pengisian bahan bakar itu sekaligus menambahkan misi pertahanan udara oleh jet Typhoon.

Apa Artinya bagi Penerbangan dan Jemaah Umrah Indonesia?

Pengerahan jet tempur Inggris berlangsung di tengah gangguan penerbangan yang berkaitan dengan situasi keamanan di Arab Saudi. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran serangan pada Oktober 2026, menurut keterangan Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi yang dikutip Saudi Press Agency (SPA).

Dampaknya terhadap penerbangan internasional juga telah dipantau oleh Kementerian Perhubungan RI. Dalam keterangannya pada 12 Oktober 2026, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan bahwa sejumlah penerbangan transit yang terhubung dengan Riyadh mengalami pembatalan, penyesuaian rute, atau pengaturan ulang perjalanan penumpang.

Meski demikian, laporan Kemenhub pada tanggal tersebut menyebut penerbangan langsung Indonesia-Arab Saudi yang tercantum dalam pemantauan masih beroperasi. Karena itu, gangguan pada penerbangan transit tidak dapat langsung disamakan dengan penghentian seluruh penerbangan dari Indonesia menuju Arab Saudi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan penyelenggara perjalanan haji dan umrah meliputi:

  • Status penerbangan dan bandara: Memeriksa pembaruan operasional dari otoritas penerbangan serta bandara yang digunakan dalam perjalanan jemaah.
  • Perubahan jadwal dan rute: Mengonfirmasi kemungkinan penundaan, pembatalan, atau pengalihan rute kepada maskapai, terutama untuk penerbangan transit.
  • Informasi kepada jemaah: Menyampaikan perubahan perjalanan berdasarkan pemberitahuan resmi atau konfirmasi maskapai, bukan perkiraan mengenai dampak konflik.
  • Penanganan penumpang terdampak: Memastikan tersedia prosedur komunikasi dan bantuan bagi jemaah yang mengalami perubahan jadwal atau gangguan penerbangan.

Kemenhub mengimbau penumpang dengan penerbangan transit yang terhubung dengan Riyadh untuk memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai dan memastikan kembali jadwal perjalanan sebelum berangkat.

Catatan ASPHIRASI

Pengerahan jet tempur Typhoon Inggris menambah dukungan pertahanan udara bagi Arab Saudi di tengah meningkatnya ancaman serangan rudal dan drone Houthi. Keputusan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kerja sama pertahanan Inggris–Saudi terus berkembang, dari hubungan historis yang terbentuk pada awal abad ke-20 hingga dukungan militer modern.

Bagi penyelenggara perjalanan haji dan umrah, perkembangan militer tersebut perlu dicermati bersama informasi operasional penerbangan. Gangguan yang telah dilaporkan pada sejumlah penerbangan transit menunjukkan pentingnya memantau perubahan jadwal dan rute, tetapi tidak berarti seluruh penerbangan langsung dari Indonesia menuju Arab Saudi otomatis terdampak.

Penyelenggara perlu memperbarui informasi melalui otoritas penerbangan dan maskapai serta menyampaikan perkembangan yang terverifikasi kepada jemaah. Setiap kesimpulan mengenai dampak terhadap rute tertentu sebaiknya didasarkan pada status penerbangan aktual, bukan semata-mata pada perkembangan konflik di kawasan.

Sumber: Menhan Inggris

Bagikan