
Dilansir Arab News pada 12 Oktober 2026, India menjadi negara ke-10 yang kehilangan warga negaranya dalam rangkaian serangan Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Seorang pria asal Hyderabad, Mohammad Yousuf Ali, meninggal dunia di rumah sakit akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Ali sedang bepergian bersama keluarganya untuk menjalankan ibadah umrah ketika rudal Houthi menghantam bandara tersebut. Serangan itu awalnya dilaporkan menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya.
Presiden All India Majlis-e-Ittehadul Muslimeen (AIMIM) sekaligus anggota parlemen dari Hyderabad, Asaduddin Owaisi, mengatakan kepada media lokal bahwa ia telah berbicara dengan saudara ipar korban. Menurut Owaisi, saudara ipar Ali mengonfirmasi bahwa korban meninggal setelah tertimpa atap bangunan yang runtuh akibat serangan tersebut.
"Istri dan dua anaknya mengalami luka-luka," kata Owaisi kepada kantor berita Asian News International (ANI). Ia juga menyampaikan bahwa putri Ali selamat.
Korban tewas serangan Sabtu bertambah menjadi 13 orang
Dengan meninggalnya Ali, jumlah korban tewas dalam serangan Sabtu bertambah menjadi 13 orang. Menurut data Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA) Arab Saudi yang dikutip Arab News, korban lainnya terdiri atas empat warga Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Pada Minggu, 11 Oktober 2026, serangan kembali terjadi di bandara yang sama dan menewaskan seorang warga Pakistan. GACA mengidentifikasi korban tersebut sebagai warga Pakistan yang tinggal di Arab Saudi.
Kematian Ali menjadikan India negara ke-10 yang kehilangan warga dalam rangkaian serangan tersebut, menurut laporan Arab News. Namun, laporan itu tidak merinci lebih lanjut dasar penghitungan negara-negara yang terdampak setelah serangan Minggu.
Operasional Bandara Riyadh ditangguhkan setelah serangan berulang
Rangkaian serangan tersebut juga mengganggu operasional Bandara Internasional King Khalid. Pada Senin, 12 Oktober 2026, GACA mengumumkan perpanjangan penangguhan operasional bandara untuk menyelesaikan pemeriksaan keselamatan fasilitas dan memastikan kesiapan operasionalnya.
Menurut laporan Saudi Gazette pada 12 Oktober, otoritas belum menyebutkan waktu pembukaan kembali bandara. Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa penutupan bandara dijadwalkan berlangsung hingga 17 Oktober 2026. Jadwal tersebut perlu dibedakan dari kepastian operasional kembali karena pembukaan tetap bergantung pada keputusan otoritas terkait.
Penangguhan ini menjadi perhatian bagi penumpang yang memiliki jadwal penerbangan melalui Riyadh. Penumpang perlu memeriksa status penerbangan langsung kepada maskapai sebelum berangkat ke bandara.
Tujuh warga India masih dirawat, pemerintah mengecam serangan
Kedutaan Besar India di Riyadh menyatakan pada Senin bahwa sedikitnya tujuh warga India masih dirawat di rumah sakit setelah rangkaian serangan tersebut. Kedutaan juga menyampaikan bahwa para pejabatnya telah mengunjungi rumah sakit tempat warga India yang terluka menjalani perawatan.
Pemerintah India turut mengecam serangan berulang terhadap Bandara Internasional King Khalid. Dalam pernyataan pada Minggu, Kementerian Luar Negeri India menyoroti dampak serangan terhadap korban jiwa, warga yang terluka, serta kerusakan properti.
"Kami dengan tegas mengecam serangan berulang terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dalam beberapa hari terakhir, termasuk serangan keji pada 10 Oktober, yang telah menyebabkan hilangnya nyawa, luka-luka, dan kerusakan properti," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri India.
Pemerintah India juga menyatakan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil tidak dapat diterima serta harus segera dihentikan. India menegaskan solidaritasnya kepada rakyat dan pemerintah Arab Saudi dalam mempertahankan kedaulatan negara tersebut.
Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?
Gangguan operasional Bandara Internasional King Khalid perlu diperhatikan oleh penyelenggara perjalanan ibadah dan penumpang yang memiliki penerbangan melalui Riyadh. Meski bandara tersebut bukan satu-satunya pilihan akses udara ke Arab Saudi, penangguhan operasionalnya dapat memengaruhi jadwal perjalanan penumpang yang menggunakan bandara tersebut sebagai tujuan atau titik transit.
Penyelenggara perjalanan umrah dan haji dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Memeriksa status penerbangan: Memastikan jadwal dan status operasional melalui maskapai atau kanal resmi bandara sebelum keberangkatan.
- Mengonfirmasi rute transit: Memastikan jemaah mengetahui perubahan rute, penundaan, atau pembatalan penerbangan jika terjadi gangguan operasional.
- Menyiapkan komunikasi darurat: Menjaga komunikasi dengan jemaah dan keluarga di Indonesia serta mengetahui jalur bantuan dari perwakilan Indonesia di Arab Saudi apabila diperlukan.
Informasi mengenai rute dan jadwal penerbangan sebaiknya diperiksa secara berkala karena keputusan operasional dapat berubah mengikuti hasil pemeriksaan keselamatan dan pengumuman otoritas penerbangan.
Catatan ASPHIRASI
Kematian Mohammad Yousuf Ali menambah jumlah korban tewas dalam serangan 10 Oktober di Bandara Internasional King Khalid menjadi 13 orang. Serangan berikutnya pada Minggu juga menimbulkan korban jiwa, sementara penangguhan operasional bandara memperlihatkan dampak langsung rangkaian serangan terhadap layanan penerbangan sipil.
Bagi penyelenggara perjalanan umrah dan haji Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat untuk memastikan informasi penerbangan yang diterima jemaah selalu mutakhir, terutama bagi mereka yang dijadwalkan transit melalui Riyadh. Koordinasi dengan maskapai dan kesiapan komunikasi darurat perlu menjadi bagian dari penanganan gangguan perjalanan.
Perkembangan jumlah korban, keputusan pembukaan kembali bandara, dan perubahan jadwal penerbangan perlu terus dipantau berdasarkan pengumuman resmi dan laporan media kredibel.
Sumber: Arab News




