Outlook

Bukan Gratisan: Petugas Haji Membayar Ibadahnya dengan Lelah

Bukan Gratisan: Petugas Haji Membayar Ibadahnya dengan Lelah

Ada satu tuduhan tentang petugas haji yang terlalu mudah dipercaya.

Mereka cuma mau gratisan.

Tidak perlu antre puluhan tahun. Tidak perlu membayar seperti jemaah biasa. Tinggal masuk jalur petugas, dapat kesempatan ke Tanah Suci, lalu sekalian berhaji.

Selesai.

Masalahnya, haji tidak sesederhana tiket pergi dan pulang.

Dan petugas haji juga tidak sesederhana orang yang menemukan jalan pintas menuju Ka'bah.

Dalam podcast Media Asphirasi, Adhin Abdul Hakim tidak mencoba membantah tuduhan itu dengan mengatakan bahwa semua petugas adalah orang-orang suci. Ia justru bercerita tentang hal yang jauh lebih sederhana: capek.

Timnya punya pegangan: tugasku, ibadahku.

Belum tidur? Jalan.

Belum makan? Jalan.

Jemaah membutuhkan bantuan? Jalan.

Sebab, dalam logika pelayanan yang ia ceritakan, orang yang datang ke Tanah Suci bukan sekadar orang yang sedang mengejar ibadahnya sendiri. Ia datang membawa pekerjaan.

Jemaah adalah tamu Allah.

Petugas adalah orang yang harus memastikan tamu itu terlayani.

Dan kadang, pekerjaan itu berarti mendorong kursi roda sementara dirinya sendiri belum sempat beribadah dengan tenang.

“Nebeng haji” memang ada. Tapi jangan malas berpikir.

Mari jujur dulu.

Kecurigaan terhadap petugas haji tidak muncul dari ruang kosong.

Pemerintah sendiri berkali-kali mengingatkan calon petugas agar tidak memiliki mentalitas “nebeng haji”. Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak bahkan menegaskan bahwa haji bagi petugas adalah bonus, bukan tujuan utama penugasan.

Jadi, ya, potensi penyalahgunaan jalur petugas itu nyata dan harus diawasi.

Tetapi dari sana kemudian menyimpulkan bahwa semua petugas adalah pemburu haji gratis adalah lompatan logika.

Itu seperti melihat satu orang mencuri lalu memutuskan seluruh ruangan adalah pencuri.

Nyaman. Cepat. Viral.

Dan malas.

Petugas haji bekerja dalam berbagai fungsi. Ada layanan kesehatan, transportasi, konsumsi, perlindungan jemaah, layanan lansia dan disabilitas, media, hingga bimbingan ibadah. Pada 2026, sekitar 1.600 PPIH mengikuti pembekalan untuk menangani berbagai fungsi tersebut.

Mereka tidak semuanya memiliki pekerjaan yang sama.

Mereka juga tidak semuanya menjalani pengalaman yang sama.

Maka jangan jadikan satu kata—“gratisan”—sebagai palu untuk memukul semuanya.

Bagi jemaah, haji adalah tujuan. Bagi petugas, Tanah Suci adalah tempat kerja.

Ini yang sering hilang dari pembicaraan.

Jemaah datang ke Tanah Suci untuk berhaji.

Petugas datang untuk bekerja.

Keduanya sama-sama berada di tempat yang sama, tetapi tidak menjalani perjalanan yang sama.

Jemaah mungkin menunggu kesempatan untuk beribadah di Masjidil Haram.

Petugas mungkin justru sedang mencari jemaah yang tersesat.

Jemaah mungkin ingin segera kembali ke hotel setelah ibadah.

Petugas mungkin masih harus memastikan seorang lansia sampai dengan selamat.

Jemaah menghitung waktu menuju ibadah berikutnya.

Petugas menghitung berapa banyak orang yang belum mendapatkan layanan.

Di sinilah istilah “haji gratis” menjadi terlalu dangkal.

Karena gratis dari biaya perjalanan pribadi tidak berarti gratis dari harga yang harus dibayar.

Harga itu bisa berupa tidur yang hilang.

Waktu pribadi yang hilang.

Kekhusyukan yang terpotong.

Bahkan kesempatan untuk menjalankan ibadah sendiri dengan tenang.

Adhin justru merasa bersalah karena tidak bisa melakukan lebih banyak

Bagian ini yang menurut saya jauh lebih menarik daripada perdebatan soal “gratis atau tidak”.

Adhin bercerita tentang keinginannya berada bersama lansia di Masjidil Haram. Tetapi pekerjaan membuat keinginan itu tidak selalu bisa diwujudkan.

Ada berita.

Ada koordinasi.

Ada tugas.

Ada tubuh yang juga memiliki batas.

Dan pada akhirnya, yang muncul bukan keluhan karena kesempatan ibadahnya berkurang.

Justru rasa bersalah karena pelayanan kepada jemaah belum maksimal.

Itu perspektif yang berbeda.

Orang yang datang untuk mencari keuntungan pribadi biasanya akan menghitung apa yang ia dapat.

Orang yang memahami dirinya sebagai pelayan akan lebih sibuk menghitung apa yang belum ia lakukan.

Tentu, cerita Adhin tidak membuktikan semua petugas memiliki mentalitas yang sama.

