
Badan Statistik Umum Arab Saudi atau General Authority for Statistics (GASTAT), yang dilansir Arab News, melaporkan tingkat inflasi tahunan Arab Saudi bertahan di 1,8 persen pada Agustus 2026. Angka ini sama dengan bulan Juli dan merupakan bulan keempat berturut-turut inflasi berada di level tersebut.
Indeks Harga Konsumen (CPI) tercatat naik 0,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. GASTAT menyebutkan kenaikan ini terutama didorong oleh naiknya harga kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lain sebesar 3,9 persen secara tahunan, kelompok makanan dan minuman sebesar 1,4 persen, serta kelompok transportasi sebesar 2 persen.
Dibandingkan negara tetangga di kawasan, inflasi Arab Saudi relatif lebih terkendali. Inflasi Oman naik ke 3,4 persen pada Agustus, sementara inflasi Yordania berada di 2,66 persen pada bulan yang sama.
Sewa dan makanan jadi penyumbang utama kenaikan harga konsumen
Menurut GASTAT, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lain menjadi kontributor utama inflasi tahunan dengan andil 0,8 poin persentase, disusul kelompok makanan dan minuman dengan andil 0,3 poin persentase, serta kelompok transportasi dengan andil 0,3 poin persentase.
Kenaikan pada kelompok perumahan sebesar 3,9 persen secara tahunan itu utamanya berasal dari kenaikan sewa aktual sebesar 3,9 persen. Sementara itu, secara bulanan, harga makanan dan minuman justru turun 0,1 persen, dan harga restoran serta layanan akomodasi turun 0,4 persen, penurunan bulanan terbesar di antara semua kelompok.
Ekonom Talat Hafiz mengatakan kepada Arab News bahwa dirinya tidak terlalu khawatir dengan kenaikan sewa di Riyadh saat ini. “Harga sewa biasanya merespons dengan tenggat waktu, mengingat adanya kontrak yang berjalan dan siklus perpanjangan. Jika kebijakan stabilisasi berjalan sesuai rencana, saya memperkirakan inflasi sewa akan melambat secara bertahap dalam beberapa kuartal mendatang,” katanya.
Harga kamar hotel naik 2,5 persen dan apartemen berperabot naik 2,8 persen dalam sebulan
Laporan terpisah GASTAT mengenai rata-rata harga barang dan jasa menunjukkan akomodasi hotel naik 2,5 persen secara bulanan, sementara apartemen berperabot naik 2,8 persen pada periode yang sama. Di sisi lain, harga paket liburan atau holiday package tercatat naik 4,7 persen secara tahunan yang turut mendorong kenaikan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,8 persen.
Indeks Harga Grosir turun secara bulanan, tetapi masih naik 4,6 persen secara tahunan
Indeks Harga Grosir (WPI) Arab Saudi tercatat naik 4,6 persen secara tahunan pada Agustus, turun dari 5 persen pada Juli. Secara bulanan, WPI justru turun 0,2 persen.
Secara tahunan, kenaikan WPI terutama didorong oleh kelompok barang transportasi lainnya, di luar produk logam, mesin, dan peralatan, yang naik 8,2 persen. Kenaikan itu antara lain dipengaruhi oleh harga bahan kimia dasar yang melonjak 51,4 persen dan produk minyak olahan yang naik 4 persen.
Hafiz menjelaskan kenaikan WPI perlu dicermati meski tidak berarti inflasi konsumen akan naik dalam besaran yang sama. Ia menambahkan bahwa kenaikan biaya bahan kimia, energi, pengiriman, dan asuransi maritim dapat menaikkan biaya produsen, khususnya untuk bahan baku impor, namun sejauh ini sebagian besar tekanan tersebut masih diserap sepanjang rantai pasok dan belum sepenuhnya dibebankan ke konsumen.
Apa artinya bagi travel dan jemaah umrah Indonesia?
Data tidak menyebutkan secara langsung dampak inflasi ini terhadap harga paket umrah dari Indonesia. Namun, kenaikan biaya akomodasi hotel sebesar 2,5 persen dan apartemen berperabot sebesar 2,8 persen secara bulanan, ditambah kenaikan sewa aktual 3,9 persen secara tahunan, merupakan komponen yang berpotensi memengaruhi biaya layanan akomodasi yang digunakan dalam perjalanan umrah.
Hal ini perlu dicermati oleh penyelenggara umrah karena biaya akomodasi merupakan salah satu komponen dalam paket perjalanan.
Beberapa hal yang perlu dipantau oleh penyelenggara umrah dan jemaah antara lain:
- Tren harga akomodasi hotel dan apartemen berperabot dalam beberapa bulan mendatang, mengingat kenaikan bulanan yang tercatat pada Agustus.
- Perkembangan kebijakan pembekuan sewa di Riyadh dan dampaknya terhadap pasar akomodasi di wilayah tersebut.
- Pergerakan Indeks Harga Grosir yang menurut Hafiz belum sepenuhnya diteruskan ke konsumen, namun tetap perlu dicermati jika tekanan biaya produsen berlanjut.
Catatan ASPHIRASI
Data GASTAT menunjukkan inflasi Arab Saudi masih tertahan di 1,8 persen pada Agustus 2026, sementara biaya perumahan dan sejumlah harga akomodasi mengalami kenaikan. Data tersebut belum menunjukkan dampak langsung terhadap harga paket umrah dari Indonesia.
Penyelenggara umrah dapat mempertimbangkan untuk memantau perkembangan biaya akomodasi di Arab Saudi secara berkala, termasuk kontrak dengan mitra hotel, agar dapat mengantisipasi kemungkinan perubahan biaya operasional pada periode mendatang.
Hal yang perlu dipantau selanjutnya adalah apakah tren kenaikan bulanan pada harga hotel dan apartemen berperabot berlanjut pada laporan GASTAT edisi berikutnya, serta apakah kebijakan stabilisasi sewa di Riyadh benar-benar meredakan inflasi perumahan seperti yang diperkirakan Hafiz dalam beberapa kuartal mendatang.
Sumber: Arab News




