Saudi Update

Trump Pertimbangkan Serangan ke Houthi Usai Serangan ke-4 ke Bandara Riyadh

Trump Pertimbangkan Serangan ke Houthi Usai Serangan ke-4 ke Bandara Riyadh

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu (10/10/2026) bahwa pemerintahannya mungkin segera memutuskan untuk ikut melancarkan serangan udara terhadap milisi Houthi di Yaman. Menurut laporan Arab News, pernyataan itu disampaikan setelah serangkaian serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, termasuk serangan terbaru pada Sabtu.

“Kami akan melihatnya. Kami baru saja mengetahui serangan terbaru terhadap bandara Saudi itu, sehingga kami akan mengambil keputusan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. “Kami bergerak sangat cepat.”

Arab News melaporkan bahwa serangan terhadap Bandara King Khalid sejak Rabu telah menewaskan empat orang sebelum serangan terbaru pada Sabtu. Namun, angka tersebut kemudian diperbarui setelah otoritas penerbangan sipil Arab Saudi mengumumkan jumlah korban dari serangan Sabtu.

Menurut pernyataan lanjutan General Authority of Civil Aviation (GACA) yang diberitakan pada Minggu (11/10/2026), serangan Sabtu menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Korban meninggal terdiri atas empat warga Saudi dan delapan warga negara asing. Hingga laporan tersebut diterbitkan, sejumlah korban luka masih dalam kondisi kritis.

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi konfirmasi 12 korban tewas

Dalam pernyataan awal pada Sabtu, GACA menyebut operasional Bandara King Khalid dihentikan sementara setelah serangan untuk memungkinkan pemeriksaan kerusakan dan memastikan keamanan fasilitas bandara.

Pernyataan lanjutan GACA menyebut serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan material yang masih dalam proses penilaian. Sejumlah korban luka telah menerima perawatan medis di rumah sakit.

Koalisi pimpinan Arab Saudi yang bertempur melawan Houthi di Yaman menuding kelompok tersebut bertanggung jawab atas serangan terhadap terminal penumpang Bandara King Khalid. Juru bicara koalisi menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang dan menyatakan pihaknya akan memberikan respons tegas sesuai hukum humaniter internasional.

Namun, Al Jazeera melaporkan bahwa Houthi belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru tersebut.

Koalisi pendukung legitimasi Yaman hantam lebih dari 130 sasaran Houthi

Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman menyatakan pada Jumat bahwa pihaknya telah melancarkan “operasi berskala besar” terhadap Houthi, dengan lebih dari 130 sasaran dilaporkan dihancurkan.

Menurut laporan Arab News, koalisi belakangan meningkatkan serangan udara terhadap posisi Houthi, bersamaan dengan ofensif yang dilakukan pasukan yang loyal kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Pasukan tersebut berupaya mendesak Houthi keluar dari wilayah di sekitar Selat Bab Al-Mandab yang strategis. Menurut laporan Arab News, wilayah tersebut direbut kelompok Houthi pada bulan sebelumnya.

Posisi di sekitar jalur pelayaran itu menjadi perhatian karena Bab Al-Mandab merupakan rute penting bagi pelayaran internasional. Houthi sebelumnya juga pernah menyerang kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut.

Militer AS pernah melancarkan operasi serangan udara dan laut selama delapan minggu terhadap Houthi pada tahun sebelumnya, setelah kelompok itu menyerang puluhan kapal di Laut Merah. Menurut Arab News, operasi tersebut merupakan operasi militer besar pertama pada periode kedua kepemimpinan Trump, dengan sasaran antara lain sistem radar serta lokasi peluncuran rudal balistik dan drone.

Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?

Ancaman kemungkinan keterlibatan militer AS terhadap Houthi, di tengah serangkaian serangan terhadap Bandara King Khalid di Riyadh, menjadi perkembangan keamanan regional yang perlu dicermati pelaku industri perjalanan haji dan umrah Indonesia.

Serangan yang dibahas dalam laporan ini terjadi di Riyadh. Belum ada informasi dalam sumber yang digunakan untuk artikel ini yang menunjukkan bahwa Makkah atau Madinah menjadi sasaran dalam insiden tersebut. Meski demikian, eskalasi konflik berpotensi menimbulkan risiko gangguan penerbangan apabila berdampak pada operasional bandara atau kebijakan keselamatan penerbangan di kawasan.

Sejumlah langkah yang dapat dilakukan penyelenggara perjalanan meliputi:

  • Memantau pengumuman resmi mengenai status operasional Bandara King Khalid International di Riyadh.
  • Memastikan jadwal dan status penerbangan melalui maskapai atau agen penerbangan terkait.
  • Meninjau klausul force majeure dalam kontrak perjalanan dan polis asuransi sesuai ketentuan yang berlaku.
  • Menyiapkan prosedur komunikasi kepada jemaah jika terjadi penundaan, pembatalan, atau perubahan rute penerbangan.

Langkah-langkah tersebut merupakan rekomendasi mitigasi risiko, bukan konfirmasi bahwa penerbangan haji dan umrah dari Indonesia telah mengalami gangguan akibat serangan di Riyadh.

Catatan ASPHIRASI

Serangan berulang terhadap Bandara King Khalid di Riyadh dan kemungkinan keterlibatan AS dalam operasi militer terhadap Houthi menambah ketidakpastian situasi keamanan di kawasan. Namun, dampak langsung terhadap penerbangan jemaah Indonesia perlu dinilai berdasarkan perkembangan operasional bandara, pemberitahuan maskapai, dan informasi resmi otoritas penerbangan.

Penyelenggara perjalanan haji dan umrah disarankan menjaga komunikasi aktif dengan maskapai serta memantau pengumuman otoritas terkait. Langkah antisipasi juga perlu disiapkan untuk menghadapi kemungkinan penundaan atau pengalihan penerbangan apabila kondisi keamanan memengaruhi operasional penerbangan.

Perkembangan keputusan AS terkait kemungkinan serangan terhadap Houthi, status operasional Bandara King Khalid, serta dinamika konflik di sekitar Selat Bab Al-Mandab masih perlu dicermati. Meski berpotensi memengaruhi kondisi penerbangan regional, dampak spesifik terhadap perjalanan dari dan ke Arab Saudi tetap perlu dikonfirmasi berdasarkan informasi terbaru.

Sumber: Arab News

Bagikan