Saudi Update

Harga Minyak Melandai Setelah Saudi Alirkan Pasokan Tambahan Lewat Oman

Harga Minyak Melandai Setelah Saudi Alirkan Pasokan Tambahan Lewat Oman

Harga minyak dunia kembali turun pada perdagangan Asia Jumat (18/9), memperpanjang pelemahan untuk sesi ketiga berturut-turut. Brent crude futures berada di sekitar US$103,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat sekitar US$100,88 per barel. Keduanya tetap berada di atas US$100 meski kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah mulai mereda.

Sehari sebelumnya, Brent dan WTI masing-masing turun sekitar US$3. Pelemahan harga terjadi setelah pasar mendapat sinyal bahwa sebagian pasokan minyak Arab Saudi masih dapat dialihkan melalui jalur alternatif. Reuters melaporkan Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah kepada kilang-kilang Asia melalui transfer kapal ke kapal di lepas pantai Pelabuhan Sohar, Oman, menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut.

Pasokan Saudi mulai dialihkan, tetapi gangguan belum selesai

Langkah melalui Oman membantu meredakan sebagian kekhawatiran mengenai pasokan setelah serangan terhadap jalur pipa East-West Arab Saudi. Jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut menghubungkan fasilitas minyak di wilayah timur Saudi dengan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Reuters melaporkan tiga stasiun pompa di sepanjang jalur tersebut mengalami kerusakan dalam serangan terbaru. Gangguan itu berdampak pada operasi menuju Yanbu, sementara Riyadh juga membatalkan sebagian pengiriman minyak kepada pelanggan di Eropa.

Saudi kemudian meningkatkan pengiriman alternatif melalui transfer antarkapal di sekitar Oman. Sejumlah analis menilai tambahan aliran tersebut baru dapat mengimbangi sebagian barel yang hilang akibat gangguan ekspor. Dengan demikian, penurunan harga minyak mencerminkan berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap skala gangguan pasokan, bukan berarti seluruh infrastruktur ekspor Saudi telah kembali normal.

Dalam kondisi lalu lintas energi melalui Selat Hormuz yang terganggu, Yanbu menjadi semakin penting sebagai jalur alternatif ekspor minyak Saudi. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan East-West Pipeline memang berfungsi mengalirkan minyak dari wilayah timur Saudi menuju Yanbu, sehingga memungkinkan sebagian ekspor menghindari Selat Hormuz.

Harga minyak masih di atas US$100

Harga minyak yang bertahan di atas US$100 menunjukkan tekanan pasar belum sepenuhnya hilang. Reuters melaporkan waktu pemulihan penuh jalur pipa masih belum pasti, meskipun Saudi memperkirakan sebagian kapasitas yang terdampak dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari.

Perkembangan tersebut membuat pasar kini menilai dua hal secara bersamaan: seberapa cepat infrastruktur Saudi dapat dipulihkan dan seberapa besar pasokan dapat dialihkan melalui jalur alternatif.

Data EIA menunjukkan bahwa sebelum gangguan terbaru, Selat Hormuz merupakan jalur yang sangat penting bagi perdagangan energi global. Pada 2024 dan kuartal pertama 2025, aliran melalui selat tersebut mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak lintas laut dunia dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk minyak global.

Apa artinya bagi industri travel umrah dan haji?

Pergerakan harga minyak relevan bagi industri perjalanan karena bahan bakar merupakan salah satu komponen besar biaya operasional maskapai. International Air Transport Association (IATA) memperkirakan bahan bakar menyumbang sekitar 31,4 persen dari total biaya operasional maskapai pada 2026.

Namun, turunnya harga minyak mentah tidak otomatis berarti tarif penerbangan atau harga paket umrah dan haji langsung turun. Harga jet fuel memiliki dinamika tersendiri. Kontrak pembelian bahan bakar, lindung nilai (hedging), nilai tukar, rute penerbangan, serta biaya operasional lainnya juga memengaruhi struktur biaya maskapai.

Karena itu, bagi penyelenggara perjalanan ibadah, harga Brent dan WTI lebih tepat dipantau sebagai salah satu indikator tekanan biaya penerbangan, bukan sebagai dasar tunggal untuk menentukan harga paket.

Perkembangan yang masih perlu dicermati antara lain:

  • pemulihan kapasitas East-West Pipeline dan operasi Yanbu;
  • keberlanjutan pengiriman minyak alternatif melalui Oman;
  • perkembangan lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz;
  • pergerakan harga jet fuel;
  • kebijakan harga dan operasional maskapai yang melayani perjalanan umrah dan haji.

Catatan ASPHIRASI

Harga minyak yang kembali turun menunjukkan sebagian tekanan pasar mulai mereda. Namun, Brent dan WTI masih berada di atas US$100 per barel, sementara pemulihan infrastruktur minyak Saudi belum sepenuhnya selesai.

Bagi industri perjalanan ibadah, perkembangan tersebut belum menjadi dasar untuk menyimpulkan adanya penurunan atau kenaikan langsung harga paket. Dampaknya baru dapat dinilai lebih jauh melalui perubahan harga jet fuel dan biaya penerbangan.

Penyelenggara perjalanan umrah dan haji perlu memantau perkembangan biaya penerbangan bersama informasi resmi dari maskapai sebelum melakukan penyesuaian harga kepada jemaah. Bagi jemaah, perubahan harga paket sebaiknya dilihat berdasarkan informasi dan ketentuan yang disampaikan penyelenggara, bukan semata-mata dari pergerakan harga minyak dunia.

Sumber: Arab News

Bagikan