
RIYADH – Pergerakan penumpang melalui pelabuhan darat Arab Saudi mencapai lebih dari 70,7 juta orang sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan pertumbuhan mobilitas lintas batas di kawasan Kerajaan.
Mengutip laporan Arab News, Kamis (5/11/2026), data tersebut berasal dari publikasi Road Transport Statistics 2025 yang diterbitkan General Authority for Statistics (GASTAT), otoritas statistik Arab Saudi.
Dari total pergerakan tersebut, penumpang yang masuk ke Arab Saudi tercatat lebih dari 37 juta orang atau 52,3 persen. Sementara itu, jumlah penumpang yang keluar mencapai sekitar 33,7 juta orang atau 47,7 persen dari keseluruhan lalu lintas.
Pertumbuhan ini berlangsung di tengah upaya pemerintah Saudi memperkuat konektivitas transportasi dan logistik melalui National Transport and Logistics Strategy. Strategi tersebut menargetkan lebih dari 300 juta penumpang udara, sekaligus meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi dan posisi Arab Saudi dalam jaringan logistik global.
Di sektor pariwisata, pemerintah Saudi juga memiliki target tersendiri melalui National Tourism Strategy, yakni menarik 150 juta wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahun pada 2030, dibandingkan 67 juta pada 2021.
King Fahd Causeway Dominasi Lalu Lintas Penumpang
Berdasarkan laporan GASTAT, King Fahd Causeway menjadi pelabuhan darat dengan kontribusi terbesar terhadap pergerakan penumpang, yakni 49,1 persen dari total lalu lintas. Posisi berikutnya ditempati Pelabuhan Al-Khafji dengan kontribusi 12,2 persen.
Dari sisi waktu, Januari menjadi bulan dengan aktivitas penumpang tertinggi, mencapai lebih dari 7,4 juta orang. Sebaliknya, Maret mencatat volume terendah dengan sekitar 4,6 juta penumpang.
Data tersebut memperlihatkan besarnya peran jalur darat dalam mobilitas lintas batas Arab Saudi, terutama melalui konektivitas dengan negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Joseph Salem, partner pada praktik perjalanan dan transportasi di firma konsultan manajemen Arthur D. Little, menilai tingginya jumlah penumpang tersebut menunjukkan semakin pentingnya transportasi darat bagi mobilitas regional dan konektivitas lintas batas.
Menurut Salem, perjalanan darat masih memiliki daya saing karena fleksibilitas, kemudahan akses, dan efisiensi biaya, khususnya untuk perjalanan jarak pendek hingga menengah di kawasan Gulf Cooperation Council (GCC) atau Dewan Kerja Sama Teluk.
Ia juga mengaitkan permintaan transportasi darat dengan pertumbuhan pariwisata, perjalanan bisnis, kunjungan keluarga, serta integrasi regional yang semakin kuat.
Angkutan Barang Melalui Pelabuhan Darat Ikut Meningkat
Selain pergerakan penumpang, GASTAT mencatat peningkatan volume angkutan barang melalui pelabuhan darat Arab Saudi sepanjang 2025.
Total volume kargo ekspor dan impor mencapai lebih dari 26,8 juta ton, meningkat 4,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ekspor tercatat sebesar 14,3 juta ton atau tumbuh 6,3 persen. Sementara itu, volume impor mencapai 12,5 juta ton, meningkat 2,4 persen.
Pelabuhan Al-Batha mencatat kontribusi terbesar dalam aktivitas perdagangan tersebut, dengan porsi 27,9 persen dari total ekspor dan 31,9 persen dari total impor.
Sementara itu, Pelabuhan Al-Hadithah menyumbang 23,2 persen dari volume ekspor, sedangkan Riyadh Dry Port menangani 26 persen dari total impor.
Apa Relevansinya bagi Industri Haji dan Umrah Indonesia?
Kenaikan lalu lintas penumpang melalui pelabuhan darat Arab Saudi perlu dibaca sesuai cakupan datanya. Angka 70,7 juta tersebut merupakan gabungan pergerakan penumpang masuk dan keluar melalui perbatasan darat, bukan jumlah wisatawan asing maupun jemaah haji dan umrah secara khusus.
Pelabuhan seperti King Fahd Causeway dan Al-Khafji melayani konektivitas darat regional. Jalur tersebut berbeda dari akses penerbangan internasional yang umum digunakan jemaah haji dan umrah asal Indonesia.
Karena itu, pertumbuhan 7,2 persen tersebut belum dapat dijadikan indikator langsung peningkatan jumlah jemaah Indonesia atau kebutuhan kapasitas penerbangan dari Indonesia menuju Arab Saudi.
Meski demikian, perkembangan ini tetap relevan bagi industri perjalanan haji dan umrah sebagai bagian dari arah pembangunan transportasi Saudi.
Target lebih dari 300 juta penumpang udara dalam National Transport and Logistics Strategy, misalnya, menjadi salah satu indikator ambisi pemerintah Saudi dalam memperluas konektivitas penerbangan. Sementara target 150 juta wisatawan pada 2030 mencerminkan agenda pengembangan pariwisata yang lebih luas.
Bagi penyelenggara perjalanan haji dan umrah, perkembangan tersebut layak dicermati bersama kebijakan penerbangan, ketersediaan kapasitas transportasi, serta peningkatan infrastruktur di Arab Saudi.
Catatan ASPHIRASI
Pertumbuhan lalu lintas penumpang di pelabuhan darat menunjukkan bahwa pengembangan konektivitas Arab Saudi tidak hanya berlangsung melalui sektor penerbangan. Transportasi darat juga memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas regional, pariwisata, dan aktivitas ekonomi lintas batas.
Namun, bagi industri haji dan umrah Indonesia, relevansi perkembangan tersebut perlu ditempatkan secara proporsional. Peningkatan pergerakan penumpang di perbatasan darat tidak otomatis mencerminkan pertumbuhan perjalanan jemaah internasional, terlebih jemaah yang berasal dari Indonesia.
Hal yang lebih penting untuk dipantau adalah bagaimana strategi transportasi Saudi diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas, kualitas layanan, dan konektivitas penerbangan internasional. Aspek-aspek tersebut memiliki hubungan yang lebih langsung dengan kebutuhan perjalanan jemaah Indonesia menuju Tanah Suci.
Sumber: Arab News




