Berita

Abu Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Meluas, 301 Penerbangan Soetta Terdampak

Abu Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Meluas, 301 Penerbangan Soetta Terdampak

Tangerang — Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terus meluas pada Minggu (6/9). Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali memperpanjang penghentian operasional hingga pukul 21.30 WIB, sementara dampaknya telah menjalar ke sejumlah bandara dan ratusan penerbangan.

Perpanjangan terbaru tersebut menjadi perkembangan lanjutan setelah operasional Soetta sebelumnya beberapa kali dihentikan dan diperpanjang berdasarkan pembaruan informasi aeronautika. AirNav Indonesia masih memantau kondisi ruang udara dan sebaran abu vulkanik sebelum operasional penerbangan dapat dipulihkan.

Bukan Lagi Sekadar Penutupan Soetta

Data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menunjukkan dampak gangguan sudah mencakup lebih dari satu bandara.

Dalam pemutakhiran hingga pukul 10.35 WIB, tercatat 373 penerbangan terdampak akibat penutupan sejumlah bandara. Di Soekarno-Hatta sendiri, sebanyak 202 penerbangan tercatat terdampak dalam data tersebut.

Namun, angka tersebut perlu dibaca berdasarkan periode dan cakupan data masing-masing. Pengelola Bandara Soekarno-Hatta sebelumnya mencatat 301 penerbangan terdampak untuk periode 01.30–13.30 WIB, terdiri dari:

  • 233 penerbangan domestik;
  • 58 penerbangan internasional;
  • 10 penerbangan kargo.

Dampaknya mencakup pembatalan, keterlambatan, hingga pengalihan pendaratan.

Artinya, persoalan yang muncul bukan hanya penumpang yang tertahan di satu bandara. Gangguan pada penerbangan yang menuju atau berangkat dari bandara terdampak juga dapat memengaruhi rotasi pesawat dan jadwal penerbangan berikutnya.

Sejumlah Bandara Ikut Terdampak

Pada perkembangan sebelumnya, Ditjen Perhubungan Udara mencatat penutupan atau pembatasan operasional di beberapa bandara, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Budiarto, dan kemudian Husein Sastranegara.

Bandara Husein Sastranegara di Bandung juga sempat ditutup setelah hasil pemantauan menunjukkan adanya sebaran abu vulkanik.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik tidak hanya menjadi persoalan lokal di sekitar Anak Krakatau. Kondisi ruang udara harus terus dievaluasi karena pergerakan abu dapat memengaruhi jalur penerbangan dan keputusan operasional bandara.

Penumpang Mulai Masuk Tahap Pemulihan Layanan

Di tengah penutupan yang terus diperpanjang, pengelola Soekarno-Hatta telah menjalankan langkah pemulihan bagi penumpang yang terdampak.

Fasilitas yang disiapkan antara lain:

  • makanan dan minuman ringan;
  • bus untuk membantu mobilitas penumpang menuju hotel melalui koordinasi dengan maskapai;
  • area istirahat di terminal;
  • posko penanganan;
  • layanan informasi dari masing-masing maskapai.

Pengelola juga mengoordinasikan operasional tenant di terminal agar kebutuhan penumpang tetap dapat dilayani selama gangguan berlangsung.

Ditjen Perhubungan Udara sebelumnya juga menegaskan bahwa hak penumpang terdampak tetap harus dipenuhi maskapai sesuai ketentuan yang berlaku. Penumpang diminta mengikuti informasi dan pilihan penanganan yang diberikan maskapai masing-masing.

Pemulihan Tidak Bisa Langsung Normal

Perpanjangan penutupan hingga 21.30 WIB membuat persoalan berikutnya bukan sekadar kapan bandara kembali dibuka.

Ditjen Perhubungan Udara telah mengingatkan adanya potensi cascading impact, yaitu gangguan yang merambat ke:

  • rotasi pesawat;
  • ketersediaan armada;
  • jadwal penerbangan berikutnya;
  • kapasitas terminal.

Karena itu, sekalipun ruang udara nantinya dinyatakan aman, pemulihan jadwal penerbangan tidak serta-merta berarti seluruh penerbangan dapat kembali ke jadwal normal. Penyesuaian operasional tetap bergantung pada kondisi abu vulkanik dan hasil koordinasi dengan pihak terkait.

Untuk calon penumpang, pengelola bandara dan Ditjen Perhubungan Udara mengimbau agar tidak datang ke bandara selama periode penutupan tanpa kepastian dari maskapai. Status penerbangan sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi maskapai sebelum melakukan perjalanan ke bandara.

Sementara itu, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih menjadi faktor utama yang menentukan perkembangan kondisi ruang udara. BNPB melaporkan aktivitas erupsi menerus masih berlangsung dan sebaran abu terus dipantau bersama instansi terkait.