Saudi Update

Prancis Kirim Pasukan Amankan Pelabuhan Minyak Yanbu di Tengah Ancaman Houthi

Prancis Kirim Pasukan Amankan Pelabuhan Minyak Yanbu di Tengah Ancaman Houthi

Prancis akan mengirim pasukan, sistem radar, dan sistem pertahanan ke Yanbu, Arab Saudi, menyusul serangkaian serangan rudal yang disebut menargetkan wilayah barat Kerajaan.

Dilansir Arab News, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan rencana tersebut dalam wawancara televisi Prancis pada Kamis, 24 September 2026. Pengumuman itu muncul setelah Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya mencegat enam rudal balistik yang disebut ditembakkan Houthi ke arah Yanbu dan Taif.

Macron mengatakan pengerahan tersebut ditujukan untuk mengamankan fasilitas strategis dan bukan untuk melibatkan Prancis dalam konflik. Ia juga mengatakan pembahasan mengenai dukungan tersebut telah disepakati dengan pihak Saudi.

Prancis kirim radar dan sistem pertahanan ke Yanbu

Macron mengatakan beberapa juta barel minyak melewati Laut Merah dan jalur Yanbu setiap hari. Menurut dia, jalur tersebut telah terdampak berat oleh serangkaian serangan.

Ia mengatakan Prancis berkomitmen membantu mengamankan jalur tersebut dengan mengirim aset militer berupa pasukan, sistem radar, dan sistem pertahanan.

Macron juga menyinggung dampak ketegangan terhadap harga energi di Prancis dan Eropa. Menurut dia, harga energi telah naik sekitar 20 hingga 30 persen sepanjang musim panas dan kembali meningkat akibat ketegangan yang berlangsung. Ia mengatakan pemerintah Prancis telah melepas cadangan energi dan memiliki stok gas untuk beberapa pekan hingga beberapa bulan ke depan.

Direktur Proyek Teluk dan Semenanjung Arab pada International Crisis Group, Yasmine Farouk, menilai langkah Prancis dapat membuka ruang bagi negara Eropa lain untuk meningkatkan dukungan terhadap Saudi. Pandangan tersebut merupakan analisis Farouk, bukan pengumuman mengenai rencana negara Eropa lainnya.

Pengumuman Macron datang tiga hari setelah pertemuan tingkat menteri Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Prancis di New York pada 21 September. Pertemuan tersebut dipimpin bersama Menteri Luar Negeri Bahrain sekaligus Ketua Dewan Menteri GCC Abdullatif bin Rashid Al Zayani dan Menteri Eropa dan Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot.

Pertemuan membahas kerja sama keamanan dan pertahanan, energi, serta keamanan jalur pelayaran. Pernyataan GCC mengenai pertemuan tersebut tidak mengumumkan pengerahan ke Yanbu.

Houthi tingkatkan ancaman terhadap pelayaran Saudi

Houthi pada 20 Juli mendeklarasikan blokade laut terhadap pelayaran yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah. Langkah tersebut meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan dan ekspor energi Kerajaan melalui kawasan Laut Merah dan Bab Al-Mandab.

Pada 24 September, Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya mencegat dan menghancurkan enam rudal balistik yang disebut diarahkan ke Taif dan Yanbu.

Klaim mengenai enam rudal tersebut berasal dari otoritas Saudi. Associated Press melaporkan bahwa klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen, sementara Houthi pada saat itu belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Inggris dan Italia lebih dulu memperkuat kehadiran militer

Dua hari sebelum pengumuman Macron, pemerintah Inggris menyatakan telah memberikan dukungan militer defensif kepada Arab Saudi atas permintaan otoritas Saudi berupa pesawat pengisi bahan bakar udara RAF Voyager.

Dukungan itu melengkapi kontribusi Inggris sebelumnya, termasuk penempatan sistem pertahanan udara Sky Sabre beserta personel Royal Artillery di Pangkalan Udara King Fahd pada April.

Italia juga telah menempatkan detasemen jet tempur F-2000 Typhoon dalam peran defensif di kawasan Teluk sejak Maret. Pada 17 September, salah satu jet F-2000 Italia yang berada di darat terkena dampak serangan terhadap Pangkalan Udara King Fahd di Taif.

Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto mengonfirmasi bahwa pesawat tersebut terkena serangan dan tidak ada personel Italia yang cedera.

Pada 25 September, para panglima militer Arab Saudi, Pakistan, dan Turkiye bertemu di Riyadh untuk membahas perkembangan implementasi Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah yang diteken ketiga negara pada 7 Agustus.

Menurut Pakistan, pertemuan tersebut membahas struktur kelembagaan, kerja sama intelijen, koordinasi militer, dan integrasi kemampuan pertahanan. Ketiga pihak juga menegaskan kembali komitmen terhadap kerja sama pertahanan.

Sebelumnya, pada 19 September, Dewan Keamanan PBB mengecam serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan menegaskan hak inheren Kerajaan untuk membela diri sesuai dengan hukum internasional.

Arab Saudi sebut ancaman Bab Al-Mandab berdampak internasional

Dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan Arab Saudi sedang mempertahankan diri dan merespons serangan Houthi sesuai kebutuhan.

Faisal juga mengatakan Arab Saudi berkoordinasi dengan para sekutu internasional karena persoalan tersebut tidak hanya menyangkut Kerajaan.

Menurut Faisal, ancaman Houthi terhadap Selat Bab Al-Mandab dan pelayaran internasional merupakan risiko bagi stabilitas keamanan internasional. Karena itu, ia menilai penanganannya bukan hanya menjadi tanggung jawab Arab Saudi, tetapi juga komunitas internasional.

Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?

Perkembangan keamanan di Yanbu dan Taif menjadi informasi yang perlu dipantau pelaku industri travel haji dan umrah. Namun, laporan mengenai serangan tersebut tidak menyebut Makkah atau Masjidil Haram sebagai sasaran langsung.

Dampak perkembangan tersebut terhadap biaya penerbangan dari Indonesia juga belum dapat disimpulkan dari data yang tersedia. Macron memang menyebut kenaikan harga energi di Prancis dan Eropa, tetapi tidak ada data dalam laporan ini yang secara langsung menghubungkannya dengan biaya perjalanan jemaah Indonesia.

Pelaku industri dapat:

  • Memantau informasi resmi otoritas Saudi mengenai kondisi keamanan dan rute perjalanan.
  • Mengikuti informasi maskapai mengenai perubahan atau penyesuaian operasional penerbangan.
  • Mencermati perkembangan keamanan Laut Merah serta dampaknya terhadap transportasi dan logistik.

Catatan ASPHIRASI

Pengerahan aset militer Prancis ke Yanbu menjadi perkembangan terbaru dalam respons internasional terhadap meningkatnya ancaman di sekitar wilayah barat Arab Saudi. Sebelumnya, Inggris telah memberikan dukungan melalui RAF Voyager, sementara Italia mempertahankan detasemen jet tempur di kawasan Teluk.

Bagi penyelenggara haji dan umrah, perhatian utama tetap pada informasi resmi mengenai keamanan rute, operasional penerbangan, serta kondisi jalur pelayaran dan energi. Belum ada informasi dalam perkembangan ini yang menunjukkan gangguan langsung terhadap Makkah atau Masjidil Haram.

Perkembangan berikutnya mencakup kemungkinan dukungan negara Eropa lain, kondisi keamanan jalur Laut Merah, serta implementasi kerja sama pertahanan Arab Saudi, Pakistan, dan Turkiye setelah pertemuan para panglima militer pada 25 September.

Sumber: Arab News

Bagikan