Regulasi

5 Miqat Umrah dan Ketentuannya, Jemaah Indonesia Wajib Tahu Sebelum Terbang

5 Miqat Umrah dan Ketentuannya, Jemaah Indonesia Wajib Tahu Sebelum Terbang

Miqat adalah batas tempat dan waktu yang menjadi ketentuan bagi jemaah untuk memulai ihram sebelum memasuki Tanah Haram. Bagi jemaah Indonesia, titik miqat bergantung pada rute perjalanan: mereka yang lebih dulu singgah di Madinah umumnya mengambil miqat di Dzulhulaifah atau Bir Ali, sedangkan yang terbang langsung ke Jeddah perlu sudah berihram sebelum melewati atau ketika melintasi garis sejajar miqat.

Memahami miqat bukan urusan teknis semata. Melewati miqat tanpa berihram bagi orang yang hendak haji atau umrah dapat menimbulkan konsekuensi fikih, termasuk kewajiban dam dalam kondisi tertentu. Karena itu, jemaah perlu tahu sejak di tanah air di mana dan kapan ia harus mengenakan pakaian ihram serta kapan niat ihram dilakukan.

Apa Beda Miqat Zamani dan Miqat Makani?

Para ulama membagi miqat menjadi dua. Miqat zamani adalah batas waktu, sedangkan miqat makani adalah batas tempat. Untuk umrah, miqat zamani berlaku sepanjang tahun, sehingga umrah secara umum dapat dikerjakan kapan saja. Yang perlu diperhatikan jemaah adalah miqat makani, yaitu lokasi yang menjadi batas bagi orang yang hendak memasuki ihram.

Lima Miqat Makani yang Ditetapkan

Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, ada lima miqat makani bagi orang yang datang dari luar Tanah Haram:

  1. Dzulhulaifah atau Bir Ali, miqat bagi yang datang dari arah Madinah. Inilah miqat yang paling dikenal jemaah Indonesia yang memulai perjalanan dari Madinah.
  2. Al-Juhfah, miqat bagi yang datang dari arah Syam. Lokasi ini kini umumnya dikaitkan dengan Rabigh yang berada di kawasan yang sama.
  3. Qarnul Manazil, miqat bagi yang datang dari arah Najd. Salah satu lokasi yang terkait dengan miqat ini adalah As-Sail Al-Kabir.
  4. Yalamlam, miqat bagi yang datang dari arah Yaman.
  5. Dzatu Irqin, miqat bagi yang datang dari arah Irak.

Adapun orang yang sudah berada di Makkah dan hendak berumrah, ia perlu keluar ke luar batas Tanah Haram untuk memulai ihram. Tan'im merupakan salah satu lokasi yang dikenal untuk keperluan tersebut, meski ketentuan operasional dapat mengikuti aturan yang berlaku saat perjalanan.

Bagaimana Jemaah yang Terbang Langsung ke Jeddah?

Jemaah yang terbang langsung ke Jeddah dari Indonesia perlu memperhatikan posisi pesawat terhadap miqat. Jika rute penerbangan melewati garis sejajar miqat sebelum pesawat tiba di Jeddah, jemaah dapat mengenakan pakaian ihram sebelum keberangkatan dan melakukan niat ketika mendekati atau melintasi miqat sesuai arahan pembimbing ibadah.

Pembimbing ibadah atau pihak penerbangan dapat memberikan pengingat menjelang waktu miqat. Karena itu, jemaah sebaiknya tidak menunggu sampai pesawat mendarat di Jeddah jika rute yang ditempuh mengharuskan ihram sebelum melewati miqat.

Di Indonesia juga terdapat pandangan yang membolehkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah sebagai tempat memulai ihram bagi jemaah yang datang melalui udara. Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki fatwa yang membolehkan penggunaan Bandara King Abdul Aziz sebagai miqat bagi jemaah Indonesia dalam kondisi tertentu.

Ketentuan mengenai miqat dari Jeddah merupakan salah satu persoalan yang memiliki perbedaan pandangan fikih. Karena itu, jemaah sebaiknya mengikuti panduan pembimbing ibadah dan ketentuan yang digunakan oleh penyelenggara perjalanan, dengan mengetahui terlebih dahulu dasar fikih yang menjadi pegangan.

Persiapan Agar Tidak Terlewat Miqat

  • Kenakan pakaian ihram sejak di bandara keberangkatan atau saat transit jika diperlukan. Pakaian ihram tidak sama dengan dimulainya status ihram; niat dilakukan ketika mencapai miqat sesuai rute perjalanan.
  • Taruh kain ihram di tas kabin, bukan di bagasi, supaya mudah dijangkau ketika diperlukan.
  • Lakukan persiapan sebelum ihram, termasuk mandi sunah dan kebutuhan perawatan diri yang perlu diselesaikan sebelum niat ihram.
  • Tanyakan kepada pembimbing ibadah titik miqat yang akan dipakai sesuai rute penerbangan.

Setelah berihram, jemaah terikat berbagai larangan yang perlu dipahami sejak awal. Penjelasannya dapat dibaca dalam artikel Rukun, Wajib, dan Larangan Ihram dalam Ibadah Umrah.

Catatan ASPHIRASI

Penentuan miqat merupakan salah satu bagian yang perlu dijelaskan dalam bimbingan ibadah. Jemaah yang baru pertama kali umrah belum tentu mengetahui kapan pesawat melintasi garis miqat, sehingga informasi mengenai rute penerbangan dan waktu mengambil miqat perlu diberikan sebelum keberangkatan.

Jemaah dapat menanyakan hal tersebut saat manasik, termasuk rute penerbangan, titik miqat yang akan digunakan, kapan pakaian ihram perlu dikenakan, dan kapan niat dilakukan.

Bagi jemaah, pertanyaan tentang miqat juga layak diajukan sebelum membayar paket perjalanan. Informasi yang jelas mengenai rute dan bimbingan ibadah dapat membantu jemaah mempersiapkan diri sebelum keberangkatan.

Catatan mengenai kemutakhiran data

Rute penerbangan, titik miqat yang digunakan atau diumumkan dalam perjalanan, serta panduan manasik dapat berbeda antarperjalanan. Jemaah disarankan mengonfirmasi kepada pembimbing ibadah penyelenggara yang memberangkatkan serta merujuk panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah atau otoritas terkait yang berlaku pada saat perjalanan.

Bagikan