
SIDOARJO — Rencana pemanfaatan Bandara Internasional Dhoho Kediri untuk penerbangan haji 2027 mulai masuk pada pembahasan yang lebih spesifik di sisi kebandarudaraan. Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Jawa Timur pada Senin (31/8/2026) melakukan audiensi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah III Surabaya untuk membahas kesiapan bandara tersebut.
Pertemuan ini tidak mengubah status Dhoho menjadi embarkasi haji. Namun, pembahasannya menunjukkan bahwa persiapan mulai diarahkan pada aspek penerbangan yang berada dalam lingkup koordinasi otoritas bandar udara.
Sebelumnya, pemerintah telah menyiapkan Dhoho sebagai alternatif untuk mengurangi beban Embarkasi Surabaya dan Bandara Juanda. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf pada Juli menyatakan sebagian keberangkatan jemaah Jawa Timur direncanakan diarahkan melalui Dhoho mulai 2027.
Otban Masuk dalam Tahap Persiapan yang Lebih Spesifik
Dalam pertemuan di Sidoarjo, pembahasan diarahkan pada kebutuhan penerbangan apabila Dhoho nantinya digunakan untuk operasional haji.
Menurut keterangan Otban Wilayah III yang dikutip dalam rilis Kemenhaj Jatim, kesiapan tersebut mencakup:
- operasional penerbangan;
- keselamatan penerbangan;
- keamanan;
- fasilitas bandar udara;
- pelayanan penumpang; dan
- koordinasi lintas sektor sejak tahap awal.
Otban Wilayah III memang memiliki fungsi pengaturan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan penerbangan di bandar udara dalam wilayah kerjanya. Bandara Dhoho tercatat berada dalam wilayah kerja Otban Wilayah III Surabaya.
Karena itu, keterlibatan Otban dalam tahap persiapan menjadi bagian penting dari proses menuju penggunaan Dhoho untuk penerbangan haji. Namun, rilis 31 Agustus tidak menyebut adanya persetujuan final dari Otban terhadap operasional haji di Dhoho.
Kesiapan Masih Bersifat Bertahap
Kepala Otban Wilayah III Surabaya Agustono Soetasman menyatakan koordinasi akan terus dilakukan sesuai tugas dan kewenangan lembaganya.
Pernyataan tersebut juga menggunakan kondisi “apabila nantinya ditetapkan” untuk penggunaan Dhoho dalam operasional penerbangan haji.
Artinya, perkembangan terbaru lebih tepat dibaca sebagai penguatan koordinasi persiapan, bukan pengumuman bahwa Dhoho telah memperoleh penetapan final sebagai embarkasi.
Hal ini penting karena rencana Dhoho memang sejak awal dikembangkan secara bertahap. Pada awal Juli, Kemenhaj sudah menggelar rapat persiapan yang melibatkan Otban, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.
Mengapa Aspek Penerbangan Menjadi Penting?
Pemanfaatan Dhoho untuk haji bukan hanya persoalan menyediakan terminal bagi jemaah. Bandara tersebut harus mampu mendukung rangkaian penerbangan dalam skala besar sekaligus memenuhi ketentuan penerbangan yang berlaku.
Sebelumnya, pemerintah menjelaskan bahwa Dhoho dipertimbangkan antara lain karena fasilitas bandaranya dinilai mampu mendukung penerbangan pesawat berbadan besar. Rencana tersebut juga berkaitan dengan upaya mengurangi konsentrasi keberangkatan di Embarkasi Surabaya, yang pada musim haji 2026 menangani 116 kloter.
Dengan demikian, ada dua persoalan yang berjalan bersamaan:
- Kebutuhan penyelenggaraan haji, terutama pembagian beban keberangkatan dari Jawa Timur.
- Kesiapan penerbangan, termasuk aspek yang harus dikoordinasikan dengan otoritas bandar udara.
Pertemuan 31 Agustus terutama memberikan perkembangan pada bagian kedua.
Dhoho Diproyeksikan Mendekatkan Akses Jemaah
Kemenhaj Jatim juga kembali mengaitkan Dhoho dengan kebutuhan akses jemaah dari wilayah Jawa Timur bagian selatan dan sekitarnya.
Dalam rilis tersebut, wilayah yang disebut berpotensi memperoleh akses melalui Dhoho antara lain:
- Kediri;
- Madiun;
- Nganjuk;
- Tulungagung;
- Blitar;
- Trenggalek;
- Ponorogo; dan
- wilayah di sekitarnya.
Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada titik keberangkatan di Surabaya bagi jemaah yang secara geografis lebih dekat dengan Kediri.
Rencana pembagian wilayah tersebut sebelumnya juga telah menjadi bagian dari pembahasan pemerintah mengenai Dhoho sebagai alternatif embarkasi.
Persiapan Dhoho Bergerak dari Rencana ke Koordinasi Teknis
Sejak pemerintah mengumumkan rencana penggunaan Dhoho untuk haji 2027, proses persiapannya telah melalui sejumlah forum koordinasi dan peninjauan. Pada akhir Juli, misalnya, Kanwil Kemenhaj Jatim juga melaporkan persiapan Dhoho sebagai bagian dari agenda penyusunan layanan haji 2027.
Audiensi dengan Otban pada 31 Agustus menambahkan satu perkembangan: aspek kebandarudaraan dan kesiapan penerbangan kini kembali menjadi bagian khusus dari koordinasi antara Kemenhaj Jatim dan otoritas penerbangan.
Bagi jemaah, hasil akhirnya bukan sekadar tersedianya titik keberangkatan baru. Jika Dhoho benar-benar digunakan pada musim haji 2027, seluruh rangkaian penerbangan dan pelayanan penumpang harus dapat berjalan sesuai ketentuan.
Untuk saat ini, yang dapat dipastikan dari perkembangan 31 Agustus adalah bahwa proses menuju kemungkinan penggunaan Dhoho terus berjalan dan koordinasi dengan Otban diperkuat. Penetapan final dan kesiapan operasional penuh belum dinyatakan dalam rilis tersebut.
Sumber: Kemenhaj Jatim




