Saudi Update

Arab Saudi Uji Agen AI untuk Kargo Udara hingga Koordinasi Perjalanan Wisata

Arab Saudi Uji Agen AI untuk Kargo Udara hingga Koordinasi Perjalanan Wisata

Arab Saudi mulai memperluas peran kecerdasan buatan (AI) dari sekadar menjawab pertanyaan atau membuat konten menjadi pelaksana tugas operasional, mulai dari menyiapkan penawaran kargo udara hingga mengoordinasikan rencana perjalanan wisatawan. Menurut laporan Arab News yang terbit pada 22 Oktober dan diperbarui pada 23 Oktober 2026, penerapan ini berlangsung di dua sektor penting dalam agenda diversifikasi ekonomi Arab Saudi melalui Visi 2030, yaitu logistik dan pariwisata.

Di Saudia Cargo, agen AI dilibatkan dalam operasional komersial untuk memproses permintaan pelanggan dan membuat penawaran tarif pengiriman. Sementara itu, inisiatif yang melibatkan Red Sea Global dan AlUla mengeksplorasi bagaimana agen AI yang mewakili destinasi berbeda dapat saling berkoordinasi untuk menyusun perjalanan wisatawan.

Kedua inisiatif ini menunjukkan pergeseran menuju penggunaan AI yang tidak hanya membantu karyawan, tetapi juga menjalankan rangkaian tugas lintas sistem digital. Meski demikian, tingkat penerapan dan fungsi sistem pada kedua proyek tersebut berbeda.

Agen AI Saudia Cargo Mampu Susun Penawaran Kargo dalam Hitungan Detik

Menurut Saudia Cargo, agen AI mereka dapat memproses permintaan tarif pengiriman rutin, membandingkan opsi rute multi-tahap, dan menyiapkan penawaran yang dipersonalisasi dalam hitungan detik. Sistem ini juga dapat memilih tingkat layanan khusus, termasuk kargo farmasi dan kargo segar, berdasarkan kebutuhan pelanggan.

Hisham Malakah, wakil presiden layanan bersama di Saudia Cargo, mengatakan kepada Arab News bahwa penerapan ini berbeda dari otomatisasi konvensional karena AI dapat menafsirkan permintaan pelanggan yang tidak terstruktur, bukan sekadar mengandalkan input baku.

"Yang membedakan penerapan ini dari otomatisasi lama atau chatbot dasar adalah bahwa kami tidak sekadar memperkenalkan alat yang berdiri sendiri, melainkan infrastruktur digital fundamental yang dirancang untuk memperkuat ekosistem logistik penerbangan secara lebih luas," ujar Malakah.

Malakah menjelaskan, agen AI tersebut dapat mengklasifikasikan permintaan penawaran melalui email dalam berbagai bahasa sembari mempertahankan konteks sepanjang proses penawaran. Karena terhubung dengan sistem komersial maskapai, agen AI ini dapat mengakses data kapasitas, jadwal penerbangan, tarif khusus pelanggan, dan parameter layanan.

"Agen AI ini secara mandiri menangani proses menyeluruh atas permintaan tarif rutin melalui email, mulai dari mengklasifikasikan peluang penjualan dan menyaring permintaan masuk, menghitung opsi multi-tahap yang kompleks, memilih tingkat layanan yang sesuai seperti Specialized Pharma atau Specialized Fresh, hingga menyusun penawaran lengkap dan personal dalam hitungan detik," katanya.

Permintaan yang tidak standar atau bernilai tinggi tetap dialihkan ke tim penjualan manusia. Setiap tindakan agen AI juga tercatat dan dapat diaudit sesuai batasan komersial yang ditetapkan Saudia Cargo.

Agen Destinasi Laut Merah dan AlUla Dikembangkan untuk Koordinasi Perjalanan Wisatawan

Globant dan Tourise mengembangkan kerangka kerja bernama Agentic Protocol for Tourism sebagai acuan koordinasi lintas sistem dalam industri perjalanan. Kerangka ini hendak diterapkan melalui Agentic Tourism Corridor, dengan Red Sea Global dan AlUla sebagai dua destinasi awal.

Federico Pienovi, CEO Globant untuk wilayah Asia Pasifik serta Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan kepada Arab News bahwa inisiatif tersebut menuntut agen dari destinasi berbeda untuk berkoordinasi meskipun menggunakan sistem dan kebijakan yang berbeda.

Ia mencontohkan, agen yang mewakili Red Sea Global dapat mengenali peluang untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan, lalu menghubungi agen AlUla guna memeriksa ketersediaan dan menyusun rencana perjalanan.

