Outlook

Meninggal di Tanah Suci Dianggap Mulia? Dokter Haji Bongkar Pola Pikir yang Membahayakan Jemaah

Meninggal di Tanah Suci Dianggap Mulia? Dokter Haji Bongkar Pola Pikir yang Membahayakan Jemaah

Haji bukan hanya soal biaya, antrean, dan manasik. Ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah seseorang benar-benar mampu melaksanakan rangkaian ibadah haji secara fisik dan mental?

Dalam wawancara Media Asphirasi bersama Dr. dr. Syarief Hasan Lutfie, Sp.KFR, MARS, AIFO-K, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI), pembahasan mengenai istitaah kesehatan menjadi salah satu pokok utama. Ia menjelaskan bahwa kemampuan berhaji tidak cukup diukur dari kemampuan finansial atau kesiapan administratif, tetapi juga dari kemampuan fisik dan kondisi kesehatan yang memungkinkan jemaah melaksanakan rangkaian ibadah.

Pembahasan tersebut mencakup makna istitaah, tuntutan fisik ibadah haji, pemeriksaan dan pembinaan kesehatan sebelum keberangkatan, risiko memaksakan aktivitas ibadah, vaksinasi, pengelolaan obat, pemanfaatan teknologi kesehatan, hingga tanggung jawab jemaah dan penyelenggara perjalanan.

Bagi Dr. Syarief, persoalan kesehatan haji pada dasarnya bukan hanya apakah seseorang memiliki penyakit, tetapi apakah kondisi tersebut masih memungkinkan dirinya menjalankan aktivitas yang dituntut oleh ibadah haji.

Istitaah bukan sekadar sudah mampu membayar

Dalam penjelasannya, Dr. Syarief membagi kemampuan haji ke dalam beberapa aspek.

Pertama, istitaah maliah, yaitu kemampuan dari sisi finansial.

Kedua, istitaah amniah, yang berkaitan dengan keamanan dan kondisi yang memungkinkan pelaksanaan haji, termasuk situasi yang dapat menghambat perjalanan maupun penyelenggaraan.

Ketiga, istitaah badaniah, yakni kemampuan tubuh dan kondisi psikologis untuk melaksanakan rangkaian ibadah.

Dengan demikian, biaya yang sudah tersedia tidak otomatis menjawab seluruh persoalan istitaah.

“Kesanggupan itu terukur dan terstruktur. Jadi bukan hanya ‘oh mampu bayar, sudah selesai’.”

Di titik ini, kesehatan menjadi persoalan yang berbeda dari sekadar kelengkapan administrasi. Kemampuan fisik perlu dibangun sebelum jemaah berada di Tanah Suci.

Dr. Syarief mendorong agar pembinaan fisik dan kesehatan dimulai jauh sebelum keberangkatan—idealnya sekitar 12 bulan, minimal enam bulan, dan paling tidak tiga bulan sebelumnya.

Artinya, masa tunggu haji bukan hanya masa menunggu jadwal berangkat. Bagi jemaah, periode tersebut juga merupakan ruang untuk meningkatkan kemampuan tubuh.

Haji menguji kemampuan tubuh, bukan hanya kondisi klinis

Haji merupakan ibadah dengan tuntutan mobilitas tinggi.

Tawaf, sai, perpindahan antarlokasi, wukuf, serta aktivitas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina membuat jemaah harus menghadapi aktivitas fisik dalam lingkungan yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.

Dalam wawancara tersebut, Dr. Syarief memperkirakan keseluruhan aktivitas berjalan yang dihadapi jemaah dapat mencapai sekitar 46 kilometer.

Angka tersebut penting bukan karena setiap jemaah pasti berjalan dalam jarak yang sama, tetapi karena menunjukkan besarnya perbedaan antara memiliki kondisi medis yang relatif stabil dan memiliki kapasitas fungsional untuk menjalankan haji.

Seseorang bisa saja memiliki hasil pemeriksaan yang relatif baik, tetapi belum terbiasa berjalan jauh. Sebaliknya, seseorang dengan penyakit yang terkontrol dapat memiliki kemampuan aktivitas yang lebih baik.

Karena itu, fit to hajj dalam penjelasan Dr. Syarief tidak berarti harus bugar seperti orang muda. Yang menjadi perhatian adalah kemampuan fungsional sesuai usia, kondisi kesehatan, dan tuntutan aktivitas haji.

