
Arab Saudi memimpin ekspansi hotel di kawasan Timur Tengah dengan 110 ribu kamar dalam tahap pengembangan, atau sekitar separuh dari total pipeline kamar hotel di kawasan GCC dan Afrika Utara. Dilansir Arab News pada 23 September 2026, mengutip analisis lembaga konsultan perhotelan global HVS, ekspansi ini berlangsung seiring investasi Kerajaan yang terus meningkat pada destinasi wisata dan infrastruktur perhotelan.
Pipeline tersebut mencakup Riyadh, Makkah, dan Madinah, serta sejumlah proyek destinasi baru seperti Diriyah, Neom, Laut Merah, dan Amaala. Seluruh proyek ini terkait dengan perluasan sektor pariwisata Arab Saudi secara umum.
Pipeline Arab Saudi menjadi bagian dari gelombang pembangunan hotel senilai 90 miliar dolar AS yang lebih luas di kawasan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan Afrika Utara. HVS memperkirakan gelombang ini akan menambah sekitar 200 ribu kamar dan meningkatkan pasokan kamar hotel yang sudah ada di kawasan tersebut sebesar 27 persen.
Lebih dari 55 persen pasokan hotel baru dijadwalkan rampung sebelum 2030
Saat ini sekitar 88 ribu kamar berada dalam tahap konstruksi, sementara 25 ribu kamar lainnya masih di tahap perencanaan akhir. HVS mencatat lebih dari 55 persen pasokan hotel yang akan datang di kawasan ini dijadwalkan selesai antara sekarang hingga 2030.
"Pipeline pembangunan hotel di kawasan GCC dan Afrika Utara tetap menjadi salah satu yang paling signifikan secara global, mencerminkan kepercayaan investor yang berkelanjutan terhadap fundamental jangka panjang sektor pariwisata dan perhotelan di kawasan ini," kata Hala Matar Choufany, Presiden HVS untuk wilayah Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan, sebagaimana dikutip Arab News. "Investasi kawasan ini dalam ekspansi hotel menegaskan bukan hanya skala pembangunan, tetapi juga kedalaman modal yang terus mendukung ambisi pariwisata kawasan," tambahnya.
Target Arab Saudi naik menjadi 150 juta wisatawan pada 2030
Laporan Saudi Vision 2030 2025 mencatat Arab Saudi telah melampaui target awal 100 juta wisatawan lebih cepat dari jadwal. Target tersebut kemudian dinaikkan menjadi 150 juta wisatawan pada 2030.
Sepanjang 2025, Arab Saudi mencatat belanja pariwisata sekitar 304 miliar riyal Saudi atau 81 miliar dolar AS, menurut laporan Saudi Vision 2030 2025 dan data Kementerian Pariwisata. Choufany menambahkan bahwa pengembangan destinasi berskala besar di Arab Saudi ditopang lembaga investasi yang didukung pemerintah serta kemitraan strategis pemerintah-swasta, sementara pengembang di kawasan yang lebih luas mendiversifikasi pendapatan lewat hunian bermerek dan proyek serba guna.
Apa artinya bagi travel dan jemaah umrah serta haji Indonesia?
Pertumbuhan pasokan kamar hotel di Arab Saudi, termasuk proyek yang disebut HVS berada di Makkah dan Madinah, perlu dicermati penyelenggara umrah dan haji Indonesia karena berpotensi memengaruhi ketersediaan serta variasi akomodasi jemaah dalam beberapa tahun mendatang. Data HVS menyebut sejumlah lokasi utama pengembangan, termasuk Makkah dan Madinah, tetapi tidak merinci jumlah kamar berdasarkan masing-masing kota atau destinasi.
- Memantau perkembangan proyek hotel baru di Makkah dan Madinah sebagai peluang perluasan pilihan akomodasi jemaah dari sisi kelas dan lokasi.
- Mencermati skema pembiayaan berbasis lembaga investasi pemerintah dan kemitraan publik-swasta yang disebut HVS, karena berpotensi memengaruhi dinamika harga dan negosiasi kontrak akomodasi.
- Menjadikan pertumbuhan pipeline hotel Arab Saudi sebagai salah satu indikator kapasitas akomodasi jangka menengah yang perlu terus dipantau.
Catatan ASPHIRASI
Ekspansi hotel senilai 90 miliar dolar AS di kawasan GCC dan Afrika Utara, dengan Arab Saudi menyumbang sekitar separuh dari 110 ribu kamar dalam pipeline, menunjukkan tren peningkatan kapasitas akomodasi yang berpotensi berdampak pada industri umrah dan haji Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, terutama jika sebagian proyek terealisasi di Makkah dan Madinah.
Penyelenggara perjalanan umrah dan haji disarankan mengikuti perkembangan proyek hotel di kedua kota suci secara berkala, termasuk melalui rilis resmi Kementerian Pariwisata Arab Saudi dan lembaga riset perhotelan seperti HVS, agar dapat menyesuaikan strategi kontrak akomodasi jemaah lebih awal.
Ke depan, perlu dipantau rincian jumlah kamar berdasarkan lokasi proyek, jadwal penyelesaian konstruksi hingga 2030, serta kebijakan Kementerian Pariwisata Arab Saudi terkait pengelolaan kapasitas kamar menjelang musim haji dan umrah, mengingat data yang dirilis HVS masih bersifat agregat dan tidak merinci kapasitas berdasarkan masing-masing kota atau destinasi.
Sumber: Arab News




