
Sekitar 400 tenaga medis dikerahkan untuk menangani korban serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober 2026. Dalam 10 jam pertama setelah insiden, tim medis juga melakukan 25 prosedur bedah, menurut keterangan Dr. Maad Al-Saati kepada Arab News.
Al-Saati merupakan kepala Departemen Bedah Ortopedi di Rumah Sakit Dr. Sulaiman Al-Habib, Riyadh. Ia terlibat dalam penanganan korban bersama tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas medis di ibu kota Arab Saudi tersebut.
Dokter yang memiliki pengalaman hampir dua dekade itu biasanya menangani kasus ortopedi, termasuk operasi lutut, penggantian sendi, kedokteran olahraga, dan prosedur berbantuan robot. Namun, insiden di bandara menuntut koordinasi lintas spesialisasi untuk menangani pasien dengan tingkat keparahan cedera yang berbeda-beda.
Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Berkoordinasi
Menurut penjelasan Al-Saati kepada Arab News, rumah sakit pemerintah dan swasta meningkatkan kesiagaan setelah insiden. Kementerian Kesehatan Saudi mengawasi kesiapan fasilitas kesehatan, sementara Dr. Sulaiman Al-Habib Medical Group berkoordinasi dengan kementerian dan rumah sakit lain dalam grup tersebut.
Koordinasi ini menjadi bagian dari upaya mengatur penanganan pasien dan distribusi tenaga medis sesuai kebutuhan di lapangan.
Respons tersebut melibatkan sejumlah unsur kesehatan, termasuk pusat kendali Dr. Sulaiman Al-Habib Medical Group, Pusat Manajemen Krisis dan Bencana Kementerian Kesehatan, serta Otoritas Bulan Sabit Merah Saudi.
Pusat Medis Bandara Membantu Penanganan Awal
Keberadaan tim ambulans dan pusat medis milik Dr. Sulaiman Al-Habib Medical Group di Bandara Internasional King Khalid turut mendukung penanganan awal korban.
Fasilitas tersebut menyediakan layanan pertolongan pertama dan perawatan darurat bagi pengguna bandara. Dalam insiden ini, tim medis di lokasi membantu memberikan penanganan sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Sejumlah pasien dibawa ke fasilitas kesehatan yang berbeda, termasuk King Abdullah bin Abdulaziz University Hospital di Princess Nourah University, Al-Sahafa Hospital, dan rumah sakit lain yang dikelola Dr. Sulaiman Al-Habib Medical Group.
Pengerahan tenaga medis dan rujukan antarfasilitas tersebut menjadi bagian dari respons yang melibatkan berbagai institusi kesehatan di Riyadh.
Triase Menentukan Prioritas Penanganan Pasien
Dalam wawancara yang dikutip Arab News, Al-Saati menjelaskan bahwa pasien dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan cedera untuk menentukan prioritas penanganan.
Pasien dengan cedera berat memperoleh penanganan segera. Sementara itu, pasien dengan cedera sedang mendapatkan perawatan darurat sebelum menjalani prosedur lanjutan apabila diperlukan. Pasien dengan cedera ringan ditangani dan dapat dipulangkan setelah kondisinya dinilai stabil.
Laporan Asharq Al-Awsat mengenai penanganan medis insiden yang sama juga menyebut keterlibatan dokter bedah umum, ortopedi, dan vaskular, disertai spesialisasi lain, termasuk bedah saraf dan bedah anak.
Menurut Al-Saati, sebagian pasien telah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, sedangkan pasien lainnya masih menjalani perawatan pada saat keterangannya disampaikan.
Ia juga menyatakan bahwa pemerintah Saudi menanggung biaya perawatan korban tanpa membedakan kewarganegaraan maupun kondisi medis, termasuk perawatan lanjutan setelah pasien keluar dari rumah sakit. Keterangan mengenai pembiayaan tersebut berasal dari wawancara Al-Saati dengan Arab News.
Informasi yang Perlu Dicermati Penyelenggara Perjalanan
Laporan mengenai respons medis ini berfokus pada penanganan korban dan koordinasi fasilitas kesehatan. Artikel tersebut tidak memberikan data mengenai keterlibatan warga negara Indonesia dalam insiden maupun dampak terkini terhadap jadwal penerbangan.
Bagi penyelenggara perjalanan haji dan umrah yang menggunakan Riyadh sebagai titik keberangkatan, kedatangan, atau transit, informasi operasional bandara tetap perlu merujuk pada pengumuman resmi otoritas penerbangan dan maskapai.
Status penerbangan sebaiknya diperiksa berdasarkan jadwal dan rute masing-masing, bukan disimpulkan dari besarnya pengerahan tenaga medis. Informasi mengenai kondisi korban juga perlu mengikuti pembaruan dari otoritas atau fasilitas kesehatan yang berwenang.
Catatan ASPHIRASI
Pengerahan sekitar 400 tenaga medis dan pelaksanaan 25 prosedur bedah dalam 10 jam pertama menggambarkan besarnya upaya penanganan medis yang dilaporkan setelah insiden di Bandara Internasional King Khalid.
Angka tersebut berasal dari keterangan Dr. Maad Al-Saati kepada Arab News dan belum ditemukan konfirmasi resmi terpisah yang secara spesifik memverifikasi kedua angka tersebut.
Bagi penyelenggara perjalanan haji dan umrah, perkembangan ini menjadi konteks untuk memahami respons darurat di Riyadh. Namun, keputusan perjalanan tetap perlu didasarkan pada informasi terbaru mengenai keamanan bandara dan operasional penerbangan dari otoritas terkait serta maskapai.
Sumber: Arab News




