
Dilansir Al Jazeera pada 14 September 2026, pertemuan yang dijadwalkan berlangsung Senin di kota pelabuhan Salalah, Oman, antara Iran, Irak, dan negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) minus Bahrain untuk membahas rute sementara di Selat Hormuz ditunda. Penundaan diumumkan Minggu malam tanpa disertai jadwal pengganti.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut keberatan Arab Saudi sebagai penyebab penundaan tersebut, tanpa memberi rincian lebih lanjut. Media Axios dan CNN melaporkan Arab Saudi telah mengajukan amendemen terhadap proposal Iran-Oman karena mengkhawatirkan redaksi kesepakatan berpotensi menetapkan status quo baru di Selat Hormuz yang tidak dapat diterima Riyadh.
Penundaan ini terjadi setelah rentetan insiden lain di kawasan. Arab Saudi sebelumnya menutup pipa minyak East-West setelah serangan drone yang menurut Saudi berasal dari Irak, yang menurut Presiden AS Donald Trump kemungkinan dilakukan atas perintah Teheran. Arab Saudi juga menghadapi serangan berulang kelompok Houthi, yang akhir pekan lalu mengambil alih pesisir Laut Merah Yaman.
Bahrain menolak ikut pertemuan Salalah dan menyebutnya sebagai bentuk appeasement
Bahrain, yang menurut laporan Al Jazeera telah menanggung dampak besar dari serangan Iran sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai akhir Februari, menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam forum Salalah karena dinilai sebagai bentuk appeasement. Media Tasnim yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim Israel mendorong Bahrain menolak ikut serta, meski klaim ini belum dikonfirmasi secara independen.
Houthi klaim tembakkan puluhan rudal balistik dan drone ke Khamis Mushait
Beberapa jam setelah penundaan pertemuan Salalah diumumkan, pertahanan sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan untuk kota Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran di wilayah selatan dan barat Arab Saudi. Houthi mengklaim telah menembakkan puluhan rudal balistik dan drone ke fasilitas militer di Khamis Mushait sebagai balasan atas serangan udara di Yaman yang mereka tuding dilakukan Arab Saudi.
Klaim mengenai serangan tersebut tetap perlu dibedakan dari informasi mengenai dampak atau kerusakan yang telah terverifikasi secara independen.
Iran tetap kejar kesepakatan bilateral dengan Oman soal rute sementara Hormuz
Meski forum regional tertunda, Iran menyatakan akan tetap melanjutkan kesepakatan bilateral dengan Oman soal Selat Hormuz yang menurut mereka telah dirampungkan bulan lalu. "Berkonsultasi dengan Oman, pada langkah berikutnya kami akan memutuskan bagaimana mengumumkan atau mendaftarkan kesepakatan ini," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers mingguan, Senin.
Trump sebelumnya sempat mengancam akan mengebom Oman jika negara itu menghalangi perundingan AS dengan Iran, saat kesepakatan bilateral itu pertama kali diajukan.
Rancangan kesepakatan mengatur koridor masuk dan keluar sementara bagi kapal niaga, dengan koridor masuk melalui perairan Iran dan koridor keluar sebagian besar melalui perairan Oman. Iran dan Oman adalah dua-satunya negara yang memiliki perairan teritorial di Selat Hormuz, dan Teheran menegaskan pengaturan ini tidak berarti Selat Hormuz telah dibuka kembali sepenuhnya.
Iran juga menyatakan hanya akan membahas masa depan Hormuz dengan AS jika ada langkah nyata mencabut blokade laut terhadap Iran dan kembali ke nota kesepahaman Juni.
Ali Vaez dari Crisis Group menilai Iran ingin memanfaatkan pengaruhnya atas Hormuz demi legitimasi regional sekaligus menekan AS. "Semakin luas dukungan regional, semakin sulit bagi AS untuk mengabaikan pengaturan itu sebagai diktat sepihak Iran," katanya kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan negara-negara GCC yang menghadapi penurunan tajam pendapatan energi menginginkan kapal kembali berlayar, meski Vaez menilai AS kemungkinan tetap mempertahankan blokade terhadap Iran. Thomas Juneau dari University of Ottawa menyebut kemajuan Houthi menguasai Selat Bab al-Mandeb dan pesisir Laut Merah sebagai keuntungan besar bagi Iran, karena memberi kartu tawar baru dalam negosiasi dengan AS.
Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?
Data sumber tidak menyebut dampak langsung terhadap rute penerbangan jemaah haji dan umrah Indonesia ke Arab Saudi. Namun, tertundanya pembahasan mengenai Selat Hormuz, ketegangan di Bab al-Mandeb, serta serangan yang dilaporkan di wilayah selatan Arab Saudi seperti Khamis Mushait, Abha, Jazan, dan Najran menambah faktor ketidakpastian keamanan kawasan yang perlu dicermati oleh penyelenggara perjalanan.
- Memantau perkembangan status pertemuan Iran, Irak, dan GCC soal Selat Hormuz yang belum dijadwalkan ulang.
- Mencermati perkembangan serangan Houthi di wilayah selatan Arab Saudi, termasuk kota Khamis Mushait, Abha, Jazan, dan Najran.
- Mengikuti informasi resmi dari otoritas penerbangan dan maskapai terkait rute yang melintasi kawasan Teluk dan Laut Merah.
- Menyiapkan jalur komunikasi cepat dengan jemaah bila muncul perubahan jadwal atau rute penerbangan akibat situasi keamanan.
Catatan ASPHIRASI
Sejauh ini, perkembangan konkret yang tercatat terkait diplomasi Hormuz adalah tertundanya pengaturan rute niaga sementara di selat tersebut, ditambah laporan mengenai eskalasi serangan rudal dan drone Houthi ke sejumlah kota di selatan Arab Saudi. Data yang tersedia belum menunjukkan gangguan terhadap operasional penerbangan haji dan umrah Indonesia.
Penyelenggara travel disarankan memantau saluran resmi otoritas penerbangan sipil dan maskapai yang melayani rute ke Arab Saudi, sembari menyiapkan komunikasi mitigasi bagi jemaah apabila terjadi perubahan jadwal atau rute akibat situasi keamanan di kawasan Teluk dan Laut Merah.
Perkembangan yang perlu terus dipantau meliputi kelanjutan negosiasi Iran-Oman soal Selat Hormuz, kemungkinan jadwal ulang pertemuan Salalah, serta dinamika penguasaan Houthi atas Selat Bab al-Mandeb dan pesisir Laut Merah Yaman.
Sumber: Al Jazeera




