
Juru bicara militer Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, menegaskan negaranya akan membela Arab Saudi “sampai sejauh apa pun” jika Kerajaan itu diserang. Pernyataan Direktur Jenderal Inter-Services Public Relations (ISPR) itu disampaikan kepada Arab News pada Kamis (17/9/2026), di tengah eskalasi serangan rudal dan drone oleh gerakan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran terhadap sejumlah kota di Arab Saudi.
Rangkaian serangan terbaru itu antara lain berupa serpihan dari sebuah drone yang dicegat, yang menewaskan satu orang dan melukai dua orang di Taif pada Kamis, sementara lebih dari 80 orang tercatat terluka dalam rangkaian serangan belakangan ini. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang memerangi Houthi di Yaman juga mengatakan pekan ini telah mencegat sebuah drone Houthi yang diluncurkan ke arah Makkah sebelum memasuki wilayah udara terlarang di atas kota tersebut. Secara terpisah, drone yang berasal dari Irak merusak tiga stasiun pompa di jalur pipa minyak East-West Pipeline milik Arab Saudi, sehingga jalur ekspor minyak tersebut terpaksa ditutup sementara.
“Pakistan berdiri penuh di sisi Kerajaan Arab Saudi, baik secara diplomatik maupun fisik,” kata Chaudhry kepada Arab News. “Dan saya ingin menegaskan di sini kata fisik... Kami akan pergi sejauh apa pun.” Ia menambahkan bahwa komitmen tersebut juga mencakup perlindungan terhadap dua kota tersuci Islam, Makkah dan Madinah.
Nada Pakistan kini lebih tegas dibanding sepekan sebelumnya
Pernyataan Chaudhry terasa lebih keras dibanding formulasi publik Islamabad pekan sebelumnya, saat Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebut belum ada pembahasan respons militer di bawah Makkah Joint Defense Agreement, meski menegaskan Islamabad akan bertindak “ketika waktunya tiba”. Pakta yang diteken pada 7 Agustus itu menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap Pakistan, Arab Saudi, atau Turkiye dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya, dan dibangun di atas Strategic Mutual Defense Agreement yang diteken Pakistan dan Arab Saudi pada September 2025 dengan prinsip serupa.
Rincian operasional penuh dari kedua perjanjian tersebut belum dipublikasikan, sehingga masih ada pertanyaan terbuka soal bentuk respons militer yang sebenarnya diwajibkan.
Pakistan sudah menempatkan ribuan pasukan dan sistem pertahanan udara di Arab Saudi
Menurut laporan Reuters yang dikutip Arab News, pada Mei Islamabad telah mengirim sekitar 8.000 tentara, satu skuadron jet tempur JF-17, sejumlah drone, dan sistem pertahanan udara HQ-9 ke Arab Saudi. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa pengerahan tersebut berasal dari beberapa sumber keamanan dan pemerintah, sementara militer serta Kementerian Luar Negeri Pakistan dan pemerintah Arab Saudi tidak memberikan konfirmasi resmi saat laporan itu diterbitkan.
Arab Saudi sendiri dilaporkan Associated Press telah menghubungi sejumlah sekutu, termasuk Pakistan, Inggris, Prancis, dan Mesir, untuk meminta dukungan seiring tekanan pada pasokan sistem pertahanan rudal Kerajaan akibat serangan Houthi yang berulang. Hingga laporan itu terbit, belum ada negara yang secara terbuka berkomitmen memberi bantuan militer tambahan.
Chaudhry tidak mengungkapkan apakah ada permintaan baru dari Arab Saudi untuk tambahan pasukan, sistem pertahanan udara, atau keterlibatan langsung melawan Houthi. Ia juga tidak menegaskan maupun membantah apakah daya gentar nuklir Pakistan termasuk dalam jaminan pertahanan tersebut. Pernyataan sebelumnya mengenai isu itu datang dari Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif, yang pernah memberikan formulasi berbeda mengenai kemungkinan penggunaan kemampuan nuklir Pakistan.
