Saudi Update

Suhu Capai 42°C, Begini Cara Masjid Nabawi dan Masjidil Haram Jaga Kenyamanan Pengunjung

Suhu Capai 42°C, Begini Cara Masjid Nabawi dan Masjidil Haram Jaga Kenyamanan Pengunjung

Makkah menghadapi prakiraan badai petir, angin aktif, dan debu pada 13 September 2026. Namun, suhu di kota tersebut tetap diprakirakan mencapai 42°C. Kondisi ini menunjukkan bahwa hujan atau badai tidak otomatis menghilangkan kebutuhan untuk mengendalikan panas bagi pengunjung Dua Masjid Suci: Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Menurut laporan Saudi Gazette yang mengutip National Center for Meteorology (NCM), wilayah Makkah dan Madinah diprakirakan mengalami badai petir dengan angin aktif dan debu. Suhu Makkah pada hari yang sama diprakirakan mencapai 42°C.

Pada hari yang sama, Saudi Press Agency (SPA) melaporkan sistem rekayasa dan teknologi yang dioperasikan General Authority for the Care of the Affairs of the Grand Mosque and the Prophet's Mosque untuk menjaga kondisi yang nyaman bagi pengunjung Dua Masjid Suci.

Masjidil Haram punya sistem pendingin 155.000 RT

Sistem pengendalian suhu di Masjidil Haram tidak hanya mengandalkan pendinginan di dalam ruang.

Di area pelataran, digunakan kipas berkabut (misting fans) untuk membantu mendinginkan udara. Lantai marmer putih Thassos juga digunakan karena menyerap panas lebih rendah sehingga membantu menjaga kenyamanan pengunjung ketika bergerak di area terbuka.

Di dalam Masjidil Haram, sistem pendingin terpusat memiliki kapasitas sekitar 155.000 refrigeration tons (RT). Udara dingin didistribusikan dengan suhu sekitar 22–24°C.

Angka tersebut merupakan kapasitas sistem pendingin, bukan jumlah jemaah yang dapat dilayani.

Kapasitas dan teknologi pendinginan Dua Masjid Suci telah beberapa kali dijelaskan dalam laporan otoritas Saudi sebelumnya. Laporan terbaru SPA menyoroti bahwa sistem tersebut menjadi bagian dari pengelolaan lingkungan untuk menjaga kenyamanan pengunjung.

Masjid Nabawi menggunakan enam unit pendingin

Masjid Nabawi juga memiliki sistem pendinginan tersendiri.

SPA menyebut terdapat enam unit pendingin dengan sistem distribusi udara yang dirancang untuk menjaga keseimbangan pendinginan di area masjid.

Kapasitas sekitar 20.400 RT merupakan angka yang kerap digunakan dalam laporan mengenai enam unit tersebut. Namun, laporan SPA pada 2026 menyebut kapasitas sistem pendinginan Masjid Nabawi mencapai lebih dari 19.300 ton pada area sekitar 98.700 meter persegi.

Material marmer Thassos juga digunakan di Masjid Nabawi, termasuk pada area pelataran dan bagian terbuka lainnya. Dengan demikian, pengendalian panas di Dua Masjid Suci menggunakan kombinasi sistem pendingin mekanis dan desain lingkungan kawasan.

Cuaca bukan risiko yang bisa dikendalikan jemaah

Prakiraan 13 September memperlihatkan satu hal sederhana: hujan dan suhu panas dapat muncul dalam periode yang sama.

Karena itu, kenyamanan pengunjung tidak hanya bergantung pada kondisi cuaca. Ada sistem infrastruktur yang memang disiapkan dan dioperasikan oleh otoritas yang bertanggung jawab atas kawasan Dua Masjid Suci.

Dalam konteks ini, sumber risikonya juga berbeda. Cuaca berada di luar kendali jemaah, sementara pengelolaan kondisi lingkungan di dalam kawasan masjid berada pada sistem dan otoritas yang mengelolanya.

Hujan dan panas bisa datang bersamaan; yang menentukan kenyamanan jemaah bukan hanya cuaca, tetapi juga infrastruktur yang disiapkan untuk mengelolanya.

Catatan ASPHIRASI: Panas Tanah Suci dan Persiapan Jemaah

Sistem pendingin di kawasan Dua Masjid Suci memang mengurangi beban panas bagi pengunjung. Namun jemaah tidak menghabiskan seluruh waktunya di dalam kawasan itu. Perjalanan dari hotel, menunggu kendaraan, dan berjalan di area terbuka tetap menjadi bagian yang harus disiapkan sendiri oleh jemaah dan pendampingnya.

ASPHIRASI menilai pembekalan cuaca sebaiknya masuk dalam manasik, setara dengan materi ibadah dan dokumen perjalanan. Hal sederhana seperti mencukupi minum, memilih waktu keluar, melindungi kepala, dan mengenali tanda awal kelelahan panas kerap luput dibahas. Bagi jemaah usia lanjut dan yang punya riwayat penyakit, pembekalan ini bukan tambahan, melainkan kebutuhan.

Bagi penyelenggara, informasi cuaca juga berkaitan dengan penyusunan jadwal. Mengatur waktu kunjungan, memberi jeda istirahat, dan tidak memadatkan agenda ziarah adalah keputusan yang berada di tangan travel, bukan di tangan pengelola kawasan. Di sinilah tanggung jawab penyelenggara bertemu dengan kenyamanan yang sudah disiapkan otoritas setempat.

Bagikan