Saudi Update

Anomali, Fasilitas Hotel Saudi Naik 17,9 Persen, Okupansi dan Tarif Kamar Justru Turun

Anomali, Fasilitas Hotel Saudi Naik 17,9 Persen, Okupansi dan Tarif Kamar Justru Turun

Jumlah fasilitas pariwisata berlisensi di Arab Saudi, termasuk hotel dan apartemen berlayanan, tercatat naik 17,9 persen pada kuartal kedua tahun ini dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Data ini dirilis Otoritas Statistik Umum Arab Saudi atau General Authority for Statistics (GASTAT) dan dilansir Arab News.

Menurut GASTAT, total fasilitas pariwisata berlisensi mencapai 6.278 unit pada kuartal kedua, naik dari 5.326 unit pada periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, apartemen berlayanan dan fasilitas hospitality sejenis mendominasi dengan 3.258 unit atau 51,9 persen dari total, sementara hotel tercatat sebanyak 3.020 unit.

Perluasan pasokan akomodasi ini berjalan seiring agenda diversifikasi ekonomi Visi Saudi 2030 di sektor pariwisata. Arab Saudi telah melampaui target awal 100 juta wisatawan tahunan pada 2023, tujuh tahun lebih cepat dari rencana, dan sejak itu menaikkan target 2030 menjadi 150 juta wisatawan domestik dan mancanegara.

Pasokan kamar hotel dan apartemen tumbuh dua digit, okupansi justru melemah

GASTAT mencatat jumlah kamar hotel berlisensi bertambah 13,2 persen, sementara kamar di apartemen berlayanan dan fasilitas hospitality lain bertambah 19,7 persen dibanding kuartal kedua 2025. Dalam laporannya, GASTAT menyebut pasokan kamar berlisensi terus berkembang secara signifikan.

Namun pertumbuhan pasokan ini tidak diikuti kenaikan tingkat hunian. Tingkat okupansi kamar hotel di Arab Saudi berada di 51 persen pada kuartal kedua, turun 2,2 poin persentase dari 53,2 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Okupansi apartemen berlayanan dan fasilitas sejenis juga turun ke 46,5 persen, dari sebelumnya 50,2 persen, atau turun 3,7 poin persentase.

Tarif rata-rata kamar hotel turun 12,4 persen menjadi sekitar 150 dolar AS per malam

Tarif rata-rata harian kamar hotel tercatat sekitar 563 riyal Saudi atau sekitar 150,40 dolar AS, turun 12,4 persen dari 643 riyal Saudi pada kuartal kedua 2025. Tarif rata-rata apartemen berlayanan dan fasilitas sejenis turun 2,1 persen menjadi 197 riyal Saudi, dari sebelumnya 201 riyal Saudi.

Di sisi lain, rata-rata lama menginap tamu hotel justru naik menjadi sekitar 5 malam, naik 3,3 persen dari 4,8 malam pada tahun sebelumnya. Sementara rata-rata lama menginap di apartemen berlayanan tercatat sekitar 2 malam, hampir tidak berubah dibanding kuartal kedua 2025.

Apa artinya bagi travel dan jemaah umrah serta haji Indonesia?

Data GASTAT ini bersifat nasional dan mencakup seluruh fasilitas hospitality berlisensi di Arab Saudi, tanpa merinci angka khusus untuk kota-kota tujuan ibadah. Karena itu, penurunan tarif rata-rata kamar hotel secara nasional belum dapat dipastikan mencerminkan tren harga akomodasi khusus musim umrah atau haji, meski tetap menjadi indikator pasar yang perlu dicermati oleh penyelenggara perjalanan ibadah di Indonesia.

Akomodasi merupakan salah satu komponen biaya yang diperhitungkan dalam penyusunan paket perjalanan umrah dan haji. Tren pertumbuhan pasokan kamar yang disertai penurunan okupansi menjadi salah satu indikator yang perlu dipantau dalam proses negosiasi kontrak hotel oleh penyelenggara. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Memantau rilis data okupansi dan tarif kamar spesifik untuk kota-kota tujuan ibadah pada periode berikutnya, karena data GASTAT yang tersedia bersifat agregat nasional.
  • Mencermati apakah tren pasokan kamar yang tumbuh disertai penurunan okupansi ini berlanjut menjelang musim umrah dan haji mendatang.
  • Membandingkan tarif kontrak hotel yang ditawarkan mitra di Arab Saudi dengan tren tarif rata-rata nasional sebagai salah satu referensi negosiasi.

Catatan ASPHIRASI

Data GASTAT menunjukkan pasokan fasilitas dan kamar hospitality di Arab Saudi tumbuh signifikan pada kuartal kedua, namun okupansi dan tarif rata-rata kamar hotel justru melemah dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini relevan sebagai konteks pasar akomodasi secara umum, meski belum dapat dipastikan berdampak langsung pada biaya akomodasi jemaah umrah dan haji Indonesia karena data yang dirilis bersifat nasional, bukan per kota tujuan ibadah.

Penyelenggara travel umrah dan haji di Indonesia perlu mencermati data pasokan dan tarif hospitality nasional Arab Saudi ini sebagai salah satu referensi saat menegosiasikan kontrak akomodasi untuk musim mendatang, tanpa serta-merta menyimpulkan bahwa biaya akomodasi di kota tujuan ibadah akan bergerak searah dengan tren nasional tersebut.

Ke depan, perlu dipantau apakah tren penurunan okupansi dan tarif kamar hotel nasional ini berlanjut pada rilis data GASTAT kuartal berikutnya, serta apakah otoritas terkait akan merilis rincian data khusus untuk kota-kota tujuan ibadah yang dapat menjadi acuan lebih akurat bagi industri umrah dan haji Indonesia.

Sumber: Arab News

Bagikan