
Gubernur Madinah sekaligus Ketua Komite Permanen Haji dan Umrah di wilayah tersebut, Pangeran Salman bin Sultan bin Abdulaziz, menekankan pentingnya perencanaan sejak dini, penguatan koordinasi antarlembaga, dan peningkatan kesiapan operasional untuk memastikan kualitas layanan bagi jemaah dan pengunjung Masjid Nabawi.
Menurut Saudi Press Agency (SPA), pertemuan Komite Permanen Haji dan Umrah yang dipimpinnya, Salman mengatakan pelayanan kepada jemaah merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar yang mendapat perhatian dan dukungan penuh dari kepemimpinan Arab Saudi.
Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Madinah sekaligus Wakil Ketua Komite, Pangeran Saud bin Nahar bin Saud bin Abdulaziz, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dr. Abdulfattah bin Sulaiman Mashat, serta perwakilan sejumlah lembaga pemerintah terkait.
Persiapan Musim Umrah 1448 H
Pertemuan membahas kesiapan sektor terkait dan rencana operasional menghadapi musim Umrah 1448 Hijriah.
Kementerian Haji dan Umrah memaparkan sejumlah indikator musim, statistik visa Umrah dan kedatangan jemaah, serta berbagai inisiatif dan perkembangan terbaru.
Sementara itu, Pemerintah Kota Madinah memaparkan kesiapan operasional, termasuk:
- Rencana kebersihan dan sanitasi lingkungan.
- Pengawasan terhadap kegiatan komersial.
- Kesiapan jalan, terowongan, dan jembatan.
Komite juga membahas sejumlah agenda dan mengeluarkan rekomendasi yang diperlukan untuk memperkuat koordinasi antara otoritas terkait serta memastikan pemberian layanan dengan standar tertinggi kepada jemaah dan pengunjung Masjid Nabawi.
Catatan ASPHIRASI: Rapat Kesiapan Umrah di Madinah
Komite Permanen Haji dan Umrah di Madinah membahas kesiapan sektor terkait dan rencana operasional menghadapi musim Umrah 1448 Hijriah. Kementerian Haji dan Umrah memaparkan sejumlah indikator musim, statistik visa Umrah, dan kedatangan jemaah, sementara Pemerintah Kota Madinah memaparkan rencana kebersihan dan sanitasi lingkungan, pengawasan terhadap kegiatan komersial, serta kesiapan jalan, terowongan, dan jembatan. Bagi travel Indonesia, isi pertemuan itu berhenti pada tahap pemaparan dan rekomendasi, belum berupa layanan yang bisa dipakai jemaah.
ASPHIRASI menilai tidak ada satu pun poin dari pertemuan ini yang layak masuk materi pemasaran paket umrah. Laporan hanya menyebut komite mengeluarkan rekomendasi untuk memperkuat koordinasi antarotoritas, dan rekomendasi bukan jaminan layanan. Menjual pertemuan koordinasi sebagai keunggulan paket berisiko menjadi janji yang tidak bisa ditagih kepada siapa pun ketika jemaah sudah berada di Madinah.
Langkah yang lebih berguna adalah menanyakan langsung kepada mitra di Madinah, bukan menyimpulkan dari rilis, mengenai kondisi rute bus dan titik turun terdekat dari hotel pada musim ini. Untuk kegiatan komersial, sampaikan kepada jemaah bahwa pengawasan berada di tangan otoritas setempat, sehingga sebaiknya berbelanja di tempat yang jelas dan menyimpan bukti pembelian. Simpan jawaban mitra dalam bentuk tertulis agar bisa dipakai saat menyusun jadwal dan menangani keluhan jemaah.
Sumber: Saudi Press Agency (SPA)