"Kedua agen itu kemudian mengatur logistik di antara mereka sendiri, mulai dari transfer pribadi, pengalaman mengamati bintang, hingga kunjungan warisan saat golden hour, semua dikoordinasikan dan ditawarkan kepada tamu sebagai satu perjalanan yang mulus dan siap untuk disetujui," ujarnya.

Pienovi menjelaskan bahwa model ini tidak memindahkan seluruh data tamu antar destinasi, melainkan hanya bertukar informasi yang relevan untuk interaksi tertentu. Masing-masing destinasi tetap memegang kendali atas sistem dan hubungan pelanggannya.

Dalam skema tersebut, agen AI menangani interaksi dengan wisatawan, perencanaan, dan rekomendasi. Sementara itu, sistem berbasis aturan yang terpisah menangani pemesanan, pembayaran, dan kepatuhan.

Pengawasan manusia tetap menjadi bagian dari tata kelola. Peserta baru harus melalui pengujian dan persetujuan sebelum dapat mengakses data tamu secara langsung, sementara interaksi antaragen dicatat untuk keperluan audit.

Inisiatif ini membuka kemungkinan koordinasi layanan lintas destinasi tanpa mengharuskan setiap peserta membangun ulang seluruh sistemnya. Namun, contoh perjalanan yang dijelaskan dalam laporan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh alur sudah beroperasi secara komersial.

Apa Artinya bagi Travel dan Jemaah Indonesia?

Saudia Cargo menyebut penerapan AI ke depan akan meluas ke peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, penetapan harga dinamis, optimalisasi pendapatan, visibilitas pengiriman, dan analisis jaringan.

Di sektor pariwisata, Agentic Tourism Corridor berpotensi diperluas ke destinasi dan penyedia perjalanan lain, termasuk maskapai internasional, tanpa perlu membangun ulang sistem untuk setiap peserta baru.

Bagi biro travel haji dan umrah Indonesia, perkembangan ini perlu dicermati sebagai sinyal arah otomatisasi layanan perjalanan di Arab Saudi. Namun, laporan tersebut belum menyebut keterlibatan langsung maskapai haji dan umrah atau operator Indonesia dalam kedua proyek ini.

Beberapa hal yang perlu dipantau penyelenggara meliputi:

  • Otomatisasi logistik: apakah teknologi serupa nantinya diterapkan pada layanan kargo atau logistik yang berkaitan dengan pengiriman barang jemaah dan kebutuhan operasional haji dan umrah.
  • Perluasan koordinasi perjalanan: apakah Agentic Tourism Corridor akan melibatkan lebih banyak mitra, termasuk maskapai internasional yang melayani rute haji dan umrah.
  • Keamanan data dan pengawasan: bagaimana penyedia layanan Arab Saudi menjaga keamanan data pelanggan, menetapkan batas kewenangan agen AI, dan memastikan mekanisme pengawasan ketika otomatisasi diperluas.

Hal-hal tersebut masih merupakan potensi perkembangan yang perlu dipantau, bukan bukti bahwa sistem serupa telah diterapkan pada penyelenggaraan haji dan umrah Indonesia.

Catatan ASPHIRASI

Penerapan agen AI oleh Saudia Cargo dan pengembangan Agentic Tourism Corridor antara Red Sea Global dan AlUla menunjukkan bagaimana Arab Saudi mulai mengeksplorasi penggunaan AI untuk menjalankan tugas operasional logistik dan mengoordinasikan layanan pariwisata. Perkembangan ini berpotensi memengaruhi cara layanan perjalanan dikelola pada masa mendatang, meskipun laporan tersebut belum menunjukkan penerapan langsung pada ekosistem haji dan umrah.

Penyelenggara travel haji dan umrah dapat mempelajari perkembangan otomatisasi berbasis AI dalam pemrosesan permintaan pelanggan, penyusunan penawaran, dan koordinasi layanan antar mitra. Penerapan teknologi serupa tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan pengawasan manusia, keamanan data, serta pemisahan yang jelas antara fungsi AI dan sistem yang menangani transaksi atau kepatuhan.

Ke depan, perlu dipantau apakah Agentic Tourism Corridor dan sistem agen AI Saudia Cargo akan diperluas ke mitra baru, termasuk maskapai internasional. Perkembangan kerangka tata kelola, audit, dan pengelolaan data dalam kedua inisiatif tersebut juga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi industri perjalanan, termasuk penyelenggara haji dan umrah.

Sumber: Arab News

Bagikan