Saudi Update

Airbus Yakin Penerbangan Kawasan Teluk Bangkit Usai Perang Iran

Airbus Yakin Penerbangan Kawasan Teluk Bangkit Usai Perang Iran

Produsen pesawat Airbus memproyeksikan prospek jangka panjang industri penerbangan Timur Tengah tetap positif meski kawasan tersebut menghadapi tekanan akibat konflik dan gangguan operasional. Proyeksi itu disampaikan dalam laporan Global Market Forecast Airbus yang diluncurkan di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 23 September 2026.

Menurut International Air Transport Association (IATA), maskapai penerbangan di Timur Tengah diproyeksikan berbalik dari laba bersih 7,2 miliar dolar AS pada 2025 menjadi rugi bersih 4,3 miliar dolar AS pada 2026. IATA mengaitkan tekanan tersebut dengan pengurangan kapasitas, pembatalan penerbangan, gangguan operasional, serta kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di kawasan.

Meski tekanan jangka pendek tersebut, Airbus mengatakan belum melihat pembatalan pesanan pesawat sejak konflik berlangsung. "Orang ingin terbang karena terbang memberi nilai," kata Antonio Teixeira Da Costa, Wakil Presiden Analisis dan Peramalan Pasar Airbus, kepada Arab News. Ia mengatakan kawasan tersebut telah menunjukkan ketahanan dan permintaan penerbangan tetap tumbuh.

Lalu lintas penumpang Timur Tengah diproyeksikan tumbuh 4,7 persen per tahun hingga 2045

Berdasarkan proyeksi terbaru Airbus, kawasan Timur Tengah membutuhkan 3.830 pesawat penumpang baru dalam 20 tahun ke depan. Jumlah tersebut terdiri atas 2.160 pesawat lorong tunggal dan 1.670 pesawat berbadan lebar. Airbus memperkirakan lalu lintas penumpang menuju, dari, dan di dalam kawasan tumbuh rata-rata 4,7 persen per tahun hingga 2045, lebih cepat dibandingkan proyeksi pertumbuhan global sebesar 3,9 persen. Lalu lintas penumpang kawasan diperkirakan lebih dari dua kali lipat pada periode tersebut.

"Kami memperkirakan konflik ini akan menemukan solusi, dan kami sangat menantikan hal itu. Begitu itu terjadi, pertumbuhannya akan semakin tidak terbendung," kata Da Costa kepada Arab News.

Tanda pemulihan juga terlihat dari kapasitas maskapai terjadwal di Timur Tengah pada September yang menurut data OAG hanya 3,7 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sebagaimana dikutip Arab News.

Airbus memperkirakan pertumbuhan permintaan juga didorong oleh perubahan demografi. Populasi kelas menengah di kawasan tersebut diproyeksikan bertambah 240 juta orang menjadi 620 juta pada 2045.

Riyadh Air dan investasi Saudi jadi bagian dari ekspansi penerbangan

Eksekutif Airbus menyebut Arab Saudi sebagai salah satu pasar penerbangan yang menonjol di kawasan. Peluncuran Riyadh Air dinilai Airbus dapat membuka konektivitas baru seiring upaya Arab Saudi memperluas hubungan penerbangan internasional.

Airbus memperkirakan jumlah perjalanan udara per orang di Arab Saudi meningkat dari 1,6 perjalanan per tahun pada 2025 menjadi 4,0 perjalanan pada 2045.

"Riyadh Air menghadirkan model baru. Ambisi mereka menghubungkan Riyadh dengan dunia akan menghadirkan rute-rute baru yang menarik di pasar dalam beberapa bulan dan tahun mendatang," kata Gabriel Semelas, Presiden Airbus untuk Afrika dan Timur Tengah, kepada Arab News.

Semelas juga mengatakan Airbus memiliki pesanan tertunda sekitar 400 pesawat untuk dikirim ke Arab Saudi. Arab News mengaitkan angka tersebut dengan ambisi Vision 2030. Sementara itu, target Saudi Arabia untuk melayani 330 juta penumpang per tahun pada 2030 merupakan bagian dari strategi penerbangan nasional negara tersebut.

Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?

Laporan Airbus tidak membahas Indonesia secara spesifik. Namun, perkembangan kapasitas dan konektivitas penerbangan Timur Tengah tetap relevan dipantau oleh pelaku industri perjalanan haji dan umrah Indonesia.

Beberapa indikator yang dapat dipantau antara lain:

  • Perkembangan kapasitas maskapai Timur Tengah setelah gangguan akibat konflik kawasan, termasuk data OAG yang menunjukkan kapasitas September masih 3,7 persen di bawah periode yang sama tahun sebelumnya.
  • Perkembangan jaringan dan rute baru Riyadh Air, terutama setelah maskapai tersebut mulai memperluas operasi internasional.
  • Pertumbuhan armada dan investasi bandara di kawasan yang dapat memengaruhi kapasitas serta pilihan konektivitas penerbangan dalam jangka panjang.

Untuk penyelenggara perjalanan haji dan umrah, perkembangan tersebut lebih tepat diperlakukan sebagai indikator yang perlu dipantau daripada sebagai kepastian mengenai harga tiket, ketersediaan kursi, atau pembukaan rute Indonesia-Arab Saudi.

Catatan ASPHIRASI

Proyeksi Airbus menunjukkan bahwa tekanan jangka pendek akibat konflik belum mengubah proyeksi pertumbuhan jangka panjang penerbangan Timur Tengah. Airbus memperkirakan kawasan tersebut membutuhkan 3.830 pesawat penumpang baru dalam 20 tahun dan lalu lintas penumpang tumbuh rata-rata 4,7 persen per tahun hingga 2045.

Bagi penyelenggara travel haji dan umrah, perkembangan kapasitas dan jaringan penerbangan perlu terus dipantau karena kondisi operasional dapat berubah lebih cepat dibandingkan proyeksi jangka panjang. Data kapasitas aktual, jadwal penerbangan, serta keputusan maskapai tetap menjadi rujukan yang lebih langsung dalam menyusun keberangkatan jemaah.

Perkembangan konflik kawasan, pemulihan kapasitas maskapai, ekspansi Riyadh Air, serta pertumbuhan armada Timur Tengah menjadi sejumlah indikator yang dapat dipantau dalam melihat arah konektivitas penerbangan menuju Arab Saudi.

Sumber: Arab News

Bagikan