
Setiap hari, diperkirakan ada sekitar 100 jemaah yang tersasar di Arab Saudi. Tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari terpisah dari rombongan selama beberapa jam, hilang hingga dua minggu, hingga kasus tragis jemaah yang meninggal dunia karena tidak berhasil ditemukan.
Permasalahan mendasar mengenai jemaah hilang dan tata kelola travel ibadah ini dibahas dalam Podcast Media Asphirasi bersama Garibaldy Mukti, CEO sekaligus Co-Founder dari Pilgrimpal.
Masalah Utamanya Bukan Sekadar Nyasar
Menurut riset yang disampaikan dalam podcast, jemaah yang tersasar dapat mengalami kondisi dengan tingkat keparahan berbeda. Ada yang hanya salah jalan selama beberapa jam. Ada pula yang sampai tidak ditemukan dalam waktu lama.
Bagi jemaah, tersasar bukan hanya persoalan tidak tahu arah. Mereka bisa panik, tidak dapat menghubungi pendamping, atau berada dalam kondisi darurat. Situasinya menjadi lebih rumit ketika mereka berada di tempat yang ramai, tidak memahami bahasa setempat, atau tidak dapat menggunakan layanan komunikasi seperti biasanya.
Karena itu, Pilgrimpal mencoba membuat satu sistem yang menghubungkan jemaah, tour leader, dan pihak travel dalam satu platform.
Solusi Teknologi Pilgrimpal
Geri merupakan lulusan Teknik Informatika ITB angkatan 2010 yang memiliki latar belakang di industri pembuatan gim dan perangkat lunak sejak 2009. Melalui Pilgrimpal, ia memanfaatkan keahlian teknisnya untuk menyelesaikan masalah operasional ibadah haji dan umrah.
Aplikasi Pilgrimpal dirancang untuk menyelesaikan masalah jemaah tersasar dan kendala komunikasi melalui beberapa fitur utama:
- Pelacakan Lokasi Real-time: Mengizinkan jemaah dan tour leader dalam satu grup keberangkatan untuk saling memantau titik lokasi satu sama lain. Fitur pelacakan ini hanya aktif dari hari keberangkatan hingga hari kepulangan demi menjaga privasi.
- Panggilan Suara dan Pesan Bawaan: Menyediakan fitur peer-to-peer calling di dalam aplikasi untuk mengatasi hambatan pemblokiran panggilan suara WhatsApp di Arab Saudi.
- Tombol Darurat SOS: Memungkinkan jemaah yang panik, tersasar, atau mengalami darurat medis untuk mengirimkan sinyal bahaya secara langsung ke tour leader.
- Simulasi Manasik 3D: Menggunakan teknologi simulasi interaktif agar jemaah dapat mempelajari tata cara ibadah (tawaf, sa'i, hingga lempar jumrah) sebelum berangkat.
- Penerjemah Bahasa: Membantu jemaah Indonesia berkomunikasi dengan warga lokal setempat.
Bukan Hanya Aplikasi untuk Jemaah
Pilgrimpal tidak hanya ditujukan kepada jemaah. Platform ini juga memiliki dashboard untuk travel agency dan ground handling di Arab Saudi.
Melalui dashboard tersebut, travel dapat mengelola berbagai data, seperti:
- Data calon dan jemaah yang sudah terdaftar.
- Status paspor, visa, dan vaksinasi.
- Status pembayaran.
- Jadwal keberangkatan dan itinerary.
- Data hotel serta transportasi.
- Catatan komunikasi dan tindak lanjut calon jemaah.
- Posisi jemaah ketika fitur pelacakan sedang aktif.
Dengan sistem ini, travel tidak harus mengandalkan banyak file Excel, percakapan WhatsApp, atau catatan terpisah. Data operasional dapat ditempatkan dalam satu sistem.
Bagi pemilik travel, manfaatnya bukan hanya mengetahui posisi jemaah. Mereka juga dapat melihat gambaran bisnis, seperti pemasukan, pengeluaran, status pembayaran, serta staf yang bertanggung jawab terhadap calon jemaah.
Manasik dalam Bentuk Digital
Pilgrimpal juga mengembangkan fitur manasik digital. Melalui fitur ini, jemaah dapat mempelajari tata cara ibadah sebelum berangkat.
Materi yang tersedia mencakup gerakan, bacaan, tulisan Arab, serta simulasi lingkungan ibadah. Pengguna juga dapat mempelajari beberapa pilihan berdasarkan mazhab yang tersedia di dalam aplikasi.
