
Raja Salman bin Abdulaziz mengecam upaya berulang milisi Houthi untuk menargetkan Makkah. Pernyataan itu disampaikan saat Raja Salman memimpin sidang Kabinet Arab Saudi di Jeddah pada Selasa, 22 September 2026, sebagaimana dilansir Saudi Press Agency (SPA).
Dalam pernyataannya, Raja Salman menyebut upaya tersebut telah memicu sentimen umat Islam di seluruh dunia serta melanggar kesucian tempat-tempat suci di Arab Saudi. Dalam laporan yang mengutip SPA, Arab News juga menyebut Houthi sebagai “milisi teroris”, sesuai istilah yang digunakan dalam pernyataan resmi Saudi.
Pada kesempatan yang sama, Raja Salman memuji personel militer dan keamanan Arab Saudi yang disebut telah membela Kerajaan serta menghadapi agresi yang menyasar tempat suci, jemaah, warga negara, dan penduduk.
Percobaan serangan ke Makkah disebut Raja Salman memicu kecaman internasional
Menurut SPA, Raja Salman menyampaikan bahwa upaya milisi Houthi menargetkan Makkah telah mendapat kecaman dan penolakan luas dari dunia internasional.
Upaya tersebut merujuk pada insiden 15 September 2026. Menurut pernyataan resmi yang disampaikan melalui SPA, pertahanan udara Arab Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat nirawak atau drone Houthi pada pukul 18.50 waktu setempat di wilayah selatan Makkah, sebelum drone tersebut memasuki wilayah udara terlarang di atas kota suci.
Koalisi yang dipimpin Arab Saudi menyebut insiden itu sebagai upaya kedua untuk menargetkan Makkah. Upaya sebelumnya, menurut pernyataan yang sama, terjadi pada 27 Juli 2017 ketika sebuah rudal balistik dilaporkan diluncurkan ke arah Makkah.
Sidang Kabinet yang dipimpin Raja Salman pada 22 September berlangsung sehari sebelum Hari Nasional Arab Saudi pada 23 September. Raja Salman juga menyampaikan rasa syukur atas berkah yang dianugerahkan kepada Arab Saudi, termasuk peran negara dalam melayani Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah, menurut SPA.
Militer dan aparat keamanan dipuji karena menghadapi agresi terhadap tempat suci
Raja Salman secara khusus mengapresiasi peran personel militer dan keamanan yang disebut telah membela Kerajaan dan menghadapi agresi yang menyasar tempat suci, jemaah, warga negara, maupun penduduk Arab Saudi.
Dalam pernyataan resmi mengenai insiden 15 September, otoritas Saudi menyatakan drone tersebut berhasil dihancurkan sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas Makkah. Tidak ada keterangan dalam pernyataan Kabinet 22 September mengenai adanya dampak langsung terhadap pelaksanaan ibadah di Makkah akibat insiden tersebut.
Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?
Upaya menargetkan Makkah dan respons pemerintah Arab Saudi menjadi perkembangan keamanan yang relevan untuk dipantau oleh penyelenggara perjalanan umrah maupun calon jemaah asal Indonesia.
Namun, dalam pernyataan Kabinet yang dirilis SPA, tidak disebutkan adanya gangguan terhadap layanan ibadah, penerbangan, atau visa akibat insiden tersebut.
- Penyelenggara perjalanan umrah perlu memantau perkembangan resmi dari otoritas Arab Saudi maupun Kementerian Haji dan Umrah Indonesia terkait situasi keamanan dan operasional perjalanan.
- Calon jemaah dapat mengikuti informasi dan arahan resmi dari penyelenggara perjalanan mengenai jadwal keberangkatan maupun perubahan operasional jika ada.
- Informasi mengenai dampak lebih lanjut terhadap penyelenggaraan umrah dan haji perlu merujuk pada keterangan resmi otoritas terkait.
Catatan ASPHIRASI
Sejauh ini, laporan resmi yang tersedia mencatat kecaman Raja Salman terhadap upaya berulang milisi Houthi untuk menargetkan Makkah serta apresiasi kepada personel militer dan keamanan Arab Saudi yang menghadapi ancaman tersebut.
Insiden 15 September juga dilaporkan berakhir setelah drone dicegat dan dihancurkan di selatan Makkah, sebelum memasuki wilayah udara terlarang. Dengan demikian, informasi yang tersedia belum menunjukkan adanya serangan yang mencapai atau berdampak langsung pada kawasan Makkah.
Bagi penyelenggara perjalanan dan jemaah, perkembangan berikutnya tetap perlu dipantau melalui sumber resmi, terutama jika otoritas Arab Saudi mengeluarkan informasi baru mengenai langkah keamanan, perjalanan udara, atau operasional ibadah.
Perkembangan lebih lanjut mengenai kronologi upaya tersebut, respons keamanan tambahan dari otoritas Arab Saudi, maupun kemungkinan dampaknya terhadap penyelenggaraan umrah dan haji masih perlu menunggu keterangan resmi berikutnya.
Sumber: Arab News




