
Pemerintah Inggris dan Prancis memperkuat dukungan militer untuk Arab Saudi di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi di Yaman. Inggris mengumumkan pengerahan jet tempur Typhoon untuk misi pertahanan udara, sedangkan Prancis telah mengerahkan personel dan kemampuan militer untuk membantu mengamankan fasilitas strategis di Yanbu, pesisir Laut Merah.
Dalam rilis resmi pada 20 Oktober 2026, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa tambahan dukungan militer tersebut mencakup misi pertahanan udara, penasihat militer, dan pesawat angkut A400M. Jet Typhoon akan digunakan untuk melindungi wilayah udara Saudi dari serangan rudal dan drone, bukan untuk melancarkan serangan ofensif terhadap Houthi.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan pada 21 Oktober bahwa personel dan kemampuan militer negaranya telah dikerahkan selama delapan hari untuk membantu mengamankan lokasi strategis di Yanbu. Menurut Macron, sejumlah fasilitas di kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat serangan Houthi, sehingga Prancis juga menawarkan bantuan untuk pemulihan dan pengamanan lokasi.
Kedua negara menyatakan dukungan mereka bersifat defensif. Namun, para analis yang dikutip Al Jazeera pada 21 Oktober menilai keterlibatan militer Eropa berpotensi meningkatkan risiko konfrontasi dengan Houthi dan memperluas konflik Saudi-Yaman.
Serangan ke Bandara Riyadh dan Abha Dilaporkan Menewaskan 19 Orang
Dukungan militer Inggris dan Prancis diberikan ketika Arab Saudi menghadapi serangan rudal dan drone Houthi yang menyasar sejumlah sasaran, termasuk infrastruktur energi dan transportasi.
Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Turki al-Maliki, menyebut serangan Houthi terhadap bandara di Riyadh dan Abha pada Oktober ini telah menewaskan 19 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya. Angka tersebut dikutip Al Jazeera dalam laporannya pada 21 Oktober 2026.
Dalam rilis resminya, Kementerian Pertahanan Inggris secara khusus mengecam serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyebut serangan terhadap bandara tersebut sebagai tindakan yang sangat tercela dan mengatakan bahwa serangan itu menunjukkan eskalasi situasi di kawasan.
Meski demikian, angka korban 19 orang tewas dan lebih dari 300 orang terluka dalam laporan tersebut bersumber dari keterangan koalisi pimpinan Saudi. Angka itu tidak dinyatakan sebagai hasil verifikasi independen oleh pemerintah Inggris maupun Prancis.
Dukungan Prancis Berfokus pada Yanbu, Inggris Kerahkan Jet Tempur
Dukungan kedua negara memiliki bentuk dan cakupan yang berbeda.
Menurut keterangan resmi Presiden Prancis Emmanuel Macron, dukungan negaranya mencakup pengerahan personel dan kemampuan militer untuk membantu mengamankan fasilitas strategis di Yanbu. Kawasan ini penting karena menjadi titik akhir jalur pipa yang menghubungkan wilayah Teluk Persia dengan Laut Merah.
Macron menyebut sejumlah fasilitas di lokasi tersebut telah mengalami kerusakan akibat serangan Houthi. Prancis menawarkan partisipasi dalam pemulihan sekaligus pengamanan fasilitas itu. Namun, rincian jumlah personel dan jenis peralatan yang dikerahkan tidak diuraikan secara lengkap dalam keterangannya.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan tiga bentuk tambahan dukungan militer:
- Jet tempur Typhoon: menjalankan misi pertahanan udara untuk membantu melindungi kota-kota dan infrastruktur penting Saudi dari serangan udara.
- Penasihat militer: bekerja bersama staf perwira Saudi.
- Pesawat angkut A400M: membantu pemindahan materiil pertahanan di dalam wilayah Arab Saudi.
Selain itu, Inggris memperpanjang dukungan pengisian bahan bakar udara-ke-udara bagi operasi udara pertahanan Saudi. Rilis resmi Inggris menyebut dukungan tersebut juga mencakup operasi untuk melemahkan target militer Houthi di Yaman yang dinilai mengancam masyarakat Saudi dan Yaman.