Latar belakang Geri di industri game digunakan untuk membuat simulasi tersebut. Tujuannya bukan mengubah ibadah menjadi permainan, tetapi membantu jemaah memahami proses dengan cara yang lebih interaktif.
Bagi orang yang hanya mengikuti manasik satu atau dua kali sebelum keberangkatan, fitur seperti ini dapat menjadi bahan belajar tambahan. Jemaah bisa membuka kembali materi tersebut kapan saja.
Peluang Bisnis dan Dukungan Saudi
Pilgrimpal memperoleh dukungan dari sejumlah program teknologi di Arab Saudi. Dukungan tersebut berkaitan dengan upaya pemerintah Saudi mendorong digitalisasi dan pengembangan ekonomi berbasis teknologi.
Dalam podcast, Geri menjelaskan bahwa perusahaan teknologi yang mengikuti program tertentu dapat memperoleh berbagai bentuk dukungan. Beberapa di antaranya berupa kemudahan mendirikan perusahaan, hibah pemerintah, pengurangan biaya tertentu, serta dukungan administratif.
Pilgrimpal juga telah mengikuti program akselerator dan kompetisi teknologi. Perusahaan ini disebut telah mempresentasikan produknya kepada Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Arab Saudi.
Dari sisi Indonesia, Pilgrimpal juga memperoleh dukungan untuk mengikuti pameran teknologi di Riyadh. Ke depan, mereka berharap dapat terhubung dengan sistem resmi yang berkaitan dengan visa, izin umrah, izin haji, dan layanan jemaah.
Namun, peluang tersebut tetap disertai tanggung jawab. Perusahaan asing yang beroperasi di Saudi harus mengikuti aturan ketenagakerjaan dan ketentuan lokal. Artinya, ekspansi teknologi ke luar negeri bukan hanya soal membawa produk, tetapi juga memahami sistem bisnis dan regulasi di negara tujuan.
Model Pendapatan
Pada 2026, Pilgrimpal masih berada dalam tahap pengembangan dan pengumpulan masukan dari travel. Beberapa travel sudah menggunakan layanan tersebut, termasuk travel di Bandung, Depok, Yogyakarta, serta satu ground handling di Makkah.
Model bisnis yang direncanakan adalah pembayaran berdasarkan jumlah jemaah. Dalam pembahasan podcast, biaya awal yang disebutkan sekitar Rp100.000 per jemaah.
Pilgrimpal juga menyiapkan dua pilihan:
- Pembayaran satu kali berdasarkan jumlah jemaah.
- Sistem langganan untuk travel dengan jumlah keberangkatan yang lebih banyak.
Dashboard untuk pengelolaan travel disebut tidak dikenakan biaya terpisah. Biaya utamanya dihitung berdasarkan jemaah yang menggunakan layanan dalam suatu keberangkatan.
Bagi travel, model ini dapat menjadi pilihan yang lebih sederhana karena tidak perlu membeli sistem besar sejak awal. Travel cukup membayar sesuai jumlah jemaah yang dikelola.
Menghubungkan Indonesia dan Arab Saudi
Geri melihat digitalisasi sebagai kebutuhan yang semakin penting dalam industri haji dan umrah. Perubahan aturan di Arab Saudi dapat berdampak langsung pada travel dan jemaah dari Indonesia.
Jika data dan proses administrasi masih dikelola secara terpisah, perubahan aturan dapat membuat travel kesulitan menyesuaikan diri. Sebaliknya, sistem digital dapat membantu travel menyimpan data dengan lebih rapi dan mengikuti prosedur yang berlaku.
Pilgrimpal ingin menjadi penghubung antara jemaah, travel, pemerintah Indonesia, dan sistem di Arab Saudi. Harapannya, proses administrasi dapat lebih mudah, informasi lebih jelas, dan penanganan masalah di lapangan dapat dilakukan lebih cepat.
Bagi Indonesia, penggunaan teknologi semacam ini juga dapat menunjukkan bahwa layanan jemaah tidak hanya bergantung pada jumlah keberangkatan. Indonesia juga perlu memiliki sistem yang membantu memastikan jemaah dapat dilayani dengan baik selama berada di Arab Saudi.
Pada akhirnya, masalah jemaah tersasar memang tidak dapat dihapus sepenuhnya hanya dengan aplikasi. Namun, teknologi dapat membantu memperkecil risiko, mempercepat pencarian, dan membuat travel memiliki data yang lebih baik ketika harus mengambil keputusan.
Sumber: Podcast Media Asphirasi