Latihan pun tidak dianjurkan dilakukan secara mendadak. Intensitas, jarak, dan durasinya perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Pemeriksaan kesehatan perlu menjawab satu pertanyaan tambahan

Pemeriksaan kesehatan secara konvensional sering berfokus pada diagnosis: apakah seseorang memiliki hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau kondisi medis lainnya.

Menurut Dr. Syarief, pemeriksaan jemaah haji perlu bergerak lebih jauh dengan melihat kemampuan fungsional.

Dengan pendekatan tersebut, pertanyaannya berubah dari:

“Penyakit apa yang dimiliki?”

menjadi:

“Apa yang masih mampu dilakukan tubuh dengan aman?”

Dalam wawancara, Dr. Syarief menyebut sejumlah parameter yang digunakan sebagai gambaran kemampuan kesehatan jemaah, antara lain tekanan darah, status gizi, saturasi oksigen, pengendalian diabetes, serta kemampuan berjalan dalam jarak tertentu.

Ia antara lain menyebut tekanan darah tidak lebih dari 140/90, saturasi oksigen di atas 95 persen, HbA1c tidak lebih dari 7 pada pasien diabetes, serta kemampuan berjalan 1,6 kilometer tanpa kelelahan berlebihan.

Angka-angka tersebut merupakan bagian dari penjelasan narasumber mengenai parameter kesehatan. Ketentuan pemeriksaan istitaah secara resmi tetap mengikuti regulasi yang berlaku.

Yang lebih penting dari daftar angka tersebut adalah pendekatannya: kemampuan haji tidak cukup dibaca dari satu lembar hasil laboratorium.

Istitaah bukan status yang selesai sekali diperiksa

Ada persoalan lain dalam kesehatan haji: jarak antara pemeriksaan dan keberangkatan.

Kondisi kesehatan dapat berubah selama masa tunggu. Jemaah yang sebelumnya mampu dapat mengalami penurunan kondisi, sementara jemaah yang sebelumnya belum memenuhi kemampuan tertentu masih memiliki waktu untuk menjalani pembinaan.

Karena itu, Dr. Syarief mendorong pemeriksaan dan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Dalam wawancara, ia juga menyampaikan pandangan bahwa istitaah kesehatan sebaiknya diketahui sebelum proses pelunasan biaya haji. Jika kondisi jemaah menurun setelah sebelumnya memenuhi syarat, pembinaan dapat kembali dilakukan.

Logikanya berbeda dengan pemeriksaan yang hanya berfungsi sebagai gerbang terakhir.

Semakin awal kondisi diketahui, semakin panjang waktu yang tersedia untuk memperbaikinya.

Risiko justru bisa muncul dari ibadah tambahan

Salah satu persoalan yang disoroti Dr. Syarief adalah kecenderungan sebagian jemaah menggunakan terlalu banyak energi untuk aktivitas tambahan.

Tawaf sunah berulang kali, berjalan jauh, atau mengejar berbagai aktivitas di Tanah Suci dapat menguras kapasitas fisik yang sebenarnya dibutuhkan untuk rangkaian ibadah utama.

Dalam situasi seperti itu, persoalannya bukan kurangnya semangat, melainkan alokasi energi.

Jemaah memiliki kapasitas fisik yang terbatas. Ketika kapasitas tersebut habis sebelum tahapan penting, risiko bukan hanya kelelahan. Penyakit yang sebelumnya terkendali juga dapat memburuk.

Dr. Syarief mengingatkan bahwa jemaah dapat mengalami kondisi serius sebelum menyelesaikan rangkaian ibadah yang menjadi kewajibannya.

Karena itu, kemampuan mengatur tenaga menjadi bagian dari kesiapan haji.

“Kalau meninggal, biar di Tanah Suci”

Dr. Syarief juga menyoroti keyakinan yang kadang digunakan untuk membenarkan keberangkatan meskipun kondisi fisik tidak memungkinkan.

Logikanya sederhana: umur sudah ditentukan; jika meninggal, lebih baik meninggal di Makkah atau Madinah.

Menurut pandangan yang ia sampaikan, takdir tidak dapat dijadikan alasan untuk menghilangkan ikhtiar.

