
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh mengumumkan pada Senin, 12 Oktober 2026, bahwa sejumlah warga negara Amerika ditahan oleh otoritas Arab Saudi karena memotret peristiwa terkini di negara tersebut. Kedutaan tidak merinci jumlah warga AS yang ditahan maupun menjelaskan secara spesifik peristiwa yang mereka foto.
Dalam pernyataannya, kedutaan merujuk pada peringatan otoritas Saudi bahwa merekam, memublikasikan, atau membagikan informasi terkait sistem pertahanan terhadap rudal dan drone serta lokasi jatuhnya proyektil dapat menimbulkan konsekuensi hukum.
Kedutaan AS juga menyatakan bahwa pegawai pemerintah Amerika Serikat yang bekerja di Arab Saudi harus memperoleh otorisasi khusus sebelum menggunakan bandara mana pun di negara tersebut. Kedutaan turut mengimbau warga AS agar sangat berhati-hati jika memilih menggunakan bandara di Arab Saudi.
Serangan Houthi di Bandara Riyadh Tewaskan Sedikitnya 18 Orang
Pernyataan kedutaan tersebut disampaikan di tengah rangkaian serangan terhadap bandara di Arab Saudi yang dikaitkan dengan kelompok Houthi.
Menurut laporan Arab News pada 12 Oktober, sedikitnya 18 orang tewas dalam serangkaian serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Jumlah tersebut mencakup 13 korban jiwa dalam serangan pada Sabtu, 10 Oktober. Ratusan orang lainnya dilaporkan terluka.
Serangan di Bandara Abha Tewaskan Dua Orang
Sebelumnya, serangan terhadap Bandara Internasional Abha pada Selasa, 6 Oktober, menewaskan dua perempuan berkewarganegaraan Maroko dan Aljazair. Otoritas penerbangan sipil Saudi juga melaporkan puluhan korban luka dalam serangan yang menargetkan bandara Abha dan Riyadh pada pekan tersebut.
Peringatan mengenai perekaman dan penyebaran informasi terkait sistem pertahanan serta lokasi dampak serangan menjadi salah satu hal yang disoroti kedutaan AS dalam pengumumannya mengenai penahanan warga Amerika.
Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?
Peringatan kedutaan AS ini ditujukan kepada warga negaranya, namun aturan hukum Arab Saudi tentang larangan merekam atau mempublikasikan lokasi dampak serangan rudal dan drone berlaku bagi siapa pun yang berada di wilayah tersebut, termasuk jemaah dan pelaku usaha travel haji serta umrah asal Indonesia yang transit atau menggunakan bandara di Arab Saudi.
- Jemaah dan petugas travel perlu menghindari memotret, merekam, atau membagikan gambar di area yang diketahui menjadi lokasi insiden keamanan, termasuk di sekitar bandara.
- Travel agent perlu mewanti-wanti jemaah agar tidak mengabadikan momen di area transit bandara yang berpotensi terdampak insiden keamanan, sesuai peringatan otoritas Saudi.
- Rencana penggunaan Bandara Riyadh maupun Bandara Internasional Abha untuk transit atau keberangkatan jemaah perlu dicermati berdasarkan kondisi keamanan terkini.
Catatan ASPHIRASI
Penahanan warga asing karena memotret lokasi serangan menunjukkan bahwa otoritas Arab Saudi menerapkan aturan ketat terhadap dokumentasi insiden keamanan terkait serangan rudal dan drone, termasuk di area bandara yang kerap dilalui jemaah umrah dan haji asal Indonesia.
Penyelenggara travel haji dan umrah perlu menyampaikan pengingat kepada jemaah sebelum keberangkatan agar tidak merekam atau memotret area yang berkaitan dengan insiden keamanan, baik selama transit di bandara maupun saat berada di Tanah Suci, guna menghindari risiko hukum di Arab Saudi.
Perkembangan lebih lanjut mengenai kondisi keamanan di Bandara Riyadh dan Bandara Internasional Abha, serta kemungkinan pembaruan ketentuan perjalanan dari otoritas Arab Saudi, masih perlu dipantau oleh pelaku usaha travel dan jemaah dalam waktu dekat.
Sumber: Arab News




