
Dilansir Al Jazeera pada 13 Oktober 2026, koalisi pimpinan Arab Saudi yang terlibat dalam konflik di Yaman menyatakan pasukannya kembali mencegat satu rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi ke arah Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Serangan ini terjadi untuk hari ketiga berturut-turut, di tengah rangkaian serangan yang telah menewaskan sedikitnya 14 orang dalam beberapa hari terakhir.
Juru bicara koalisi, Turki Al-Maliki, dalam pernyataan di platform X menyebut Houthi menembakkan satu rudal balistik ke Riyadh dan dua rudal ke arah Khamis Mushait, kota di wilayah administratif barat daya Arab Saudi. Warga Riyadh melaporkan beberapa ledakan kuat pada Senin malam, tak lama setelah ponsel mereka menerima pesan singkat berisi peringatan ancaman serangan udara.
Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk padat di Yaman termasuk ibu kota Sanaa, menyatakan target serangan mereka di Riyadh adalah Bandara Internasional King Khalid. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan kelompoknya juga mengirim drone ke pangkalan udara militer di Khamis Mushait, dekat perbatasan Yaman. Saree kembali memperingatkan maskapai dan wisatawan internasional agar tidak mengoperasikan penerbangan ke bandara-bandara di Arab Saudi, kecuali di kota suci Mekkah dan Madinah, karena menilai fasilitas lain itu tidak aman.
Bandara King Khalid ditutup hingga Sabtu setelah dua serangan akhir pekan
Rangkaian serangan terbaru ini menyusul serangan Sabtu yang menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang, serta serangan Minggu yang menewaskan 1 orang dan melukai 11 orang lainnya. Otoritas Arab Saudi menyatakan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh akan tetap tertutup hingga Sabtu mendatang, dan sejumlah maskapai telah membatalkan penerbangan mereka ke bandara tersebut.
Selain menyasar bandara, Houthi juga tercatat menyerang fasilitas minyak milik Arab Saudi dalam rangkaian serangan beberapa pekan terakhir. Serangan ini berlangsung di tengah perang Houthi melawan pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, sementara koalisi pimpinan Arab Saudi menjalankan kampanye udara untuk mendukung pasukan darat pemerintah Yaman.
Otoritas Saudi selidiki kegagalan pertahanan udara mencegat serangan
Menurut dua pejabat regional yang berbicara kepada The Associated Press secara anonim, otoritas Arab Saudi telah membuka investigasi atas kegagalan sistem pertahanan udara menghentikan rangkaian serangan tersebut. Penyelidikan awal menemukan bahwa Houthi lebih dulu meluncurkan beberapa drone untuk membuka jalan bagi kombinasi rudal jelajah dan rudal balistik yang kemudian mencapai bandara.
Houthi diketahui memiliki rudal balistik dengan hulu ledak yang dapat mengubah arah saat melayang, sehingga menyulitkan sistem pencegat Patriot dan sistem pertahanan lain yang diandalkan Arab Saudi. Salah satu pejabat menyebut investigator juga ingin mengetahui mengapa tidak ada peringatan lebih awal, mengingat rudal dan drone tersebut menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer (620 mil) untuk mencapai Riyadh.
Maskapai internasional batalkan penerbangan ke Riyadh, agenda investasi ikut terdampak
Maskapai nasional Uni Emirat Arab, Etihad Airways, mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan ke dan dari Riyadh hingga pekan depan, serta menangguhkan penerbangan ke Dammam dan Jeddah. Maskapai nasional Bahrain, Gulf Air, juga membatalkan seluruh penerbangan ke Riyadh hingga Sabtu, sementara maskapai Amerika Serikat, Delta, menunda peluncuran penerbangan langsung dari Atlanta ke Riyadh yang sebelumnya dijadwalkan pada 23 Oktober.
Berbicara dalam konferensi energi di Riyadh, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al Saud menyatakan serangan terhadap bandara dalam sepekan terakhir telah menguji ketahanan kerajaan. "Peristiwa beberapa pekan terakhir ini serius. Respons kami harus sama seriusnya," ujarnya, sambil menambahkan bahwa Visi 2030 dan arus investasi harus terus berjalan. Situasi ini turut menekan sejumlah agenda di Riyadh bulan ini, termasuk konferensi investasi unggulan kerajaan dan WPC Energy Congress, tempat beberapa eksekutif minyak dilaporkan dicoret dari jadwal acara.
Apa artinya bagi travel dan jemaah umrah Indonesia?
Peringatan Houthi secara eksplisit mengecualikan kota suci Mekkah dan Madinah, yang menjadi tujuan utama penerbangan umrah dari Indonesia. Namun pembatalan beruntun oleh Etihad, Gulf Air, dan Delta ke Riyadh, serta penutupan Bandara King Khalid, menunjukkan bahwa gangguan operasional penerbangan di Arab Saudi masih berpotensi berlanjut dan perlu terus dicermati, terutama bagi itinerary yang melibatkan transit di Riyadh.
- Memantau status penerbangan dan pengumuman resmi maskapai serta otoritas bandara Arab Saudi sebelum keberangkatan jemaah
- Mengecek ulang rute dan titik transit penerbangan, khususnya yang melewati Riyadh atau Khamis Mushait
- Menyiapkan opsi komunikasi dan rencana cadangan bila terjadi perubahan jadwal mendadak akibat pembatalan penerbangan
Catatan ASPHIRASI
Penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh hingga Sabtu dan pembatalan penerbangan oleh Etihad, Gulf Air, serta penundaan rute baru Delta menjadi dampak konkret dari rangkaian serangan rudal Houthi yang berlangsung tiga hari berturut-turut. Meski rute umrah utama melalui Jeddah dan Madinah tidak termasuk dalam peringatan Houthi, gangguan pada jalur penerbangan lain di Arab Saudi tetap menjadi bagian dari situasi yang lebih luas yang perlu dipahami penyelenggara perjalanan.
Langkah praktis bagi penyelenggara travel umrah dan jemaah adalah memeriksa status penerbangan secara berkala melalui kanal resmi maskapai dan otoritas bandara sebelum hari keberangkatan, terutama bila itinerary bersinggungan dengan Riyadh atau kota lain yang disebut dalam peringatan Houthi. Komunikasi aktif dengan maskapai juga perlu dijaga agar perubahan jadwal dapat segera diketahui dan diantisipasi.
Ke depan, perlu dipantau hasil investigasi otoritas Arab Saudi terhadap kegagalan sistem pertahanan udara, kelanjutan status penutupan Bandara King Khalid setelah Sabtu, serta perkembangan ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi, termasuk potensi eskalasi apabila Amerika Serikat terlibat lebih jauh dalam konflik ini.
Sumber: Al Jazeera