Pemeriksaan kesehatan, pengobatan, latihan fisik, dan pengaturan aktivitas tetap diperlukan. Keinginan beribadah di Tanah Suci tidak dengan sendirinya mengubah kemampuan tubuh.

Dalam konteks ini, istitaah menjadi titik temu antara niat beribadah dan kemampuan nyata untuk menjalankannya.

Kesalahan bukan selalu karena penyakit

Dr. Syarief juga menyinggung sejumlah perilaku yang dapat menambah risiko.

Salah satunya adalah memaksakan tawaf tanpa alas kaki hingga kaki mengalami luka. Ada pula jemaah yang memaksakan aktivitas tertentu pada waktu yang sangat padat atau memilih berjalan kaki ketika kondisi fisik sebenarnya tidak mendukung.

Risiko kesehatan tidak selalu muncul karena penyakit baru.

Kadang persoalannya adalah kombinasi antara penyakit yang sudah ada, cuaca, kepadatan, kelelahan, kurang istirahat, dan keputusan aktivitas yang tidak sesuai dengan kemampuan fisik.

Ini membuat edukasi kesehatan haji tidak cukup berupa daftar penyakit. Jemaah juga perlu memahami bagaimana tubuhnya merespons aktivitas dalam kondisi ekstrem.

Penyakit bawaan bertemu lingkungan mass gathering

Jemaah haji datang dari berbagai negara dan berkumpul dalam jumlah besar.

Kondisi mass gathering meningkatkan tantangan kesehatan, termasuk risiko penyakit infeksi. Pada saat yang sama, penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan kondisi terkait usia dapat menjadi lebih sulit dikendalikan ketika jemaah mengalami kelelahan atau aktivitas fisik berlebihan.

Dr. Syarief menyebut pneumonia dan infeksi saluran pernapasan sebagai salah satu perhatian pada jemaah yang rentan.

Karena itu, deteksi dini menjadi penting.

Demam, perubahan kondisi tubuh, atau kelelahan yang tidak biasa tidak seharusnya selalu dianggap sebagai konsekuensi normal dari aktivitas haji.

Menurut Dr. Syarief, jemaah memiliki akses terhadap tenaga kesehatan dan layanan rujukan ketika membutuhkan penanganan.

Vaksin bukan sekadar stempel keberangkatan

Vaksinasi juga ditempatkan Dr. Syarief dalam konteks perlindungan kesehatan di lingkungan mass gathering.

Jemaah berasal dari berbagai negara dengan kondisi epidemiologis yang berbeda. Perlindungan terhadap penyakit menular karena itu menjadi bagian dari kesiapan kesehatan.

Dalam wawancara, ia membahas vaksin yang berkaitan dengan persyaratan perjalanan haji serta vaksin yang bersifat rekomendasi sesuai kebutuhan kesehatan.

Ia juga menjelaskan bahwa jenis vaksin dan masa berlakunya berbeda-beda. Persyaratan administratif perjalanan dapat memiliki ketentuan tersendiri dibandingkan aspek perlindungan medis.

Karena ketentuan dapat berubah, persyaratan vaksinasi perlu diperiksa berdasarkan aturan resmi yang berlaku pada musim keberangkatan.

Namun, dari perspektif kesehatan, pesan yang ingin disampaikan Dr. Syarief lebih luas: vaksin bukan sekadar sesuatu yang harus dimiliki agar dokumen perjalanan lengkap. Ia merupakan salah satu lapisan perlindungan ketika jemaah memasuki lingkungan dengan kepadatan manusia sangat tinggi.

Obat: bawa yang dibutuhkan, pahami penggunaannya

Persoalan obat juga tidak terlepas dari istitaah.

Jemaah dengan penyakit kronis perlu memastikan obat yang memang harus dikonsumsi tetap tersedia selama perjalanan. Obat untuk diabetes atau hipertensi, misalnya, tidak dapat diperlakukan sama dengan obat untuk keluhan ringan yang hanya digunakan bila diperlukan.

Di sisi lain, terlalu banyak membawa obat tanpa memahami penggunaannya juga tidak menyelesaikan masalah.

Prinsip yang ditekankan adalah membawa obat yang memang dibutuhkan dan menggunakannya sesuai petunjuk tenaga kesehatan.