Tetapi cerita itu cukup untuk mengingatkan kita bahwa seragam petugas tidak otomatis berarti seseorang sedang menikmati “liburan haji”.

Jangan pula romantisasi pengabdian

Namun, jangan dibalik juga.

Saya tidak tertarik pada narasi bahwa semua petugas haji adalah pahlawan tanpa cela.

Tidak.

Petugas tetap manusia.

Mereka bisa malas.

Bisa tidak disiplin.

Bisa menyalahgunakan posisi.

Bisa lebih sibuk mengurus kepentingannya sendiri daripada jemaah.

Dan karena itulah pengawasan tetap penting.

Bahkan dalam proses pembekalan PPIH 2026, tidak semua peserta otomatis lolos. Enam peserta dilaporkan dihentikan atau dipulangkan karena berbagai persoalan, termasuk kedisiplinan, ketertiban, proses pelatihan, kekompakan, dan faktor kesehatan.

Artinya, pemerintah sendiri memahami satu hal sederhana:

seragam petugas bukan tiket menuju keistimewaan.

Kalau seseorang tidak mampu menjalankan tugas, ia memang seharusnya tidak berada di sana.

Dan kalau ada orang yang masuk hanya karena ingin berhaji gratis, sistem harus mampu menyingkirkannya.

Bukan publik yang harus mencurigai semua orang.

Yang perlu kita tuntut adalah bukti pelayanan, bukan sumpah kesucian

Ini titik yang menurut saya lebih penting.

Jangan minta petugas membuktikan bahwa mereka “orang baik”.

Kita tidak perlu itu.

Kita perlu melihat apakah mereka menjalankan tugas.

Apakah jemaah mendapatkan bantuan ketika membutuhkan?

Apakah lansia mendapatkan perlindungan?

Apakah petugas berada di posnya?

Apakah pelanggaran disiplin ditindak?

Apakah orang yang menggunakan jabatan demi kepentingan pribadi kehilangan tempatnya?

Itu jauh lebih penting daripada mendengar seribu kali kalimat,

“kami bekerja dengan ikhlas.”

Keikhlasan adalah urusan hati.

Pelayanan adalah sesuatu yang bisa diperiksa.

Dan negara seharusnya lebih sibuk mengukur yang kedua.

Bahkan pekerja media pun harus tahu kapan kameranya diturunkan

Adhin juga menyentuh sesuatu yang menarik dari sisi pekerjaan media.

Kamera memang penting.

Berita penting.

Dokumentasi penting.

Tetapi ada satu titik ketika pekerjaan media tidak boleh membuat manusia kehilangan kepekaan.

Kalau di depan kita ada lansia yang membutuhkan bantuan, apakah kita akan mengambil gambar dulu atau menolong dulu?

Jawabannya seharusnya tidak sulit.

Konten bisa dibuat kemudian.

Jemaah yang sedang membutuhkan bantuan tidak bisa disuruh menunggu demi satu frame yang bagus.

Mungkin di situlah tugasku, ibadahku memperoleh makna yang lebih konkret.

Tidak semua ibadah harus terlihat seperti ibadah.

Kadang ibadah itu berupa pekerjaan yang tidak masuk kamera.

Mendorong kursi roda.

Mencari jemaah yang tersesat.

Membantu orang yang kelelahan.

Mengantar seseorang kembali ke tempatnya.

Dan kemudian tidur dengan badan yang sudah habis.

Jadi, apakah petugas haji benar-benar bukan “gratisan”?

Pertanyaannya jangan dibuat sesederhana itu.

Karena mungkin memang ada orang yang masuk dengan niat mencari kesempatan berhaji.

Pemerintah sendiri mengakui bahwa mentalitas itu harus diberantas.

Tetapi jangan gunakan keberadaan oknum untuk menghukum semua orang.

Kalau ada petugas yang menjadikan tugas sebagai jalan pintas menuju ibadah pribadi, pecat kalau memang terbukti melanggar.

Kalau ada petugas yang menghilang ketika jemaah membutuhkan bantuan, evaluasi.

Kalau ada yang menggunakan seragam untuk mendapatkan keuntungan pribadi, tindak.

Tetapi kalau ada petugas yang kehilangan jam tidur karena harus memastikan jemaah lansia mendapatkan layanan, jangan pula kita sebut dia “nebeng haji” hanya karena ia berangkat melalui jalur petugas.

Itu bukan kritik.

Itu kemalasan berpikir.

Sebab pada akhirnya, petugas haji tidak perlu membuktikan bahwa dirinya lebih saleh daripada jemaah.

Ia hanya perlu menjawab satu pertanyaan:

Ketika jemaah membutuhkan bantuan, apakah saya ada di sana?

Kalau jawabannya iya, mungkin itulah harga yang sebenarnya dibayar seorang petugas.

Bukan uang tiket.

Bukan antrean.

Bukan bahkan kesempatan berhaji.

Melainkan waktu, tenaga, tidur, dan kesempatan menikmati ibadah untuk dirinya sendiri.

Jemaah datang untuk berhaji.

Petugas datang untuk memastikan mereka bisa berhaji.

Dan kalau seseorang benar-benar menjalankan tugas itu, jangan buru-buru menyebutnya gratisan hanya karena kita tidak melihat harga yang sudah ia bayar.

Sumber: Podcast Asphirasi