Dengan demikian, meskipun jet Typhoon yang diumumkan dalam rilis terbaru ditugaskan untuk misi pertahanan dan tidak akan melakukan serangan ofensif terhadap Houthi, cakupan keseluruhan dukungan Inggris tidak terbatas pada perlindungan wilayah udara Saudi semata.
Peneliti Royal United Services Institute (RUSI), Urban Coningham, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa peran Inggris dan Prancis memiliki perbedaan. Menurutnya, dukungan Prancis terutama diarahkan pada perlindungan infrastruktur ekspor Saudi, sedangkan Inggris berpotensi memperkuat patroli udara dan membantu pengisian bahan bakar bagi pesawat Saudi yang menjalankan operasi di wilayah Yaman.
Camille Lons dari European Council on Foreign Relations menilai kemampuan Prancis untuk memberikan bantuan militer lebih lanjut dapat dibatasi oleh kebutuhan pertahanan Eropa, terutama di tengah perang di Ukraina. Namun, menurutnya, bantuan kepada Saudi juga menjadi cara bagi Paris untuk menunjukkan dukungan pada saat krisis sekaligus memperdalam kemitraan pertahanan kedua negara.
Peneliti senior di King's College London War Studies Department, Nawaf Obaid, menilai pengerahan Inggris dan Prancis bernilai secara militer dan signifikan secara politik. Dukungan tersebut dapat memperluas perlindungan terhadap wilayah Saudi yang luas sekaligus memberikan ruang bagi Riyadh untuk mengalokasikan sebagian aset militernya ke operasi lain.
Analis Memperingatkan Risiko Eskalasi Konflik
Sejumlah analis memperingatkan bahwa dukungan militer Eropa dapat membawa risiko keterlibatan yang lebih dalam dalam konflik Saudi-Houthi.
Peneliti senior keamanan Timur Tengah di RUSI, Burcu Ozcelik, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa jika langkah pertahanan Saudi tidak cukup memberikan efek jera, Houthi dapat menguji ketahanan pertahanan kerajaan tersebut dan berusaha menarik sekutu Saudi lebih jauh ke dalam konfrontasi.
Coningham juga menilai Houthi berpotensi menganggap dukungan Inggris, khususnya pengisian bahan bakar udara bagi pesawat Saudi yang beroperasi di Yaman, sebagai tindakan ofensif. Persepsi tersebut dapat membuat kelompok itu memandang Inggris sebagai pihak yang terlibat dalam perang, bukan sekadar penyedia dukungan pertahanan.
Dalam skenario tersebut, pasukan Inggris yang ditempatkan di Arab Saudi atau di lokasi lain, termasuk Siprus, berpotensi menjadi sasaran. Coningham juga menyinggung kemungkinan Houthi mengubah sikap terhadap akses kapal non-Saudi, termasuk kapal Eropa, di Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Risiko lain muncul jika serangan Houthi menewaskan personel Inggris atau Prancis. Menurut Coningham, insiden semacam itu dapat memicu perdebatan politik di kedua negara mengenai perlunya tindakan balasan.
Ozcelik menambahkan bahwa Inggris dapat menghadapi tekanan untuk mengambil peran militer yang lebih ofensif apabila terjadi serangan yang menimbulkan korban sipil massal atau kerusakan berat pada infrastruktur energi Saudi. Meski demikian, ia menilai London kemungkinan akan memandang keterlibatan yang lebih ofensif sebagai pilihan terakhir.
Mengapa dukungan Amerika Serikat menjadi perhatian?
Keterlibatan Inggris dan Prancis juga berlangsung di tengah terbatasnya dukungan militer langsung Amerika Serikat terhadap operasi Saudi melawan Houthi.
Menurut laporan Al Jazeera yang mengutip Reuters, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada September menolak sejumlah permintaan Saudi untuk ikut serta dalam serangan terhadap Houthi. Washington disebut hanya menyetujui dukungan intelijen dan penentuan target.
Di sisi lain, Turki dan Pakistan telah berkomitmen pada langkah-langkah deterensi kolektif, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan, melalui pakta pertahanan Mekkah dengan Arab Saudi. Namun, menurut laporan Al Jazeera, perjanjian tersebut belum diratifikasi oleh Turki.