Bagi jemaah dengan penyakit kronis, kesinambungan pengobatan menjadi bagian dari kemampuan mempertahankan kondisi selama perjalanan.

Teknologi membantu membaca tubuh lebih awal

Dr. Syarief juga melihat ruang bagi teknologi dalam kesehatan haji.

Ia membahas penggunaan perangkat digital, termasuk smart ring, untuk memantau sejumlah parameter seperti denyut nadi, saturasi oksigen, aktivitas fisik, dan indikator kebugaran.

Ia juga mengaitkannya dengan pengukuran kapasitas kebugaran seperti VO2 max.

Nilai teknologi dalam konteks ini bukan karena perangkat dapat menggantikan dokter. Justru sebaliknya, perangkat dapat membantu memberikan informasi lebih awal mengenai perubahan kondisi tubuh.

Konsep yang sama berlaku pada ekosistem digital di Arab Saudi. Pengaturan arus jemaah dan aplikasi yang digunakan selama haji dapat membantu mengelola aktivitas pada waktu dan lokasi tertentu.

Teknologi pada akhirnya menjadi alat untuk membuat keputusan aktivitas lebih berbasis kondisi nyata, bukan semata berdasarkan keinginan untuk melakukan sebanyak mungkin kegiatan.

Masa tunggu adalah bagian dari persiapan

Jika istitaah dipahami sebagai kemampuan untuk melaksanakan haji, maka masa sebelum keberangkatan menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Jemaah memiliki waktu untuk memperbaiki kebugaran, mengendalikan penyakit penyerta, memperbaiki pola hidup, dan membangun kemampuan berjalan secara bertahap.

Dr. Syarief menyebut olahraga seperti jalan kaki, bersepeda, dan berenang sebagai bagian dari pemeliharaan kebugaran sesuai kondisi masing-masing.

Tidak perlu menunggu pengumuman keberangkatan untuk mulai bergerak.

Justru karena haji menuntut kemampuan fisik tertentu, latihan yang dilakukan secara bertahap jauh lebih masuk akal daripada mengejar kebugaran secara mendadak menjelang keberangkatan.

Apa artinya bagi penyelenggara perjalanan?

Persoalan istitaah juga memiliki konsekuensi bagi penyelenggara perjalanan.

Penyelenggara tidak hanya berhadapan dengan dokumen, tiket, hotel, transportasi, dan jadwal ibadah. Mereka juga membawa jemaah dengan karakteristik kesehatan yang berbeda-beda.

Menurut Dr. Syarief, pembinaan kesehatan semestinya menjadi bagian dari persiapan perjalanan, bukan urusan yang sepenuhnya diserahkan kepada jemaah.

Bagi industri, pendekatan ini menggeser pertanyaan dari “apakah jemaah sudah memenuhi persyaratan?” menjadi “apakah jemaah cukup siap menghadapi perjalanan dan aktivitas yang akan dijalaninya?”

Perbedaannya kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam praktik.

Yang pertama berorientasi pada kelengkapan. Yang kedua berorientasi pada kemampuan menjalankan perjalanan.

Mampu membayar berbeda dengan mampu melaksanakan

Pada akhirnya, gagasan utama Dr. Syarief mengenai istitaah kesehatan kembali pada perbedaan antara kemampuan untuk berangkat dan kemampuan untuk melaksanakan.

Biaya, dokumen, dan antrean menjawab sebagian persoalan. Tetapi setelah sampai di Tanah Suci, tubuh tetap menjadi instrumen utama untuk menjalankan banyak rangkaian ibadah.

Karena itu, kemampuan fisik tidak seharusnya baru dipikirkan ketika keberangkatan sudah dekat.

Bagi calon jemaah, pesannya adalah mengenali kondisi diri, menjaga kebugaran, mengendalikan penyakit, dan mengikuti pembinaan kesehatan.

Bagi penyelenggara, kesehatan jemaah merupakan bagian dari kesiapan perjalanan yang perlu diperhatikan sejak awal.

Dan bagi keduanya, istitaah bukan sekadar pertanyaan “bisa berangkat atau tidak”, tetapi juga “mampu menjalankan seluruh prosesnya dengan kondisi yang memungkinkan?”

Sumber: Podcast Media Asphirasi

Bagikan