Saudi Update

Pertahanan Koalisi Gagalkan Serangan Rudal dan Drone Houthi ke Riyadh dan Khamis Mushayt

Pertahanan Koalisi Gagalkan Serangan Rudal dan Drone Houthi ke Riyadh dan Khamis Mushayt

Pasukan pertahanan udara koalisi yang mendukung legitimasi pemerintah Yaman mencegat dan menghancurkan 2 drone serta 2 rudal balistik yang diluncurkan milisi Houthi ke arah Arab Saudi pada Sabtu dini hari, 26 September 2026.

Menurut laporan resmi Saudi Press Agency (SPA), juru bicara Pasukan Koalisi, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, menyatakan 2 drone yang menyasar kawasan Riyadh telah dicegat dan dihancurkan. Sekitar 30 menit kemudian, Al-Maliki mengumumkan pertahanan udara koalisi juga mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang diluncurkan milisi Houthi ke arah Khamis Mushayt. Sekitar 20 menit berikutnya, ia mengumumkan rudal lain yang ditembakkan ke arah kota tersebut juga berhasil dicegat dan dihancurkan.

Pertahanan Sipil Arab Saudi sebelumnya mengeluarkan peringatan sepanjang malam untuk Khamis Mushayt dan Abha, 2 kota di wilayah administratif Asir di barat daya negara itu. Tidak ada peringatan yang dilaporkan dikeluarkan untuk Riyadh.

Serangan ini menyusul enam rudal Houthi ke Yanbu dan Taif dua hari sebelumnya

Serangan terbaru ini terjadi 2 hari setelah koalisi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan 6 rudal balistik yang ditembakkan Houthi ke arah Yanbu dan Taif pada Kamis, 24 September.

Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk padat di Yaman serta sebagian besar wilayah utara negara itu, meningkatkan serangan ke Arab Saudi setelah mendeklarasikan blokade laut terhadap Kerajaan pada Juli. Serangan kelompok ini juga menyasar kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi di Laut Merah, menurut laporan media yang mengutip perkembangan konflik tersebut.

Kerja sama pertahanan Arab Saudi, Pakistan, dan Turki

Beberapa jam sebelum serangan Sabtu itu, para kepala staf militer Arab Saudi, Pakistan, dan Turki bertemu di Riyadh untuk membahas ancaman yang dihadapi Kerajaan serta keamanan kawasan.

Ketiga negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah pada 7 Agustus 2026. Perjanjian tersebut menyatakan serangan bersenjata terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh pihak, sebagai bagian dari kerja sama pertahanan bersama.

Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Khalid bin Salman, mengatakan pada Sabtu dini hari bahwa ia menegaskan kembali bersama Kepala Pasukan Pertahanan Pakistan, Field Marshal Asim Munir, komitmen untuk menghadapi serangan terhadap Kerajaan sesuai dengan perjanjian tersebut.

Pada Kamis, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan Prancis akan mengirimkan sarana militer untuk membantu melindungi Yanbu, pelabuhan penting bagi ekspor minyak Arab Saudi, menyusul serangan Houthi. “Kami akan mengirimkan aset militer, yaitu personel, radar, dan sistem pertahanan, untuk melindungi lokasi ini,” kata Macron dalam wawancara televisi malam itu.

Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?

Laporan resmi mengenai serangan 26 September tidak menyebut adanya gangguan pada penerbangan atau operasional ibadah. Namun, perkembangan serangan di wilayah Arab Saudi menjadi informasi yang relevan untuk dipantau penyelenggara travel haji dan umrah Indonesia.

Penyelenggara dapat:

  • Memantau informasi resmi otoritas penerbangan dan Kementerian Haji Arab Saudi terkait rute serta jadwal penerbangan jemaah.
  • Menjalin komunikasi aktif dengan mitra muktamar atau penyedia layanan di Arab Saudi untuk memastikan kondisi keamanan terkini sebelum keberangkatan.
  • Menyiapkan rencana kontinjensi bagi jemaah yang sedang berada di Arab Saudi apabila situasi keamanan berubah.

Catatan ASPHIRASI

Serangan pada 26 September yang menyasar arah Riyadh dan Khamis Mushayt menambah laporan mengenai serangan rudal dan drone terhadap wilayah Arab Saudi. Namun, laporan yang tersedia belum menyebut adanya gangguan langsung terhadap penerbangan maupun aktivitas ibadah umrah.

Penyelenggara travel haji dan umrah perlu memastikan saluran informasi dengan otoritas Arab Saudi dan maskapai tetap terbuka, serta menyiapkan jalur komunikasi cepat dengan jemaah yang sedang berada di sana apabila muncul pembatasan atau perubahan rute.

Perkembangan yang perlu dipantau selanjutnya adalah informasi resmi mengenai kondisi keamanan, penerbangan, dan operasional layanan di Arab Saudi.

Sumber: Arab News

Bagikan