Parlemen Mesir juga dilaporkan menunda pemungutan suara mengenai pemberian izin kepada angkatan bersenjatanya untuk mendukung Arab Saudi.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bentuk dan tingkat keterlibatan negara-negara mitra Saudi masih beragam. Namun, kemungkinan pengerahan pasukan atau perubahan dukungan militer dari negara lain tetap merupakan perkembangan yang perlu dipisahkan dari keputusan pengerahan Inggris dan Prancis yang telah diumumkan.
Apa Artinya bagi Penerbangan dan Jemaah Indonesia?
Laporan Al Jazeera dan rilis resmi Inggris serta Prancis yang diperiksa tidak memberikan konfirmasi mengenai gangguan langsung terhadap penerbangan komersial atau jadwal keberangkatan jemaah umrah dan haji Indonesia akibat pengumuman pengerahan militer tersebut.
Meski demikian, perkembangan keamanan di Arab Saudi dan kawasan sekitarnya tetap relevan bagi penyelenggara perjalanan ibadah, terutama apabila terjadi serangan baru atau perubahan kebijakan keamanan penerbangan.
Beberapa hal yang perlu dicermati penyelenggara perjalanan meliputi:
- Status operasional bandara: mengikuti pengumuman resmi otoritas penerbangan dan maskapai mengenai operasional bandara Riyadh, Abha, serta bandara lain yang masuk dalam rencana perjalanan jemaah.
- Perubahan jadwal dan rute: memastikan informasi mengenai penundaan, pembatalan, atau pengalihan penerbangan berasal dari maskapai atau otoritas terkait, bukan semata-mata dari laporan perkembangan konflik.
- Keamanan kawasan: mencermati perkembangan serangan rudal dan drone serta situasi di Selat Bab al-Mandeb apabila relevan dengan perjalanan atau logistik yang digunakan.
- Komunikasi dengan jemaah: menyiapkan saluran informasi yang jelas agar perubahan jadwal atau prosedur perjalanan dapat disampaikan berdasarkan pengumuman resmi.
Langkah-langkah tersebut merupakan bentuk pemantauan risiko, bukan indikasi bahwa penerbangan jemaah Indonesia saat ini telah terganggu. Dampak operasional perlu dinilai berdasarkan informasi aktual dari otoritas penerbangan dan maskapai.
Catatan ASPHIRASI
Penguatan dukungan militer Inggris dan Prancis kepada Arab Saudi menandai peningkatan kerja sama pertahanan di tengah serangan Houthi yang berkelanjutan. Inggris telah mengumumkan tambahan misi pertahanan udara menggunakan jet Typhoon, pengiriman pesawat angkut A400M, dan penugasan penasihat militer. Prancis, sementara itu, menyatakan telah mengerahkan personel dan kemampuan militer untuk membantu mengamankan fasilitas strategis di Yanbu.
Namun, klaim bahwa seluruh dukungan tersebut sepenuhnya bersifat defensif perlu dibaca sesuai cakupan masing-masing operasi. Inggris secara resmi menyatakan jet Typhoon yang baru diumumkan tidak akan melakukan serangan ofensif terhadap Houthi, tetapi dukungan pengisian bahan bakar udara-ke-udara juga mencakup operasi Saudi untuk melemahkan target militer Houthi di Yaman.
Para analis yang dikutip Al Jazeera memperingatkan bahwa keterlibatan militer Eropa dapat meningkatkan risiko serangan balasan dan tekanan politik untuk memperluas operasi. Meski demikian, kemungkinan tersebut masih berupa penilaian dan skenario, bukan konfirmasi bahwa eskalasi lebih lanjut telah terjadi.
Bagi penyelenggara perjalanan haji dan umrah, belum terdapat konfirmasi dalam sumber yang diperiksa mengenai gangguan langsung terhadap penerbangan komersial Indonesia akibat pengumuman pengerahan militer ini. Pemantauan sebaiknya difokuskan pada informasi resmi mengenai keamanan bandara, status penerbangan, dan pemberitahuan maskapai.
Perkembangan selanjutnya yang layak dicermati mencakup perubahan cakupan misi Inggris dan Prancis, respons Houthi terhadap pengerahan tersebut, perkembangan kerja sama pertahanan Saudi dengan negara lain, serta pengumuman resmi yang dapat memengaruhi keamanan penerbangan dan perjalanan di kawasan.
Sumber: Al Jazeera




