
Bali - Expo Haji Bali 2026 membidik perputaran ekonomi dari kebutuhan jemaah agar tidak hanya mengalir ke Arab Saudi, tetapi juga menciptakan pasar bagi pelaku usaha di dalam negeri. Fokus itu terlihat dari upaya mempertemukan UMKM, PPIU, PIHK, perbankan, dan pelaku bisnis melalui Business Matching serta konsep Haji & Umrah Store.
Kegiatan yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 di Masjid Agung Sudirman, Denpasar, ini sebelumnya dirancang sebagai El-Hajj Bali Festival 2026. Konsepnya kemudian diubah menjadi Bali Expo 2026 UMKM & Ekosistem Haji dan Umrah dengan sasaran yang lebih jelas pada pembekalan jemaah sekaligus pembukaan pasar UMKM.
Bukan Sekadar Tempat Pamer Produk
Kepala Kanwil Kemenhaj Provinsi Bali Muhammad Nasihuddin mengatakan tujuan expo adalah agar “uang ekonomi haji” tidak hanya mengalir ke Arab Saudi, tetapi juga ke Indonesia, khususnya Bali.
"Tujuan expo ini bagaimana uang ekonomi haji tidak hanya mengalir ke Arab Saudi, tetapi juga ke Indonesia, khususnya Bali," ujar Nasihuddin.
Untuk itu, sekitar 40 stand UMKM disiapkan. Produk yang ditampilkan diarahkan untuk bertemu dengan kebutuhan masyarakat dan jemaah, sementara Business Matching mempertemukan produsen lokal dengan perbankan, PPIU, PIHK, dan pelaku bisnis lainnya.
Struktur tersebut membuat expo berfungsi sebagai titik temu antara produk, kebutuhan jemaah, dan calon mitra bisnis, bukan hanya sebagai ruang promosi.
Haji & Umrah Store Jadi Uji Pasar
Konsep Haji & Umrah Store menjadi salah satu cara yang disiapkan untuk menghubungkan produk lokal dengan kebutuhan jemaah. Ini membuka peluang bagi produk Bali untuk masuk ke rantai bisnis haji dan umrah, tetapi belum berarti pasar tersebut sudah terbentuk.
Ketua I PD DMI Kota Denpasar H. Maskuron mencontohkan pernah membeli sajadah di Arab Saudi yang menurutnya dibuat di Ubud. Pengalaman tersebut digunakan untuk menggambarkan peluang produk Indonesia memenuhi kebutuhan jemaah.
"Saya pernah membeli sajadah di Arab Saudi, ternyata buatan Ubud. Dari situ saya mendukung Haji Umrah Store — kita tidak perlu beli di Arab Saudi, buktinya produk Indonesia juga mampu," ujar Ketua I PD DMI Kota Denpasar, H. Maskuron.
Namun, contoh tersebut belum dapat dianggap sebagai data mengenai besarnya pasar produk Bali di Arab Saudi.
Transaksi Jadi Ukuran Berikutnya
Model expo serupa sebelumnya digelar di Madiun. Kemenhaj melaporkan kegiatan tersebut melibatkan 300 UMKM dan mencatat transaksi Rp5,7 miliar.
Bali memiliki skala berbeda dengan sekitar 40 stand UMKM. Karena itu, ukuran keberhasilan expo kali ini bukan sekadar jumlah peserta, melainkan apakah Business Matching menghasilkan kemitraan dan apakah konsep Haji & Umrah Store berkembang menjadi saluran pasar yang nyata.
Untuk saat ini, rilis Kemenhaj belum mencantumkan target nilai transaksi atau jumlah kontrak bisnis dari kegiatan Bali. Artinya, peluang pasar sudah disiapkan, tetapi dampak ekonominya masih harus dibuktikan setelah expo berlangsung.
Sumber: Kemenhaj RI