Pakistan juga menjalankan komunikasi diplomatik untuk mencegah eskalasi meluas
Selain komitmen militer, Islamabad menjalankan upaya diplomatik agar konfrontasi regional tidak melebar. Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan, Field Marshal Syed Asim Munir, melakukan panggilan telepon pada Rabu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang saat itu berada di Beijing. Media pemerintah Iran menyebut keduanya membahas perkembangan kawasan, tanpa merinci apakah serangan Houthi secara spesifik dibahas.
Chaudhry menyebut kepemimpinan politik dan militer Pakistan terus berkomunikasi dengan pimpinan Arab Saudi terkait seluruh isu ini, sembari Islamabad berkonsultasi dengan pemerintah di kawasan untuk mencari “hasil yang dinegosiasikan dan damai”.
Pakistan sebelumnya juga menjadi mediator perundingan Amerika Serikat-Iran yang menghasilkan Islamabad Memorandum of Understanding pada Juni. Perundingan lanjutan kemudian menghadapi hambatan di tengah eskalasi kawasan dan perbedaan mengenai implementasinya. Bagian mengenai perkembangan perundingan tersebut berasal dari laporan Arab News dan sebaiknya tidak diperluas menjadi kesimpulan bahwa proses diplomatik telah berakhir.
Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?
Komitmen pertahanan Pakistan ini kembali menempatkan hubungan keamanan Islamabad-Riyadh dalam perhatian ketika Arab Saudi menghadapi rangkaian serangan Houthi, termasuk insiden yang menimbulkan korban jiwa di Taif dan pencegatan drone yang dilaporkan diluncurkan ke arah Makkah. Namun perkembangan ini masih berada di ranah geopolitik dan militer regional, sehingga dampak langsungnya terhadap operasional ibadah haji dan umrah perlu terus dicermati, bukan diasumsikan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan penyelenggara perjalanan ibadah:
- Memantau perkembangan keamanan di kota-kota yang disebut terdampak seperti Taif, serta status jalur penerbangan dan bandara terkait.
- Mengikuti informasi resmi dari otoritas Arab Saudi dan Kedutaan Besar RI sebelum menyampaikan penjelasan kepada jemaah, agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak berdasar.
- Memantau perkembangan infrastruktur energi dan biaya logistik kawasan apabila gangguan terhadap fasilitas strategis berlanjut.
- Mengikuti perkembangan diplomatik antara Pakistan, Arab Saudi, dan Iran karena dinamika tersebut berkaitan dengan situasi keamanan kawasan.
Catatan ASPHIRASI
Pernyataan tegas Pakistan menunjukkan bahwa komitmen pertahanan Islamabad terhadap Arab Saudi kembali ditegaskan secara terbuka di tengah rangkaian serangan Houthi yang telah menimbulkan korban jiwa dan luka, termasuk insiden di Taif serta pencegatan drone yang dilaporkan diluncurkan ke arah Makkah.
Dalam sumber yang diperiksa untuk artikel ini, belum ditemukan laporan yang mengaitkan rangkaian serangan tersebut dengan gangguan langsung terhadap operasional penerbangan atau layanan ibadah umrah. Karena itu, penyelenggara travel perlu menjaga jalur komunikasi aktif dengan otoritas resmi Arab Saudi dan perwakilan Indonesia setempat, memastikan rencana kontingensi perjalanan tersedia, serta menyampaikan informasi yang akurat dan tidak berlebihan kepada jemaah.
Yang perlu dipantau selanjutnya adalah apakah Arab Saudi mengajukan permintaan bantuan militer tambahan yang direspons konkret oleh Pakistan atau negara lain, bagaimana perkembangan komunikasi diplomatik Pakistan dengan Iran dan Arab Saudi, serta apakah terdapat dampak lanjutan pada infrastruktur energi dan transportasi kawasan yang dapat memengaruhi kelancaran perjalanan jemaah.
Sumber: Arab News




