
BANDA ACEH — Calon jemaah haji asal Banda Aceh yang dijadwalkan berangkat pada 2027 akan mengikuti rangkaian manasik sebanyak 11 kali. Pembinaan tersebut digelar setiap Sabtu hingga 9 Januari 2027.
Program itu berlangsung melalui SAHABAT, kegiatan pembinaan yang digagas Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Banda Aceh. Sekitar 500 calon jemaah mengikuti pembukaan kegiatan di Masjid Babuttaqwa, Gampong Batoh, Banda Aceh, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Pembinaan tidak berhenti pada teori
Rangkaian manasik ini dirancang untuk memberi waktu persiapan yang lebih panjang kepada calon jemaah. Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan tata cara pelaksanaan ibadah haji, tetapi juga hal-hal praktis yang akan dihadapi selama berada di Tanah Suci.
Direktur Bina Jemaah Haji Reguler Kemenhaj RI, Afief Mundzir, menyebut persiapan awal penting karena penyelenggaraan haji dapat mengalami perubahan. Ketentuan dan pola pelayanan, misalnya, dapat menyesuaikan kebijakan yang berlaku pada setiap musim haji.
Dengan mengikuti pembinaan secara berkala, calon jemaah memiliki kesempatan untuk mengulang materi, mengajukan pertanyaan, serta menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang mungkin muncul selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah.
Kesehatan ikut dipantau
Program SAHABAT juga melibatkan unsur kesehatan. Keterlibatan tersebut memungkinkan kesiapan fisik calon jemaah dibahas sebelum keberangkatan, bukan hanya ketika mereka sudah berada di Tanah Suci.
Kesiapan kesehatan menjadi bagian penting karena ibadah haji menuntut aktivitas fisik dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Melalui pembinaan lebih awal, calon jemaah diharapkan dapat mulai memperhatikan kondisi tubuh dan mempersiapkan diri secara bertahap.
Namun, rilis kegiatan tersebut belum merinci bentuk pemeriksaan, jenis edukasi kesehatan, maupun indikator kebugaran yang akan digunakan dalam 11 pertemuan. Informasi itu penting untuk mengetahui sejauh mana program pembinaan kesehatan dijalankan.
Jemaah ditempatkan sebagai mitra
Kepala Kantor Kemenhaj Kota Banda Aceh, M. Iqbal, mengatakan program tersebut dibangun dengan gagasan bahwa calon jemaah perlu didampingi sejak awal. Ia menolak pendekatan yang menempatkan jemaah sekadar sebagai objek pelayanan.
Menurut Iqbal, petugas perlu membangun hubungan yang lebih dekat dengan calon jemaah, mendengar kebutuhan mereka, dan memberikan arahan selama masa persiapan.
Pendekatan ini membuat manasik tidak hanya dipahami sebagai kegiatan penyampaian materi. Forum tersebut juga dapat menjadi ruang untuk mengidentifikasi persoalan calon jemaah, terutama terkait pemahaman ibadah, kondisi kesehatan, dan kebutuhan pendampingan.
SAHABAT membawa tiga misi
Nama SAHABAT merupakan akronim dari “Sukses Hajinya, Berdaya Ekonominya, dan Tinggi Adabnya”. Tiga unsur tersebut menunjukkan bahwa program ini ingin memperluas cakupan pembinaan calon jemaah.
Keberhasilan berhaji ditempatkan berdampingan dengan aspek ekonomi dan adab. Calon jemaah tidak hanya diarahkan agar memahami rangkaian ibadah, tetapi juga diharapkan mampu menjaga perilaku selama di Tanah Suci serta memiliki kesiapan dalam menjalani proses haji secara lebih mandiri.
Meski demikian, aspek pemberdayaan ekonomi dalam program tersebut belum dijelaskan secara rinci. Belum diketahui apakah bagian itu berupa edukasi pengelolaan biaya, penguatan usaha jemaah, atau kegiatan ekonomi lainnya.
Menunggu hasil pembinaan
Sebanyak 11 pertemuan memberikan ruang yang cukup panjang untuk membentuk pola pembinaan yang teratur. Tantangannya adalah memastikan setiap pertemuan memiliki materi yang jelas, metode yang sesuai, dan tindak lanjut yang dapat diukur.
Calon jemaah juga membutuhkan informasi yang mudah dipahami mengenai perubahan aturan, layanan selama di Arab Saudi, kesehatan, perlindungan diri, serta tata cara menghadapi kondisi darurat.
Jika berjalan konsisten, manasik berulang dapat membantu mengurangi ketergantungan jemaah pada petugas ketika berada di Tanah Suci. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh jumlah pertemuan, melainkan juga kualitas materi, kompetensi pembimbing, dan keterlibatan aktif calon jemaah.
Rangkaian manasik SAHABAT akan menjadi salah satu bentuk awal pembinaan calon jemaah haji Banda Aceh untuk keberangkatan 2027. Program itu dijadwalkan berlangsung hingga 9 Januari 2027 dengan kesehatan, pemahaman ibadah, adab, dan kemandirian sebagai bagian dari fokus pembinaan.
Sumber: Kemenhaj RI




