
Makkah di Arab Saudi tengah menjalani transformasi perkotaan yang memadukan karakter kawasan suci dengan pengembangan infrastruktur dan layanan modern. Dalam laporan Saudi Press Agency (SPA) pada 25 September 2026, pengembangan tersebut mencakup sektor perumahan, perhotelan, ritel, logistik, dan transportasi, sejalan dengan arah pembangunan dalam Visi Saudi 2030.
Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi dan pelayanan pengunjung sepanjang tahun. Sejumlah proyek perkotaan dan kawasan baru menjadi bagian dari perubahan fisik Makkah, di tengah meningkatnya jumlah jemaah dan pengunjung yang datang ke Arab Saudi.
Data mengenai volume jemaah dan kualitas layanan berasal dari laporan tahunan 2025 Pilgrim Experience Program (PEP), salah satu program realisasi Visi Saudi 2030. Laporan tersebut mencatat 87 inisiatif yang dilaksanakan pada 2025 dengan melibatkan lebih dari 60 entitas pelaksana. Tingkat kepatuhan pelaksanaan inisiatif tercatat 100 persen.
Jumlah jemaah umrah naik 114 persen dibanding 2022
Sepanjang 2025, Arab Saudi menerima lebih dari 19,5 juta jemaah haji dan umrah dari luar negeri. Angka tersebut terdiri atas 18,03 juta jemaah umrah dan 1,5 juta jemaah haji.
Jumlah jemaah umrah meningkat 114 persen dibandingkan 2022. Pada saat yang sama, tingkat kepuasan jemaah haji mencapai 91 persen, sedangkan jemaah umrah mencapai 94 persen. Kedua indikator tersebut disebut melampaui target Visi Saudi 2030.
Laporan yang sama mencatat lebih dari 16 juta kunjungan ke Al-Rawdah Al-Sharifah di Masjid Nabawi selama 2025. Tingkat kepuasan pengunjung mencapai 88 persen, meningkat dari 57 persen pada 2022.
Dari sisi visa, sebanyak 15,03 juta visa untuk umrah, kunjungan, dan kategori lainnya diterbitkan sepanjang 2025. Visa umrah menyumbang 83 persen dari total tersebut.
Indonesia juga masuk tiga negara dengan jumlah kedatangan menggunakan visa umrah tertinggi, bersama Pakistan dan Mesir. Data ini menunjukkan adanya keterkaitan langsung antara perkembangan ekosistem layanan di Arab Saudi dan pasar umrah Indonesia, tanpa harus menyimpulkan dampak bisnis tertentu yang belum disebutkan dalam laporan.
Proyek urban memperluas fasilitas Makkah
Sejumlah proyek urban di Makkah, termasuk Masar Destination dan pengembangan Jabal Omar, disebut dalam laporan SPA sebagai bagian dari perkembangan kawasan kota. Pengembangan tersebut mencakup fasilitas akomodasi, kawasan komersial, utilitas, dan layanan yang mendukung aktivitas pengunjung.
Perkembangan fisik kota juga didukung oleh jaringan transportasi seperti Kereta Cepat Haramain (Haramain High Speed Railway), Proyek Metro Al Mashaaer Al Mugaddassah, serta jaringan jalan yang menghubungkan berbagai kawasan.
Dalam laporan PEP 2025, jumlah situs sejarah dan destinasi pengayaan yang telah dikembangkan dan siap menerima pengunjung di Makkah dan Madinah mencapai 87 lokasi. Seluruhnya mencatat lebih dari 55 juta kunjungan.
Makkah juga menempati peringkat kelima secara global dalam indeks kota dengan jumlah pengunjung internasional tertinggi pada 2025. Madinah berada di peringkat ketujuh dalam Tourism Performance Index.
Selain pembangunan fisik, ekosistem layanan juga melibatkan masyarakat. PEP mencatat 184.569 relawan laki-laki dan perempuan ikut melayani jemaah dan pengunjung selama 2025.
Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?
Data resmi tersebut belum menyebut dampak langsung pembangunan Makkah terhadap penyelenggara perjalanan ibadah haji dan umrah (PPIU) Indonesia. Karena itu, pengaruh terhadap paket perjalanan, harga akomodasi, atau pola transportasi jemaah Indonesia belum dapat dipastikan hanya berdasarkan laporan tersebut.
Namun, ada beberapa perkembangan yang relevan untuk dipantau penyelenggara:
- Akomodasi: perkembangan Masar Destination dan kawasan Jabal Omar dapat menjadi bagian dari perubahan kapasitas dan distribusi fasilitas perhotelan di Makkah.
- Transportasi: perkembangan jaringan kereta, metro, dan jalan perlu diperhatikan dalam penyusunan pola pergerakan jemaah selama berada di Arab Saudi.
- Pasar Indonesia: Indonesia termasuk tiga negara dengan jumlah kedatangan menggunakan visa umrah tertinggi pada 2025, sehingga perubahan layanan di Arab Saudi memiliki relevansi langsung terhadap pasar asal Indonesia.
- Layanan jemaah: peningkatan volume jemaah sekaligus tingkat kepuasan menjadi indikator yang perlu diperhatikan ketika penyelenggara mengevaluasi kualitas layanan dan pengaturan perjalanan.
Catatan ASPHIRASI
Data PEP menunjukkan skala perubahan yang sedang berlangsung di ekosistem layanan jemaah Arab Saudi. Sepanjang 2025, lebih dari 19,5 juta jemaah haji dan umrah dari luar negeri datang ke Arab Saudi, termasuk 18,03 juta jemaah umrah. Pada tahun yang sama, 15,03 juta visa untuk umrah, kunjungan, dan kategori lainnya diterbitkan, dengan visa umrah mencapai 83 persen dari total tersebut. Indonesia termasuk tiga negara dengan jumlah kedatangan menggunakan visa umrah tertinggi.
Bagi penyelenggara perjalanan dari Indonesia, perkembangan ini lebih relevan dibaca sebagai perubahan pada skala dan ekosistem layanan daripada sekadar pembangunan fisik. Pertumbuhan jumlah jemaah, pengembangan kawasan, jaringan transportasi, serta bertambahnya fasilitas pengunjung akan menjadi bagian dari lingkungan operasional yang harus dipantau.
Untuk saat ini, laporan resmi belum menetapkan bagaimana proyek-proyek tersebut akan mengubah harga hotel, pola kontrak akomodasi, waktu tempuh setiap rute, atau struktur paket perjalanan dari Indonesia. Hal-hal tersebut masih membutuhkan informasi lanjutan dari otoritas Saudi, pengelola proyek, maskapai, hotel, dan penyelenggara perjalanan.
Perkembangan yang perlu terus dipantau adalah penyelesaian proyek urban di Makkah, perubahan kapasitas layanan, perkembangan jaringan transportasi, serta laporan berikutnya mengenai pengalaman dan volume jemaah.
Sumber: Saudi Press Agency (SPA)




