Saudi Update

Impor Jasa Saudi Naik 8,4 Persen pada Kuartal II 2026 Didorong Belanja Perjalanan

Impor Jasa Saudi Naik 8,4 Persen pada Kuartal II 2026 Didorong Belanja Perjalanan

Otoritas Statistik Umum Arab Saudi atau GASTAT mencatat impor jasa Arab Saudi naik 8,4 persen secara kuartalan pada kuartal II 2026, menjadi SR120,8 miliar atau sekitar US$32,16 miliar.

Nilai tersebut meningkat dari sekitar SR111,4 miliar pada kuartal I 2026. Kenaikan terutama tercermin pada nilai impor jasa transportasi, perjalanan, serta jasa bisnis lainnya.

Jasa transportasi menjadi komponen impor jasa terbesar dengan nilai SR34,1 miliar. Di dalam kategori tersebut, transportasi laut menyumbang sekitar 40,8 persen dari total impor jasa transportasi, diikuti transportasi udara dan darat.

Impor jasa perjalanan tercatat naik 17 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi sekitar SR25 miliar. Perjalanan pribadi (personal travel) menyumbang sekitar 92 persen dari total impor jasa perjalanan.

Jasa bisnis dan konstruksi turut menopang impor

GASTAT mencatat nilai impor jasa bisnis lainnya mencapai SR18,8 miliar. Jasa konsultasi profesional dan manajemen menyumbang sekitar 50,8 persen dari nilai kategori tersebut.

Sementara itu, impor jasa konstruksi mencapai SR14,5 miliar. Impor jasa pemerintah tercatat sebesar SR7,3 miliar, disusul jasa asuransi dan dana pensiun sebesar SR6 miliar, serta jasa komunikasi, komputer, dan informasi sekitar SR4 miliar.

Sisa nilai impor jasa tersebar pada jasa manufaktur, jasa pribadi, budaya dan rekreasi, jasa keuangan, biaya penggunaan kekayaan intelektual, serta jasa pemeliharaan dan perbaikan.

Kenaikan impor jasa ini muncul di tengah ekspansi sektor pariwisata Saudi. Kementerian Pariwisata Arab Saudi mencatat jumlah wisatawan domestik dan mancanegara mencapai sekitar 123 juta pada 2025, naik sekitar 6 persen. Belanja pariwisata pada tahun yang sama meningkat sekitar 7 persen menjadi rekor SR303,7 miliar.

Namun, pertumbuhan sektor pariwisata secara umum tidak serta-merta berarti bahwa kenaikan impor jasa perjalanan secara langsung mencerminkan peningkatan kunjungan wisatawan asing ke Saudi atau kenaikan biaya perjalanan ibadah.

Ekspor jasa turun 16,5 persen

Berbeda dengan impor, nilai ekspor jasa Arab Saudi pada kuartal II 2026 turun 16,5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi SR59,5 miliar.

Menurut GASTAT, penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya ekspor jasa perjalanan sebesar 23,6 persen secara kuartalan. Meski demikian, jasa perjalanan tetap menjadi kategori ekspor jasa terbesar dengan nilai SR33,8 miliar, atau 56,8 persen dari total ekspor jasa Arab Saudi pada periode tersebut.

Perjalanan pribadi menyumbang sekitar 93,9 persen dari nilai ekspor jasa perjalanan. Jasa transportasi berada di posisi kedua dengan nilai SR10,5 miliar, dengan transportasi udara menyumbang sekitar 39 persen dari total ekspor jasa transportasi.

Ekspor jasa komunikasi, komputer, dan informasi mencapai SR2,6 miliar, dengan jasa komunikasi menyumbang sekitar 50,9 persen. Jasa bisnis lainnya tercatat sebesar SR2,3 miliar, dengan jasa konsultasi profesional dan manajemen menyumbang sekitar 51,7 persen.

Sementara itu, ekspor jasa konstruksi dan jasa pemerintah masing-masing mencapai SR1,8 miliar. Nilai ekspor jasa keuangan tercatat sebesar SR1,5 miliar.

Apa artinya bagi travel Indonesia?

Data GASTAT belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa biaya paket umrah dari Indonesia akan naik. Dalam metodologi perdagangan jasa, impor jasa merujuk pada jasa yang dibeli oleh residen Saudi dari pihak nonresiden.

Dengan demikian, kenaikan impor jasa perjalanan sebesar 17 persen pada kuartal II 2026 lebih tepat dibaca sebagai peningkatan nilai transaksi jasa perjalanan lintas negara oleh residen Saudi. Angka tersebut bukan ukuran langsung bagi jumlah jemaah asing, tarif hotel di Makkah dan Madinah, biaya transportasi darat, maupun harga paket umrah dari Indonesia.

Bagi penyelenggara perjalanan ibadah di Indonesia, data ini tetap relevan sebagai indikator ekonomi jasa Saudi. Namun, penilaian terhadap potensi perubahan harga paket umrah dan haji perlu didasarkan pada data yang lebih langsung, seperti:

  • Tarif penerbangan rute Indonesia–Arab Saudi
  • Harga akomodasi di Makkah dan Madinah
  • Biaya transportasi lokal serta layanan darat
  • Kebijakan visa dan layanan resmi perjalanan ibadah
  • Pergerakan kurs rupiah terhadap riyal Saudi
  • Kebijakan kuota dan pengaturan operasional haji maupun umrah

Catatan ASPHIRASI

Data GASTAT menunjukkan nilai impor jasa perjalanan Saudi meningkat 17 persen secara kuartalan menjadi sekitar SR25 miliar pada kuartal II 2026. Angka itu mencerminkan kenaikan transaksi jasa perjalanan lintas negara oleh residen Saudi, tetapi belum cukup untuk membuktikan adanya kenaikan biaya perjalanan umrah bagi jemaah Indonesia.

Penyelenggara perjalanan ibadah umrah dan haji di Indonesia perlu memantau data resmi GASTAT dan Kementerian Pariwisata Arab Saudi sebagai indikator makro. Namun, proyeksi harga paket perjalanan ke Tanah Suci sebaiknya juga bertumpu pada data biaya operasional yang spesifik, terutama transportasi udara, akomodasi, layanan darat, kebijakan visa, dan nilai tukar rupiah terhadap riyal Saudi.

Sumber: Arab News

Bagikan