
Menjaga kesehatan selama beribadah di Tanah Suci pada dasarnya bertumpu pada tiga hal: cukup minum, cukup istirahat, dan disiplin meminum obat rutin. Kelelahan dan kekurangan cairan adalah dua pemicu keluhan yang sebenarnya bisa dicegah sejak hari pertama.
Jemaah tidak perlu menunggu sakit untuk mulai berhati-hati. Cuaca yang jauh berbeda dari Indonesia, jarak jalan kaki yang panjang, dan jadwal ibadah yang padat membuat tubuh bekerja lebih keras daripada biasanya. Tujuh langkah berikut bisa diterapkan baik oleh jemaah umrah maupun haji.
Mengapa jemaah mudah jatuh sakit di Tanah Suci?
Ada beberapa pemicu yang muncul bersamaan. Mengenalinya membantu jemaah mengatur tenaga dengan lebih bijak.
- Perbedaan cuaca: udara panas dan kering di luar ruangan, lalu dingin oleh pendingin udara di hotel, bus, dan masjid.
- Aktivitas fisik yang meningkat tajam, terutama berjalan kaki dan berdiri lama.
- Kepadatan orang dari berbagai negara, sehingga penyakit saluran pernapasan mudah menular.
- Pola tidur dan pola makan yang berubah karena mengejar waktu ibadah.
- Semangat beribadah yang tinggi sampai mengabaikan sinyal lelah dari tubuh.
7 langkah menjaga kesehatan selama beribadah
- Minum sebelum haus. Bawa botol minum sendiri dan minumlah sedikit demi sedikit tetapi sering. Rasa haus adalah tanda tubuh sudah mulai kekurangan cairan.
- Atur waktu ibadah sunah. Bila memungkinkan, pilih waktu yang lebih sejuk untuk kegiatan di luar ruangan dan hindari memaksakan diri pada siang hari yang terik.
- Lindungi tubuh dari panas. Gunakan payung, alas kaki yang nyaman, dan pelembap kulit atau bibir. Jemaah laki-laki yang sedang berihram tetap boleh berteduh di bawah payung.
- Tidur yang cukup. Ibadah wajib dan rukun didahulukan, sedangkan ibadah sunah disesuaikan dengan kondisi badan. Tubuh yang kurang tidur lebih mudah terserang penyakit.
- Jaga kebersihan tangan dan pakai masker di tempat padat. Cuci tangan sebelum makan dan ganti masker secara berkala.
- Makan teratur dan pilih makanan yang jelas kebersihannya. Hindari melewatkan waktu makan hanya karena ingin berlama-lama di masjid.
- Minum obat rutin tepat waktu. Jemaah dengan penyakit menahun seperti hipertensi, diabetes, atau asma perlu membawa obat dalam jumlah cukup, disimpan di tas kabin, dan disertai catatan dokter.
Apa yang perlu disiapkan sebelum berangkat?
Kesehatan di Tanah Suci banyak ditentukan oleh persiapan di Tanah Air. Periksakan diri ke dokter, terutama bila memiliki penyakit menahun, dan mulailah membiasakan jalan kaki secara rutin beberapa pekan sebelum keberangkatan. Sampaikan kondisi kesehatan secara jujur kepada penyelenggara perjalanan agar pendampingan bisa disesuaikan.
Ketentuan vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan dibahas tersendiri dalam artikel syarat kesehatan dan vaksin untuk umrah dan haji.
Tanda bahaya yang harus segera dilaporkan
Jangan menahan keluhan demi tidak merepotkan rombongan. Segera hubungi pembimbing, ketua rombongan, atau petugas kesehatan bila mengalami gejala berikut.
- Pusing berat, lemas mendadak, atau hampir pingsan.
- Kulit terasa panas dan kering, disertai kebingungan atau bicara tidak nyambung.
- Nyeri dada atau sesak napas.
- Demam tinggi, muntah, atau diare yang tidak berhenti.
- Luka di kaki yang tidak kunjung membaik, terutama pada penyandang diabetes.
Sambil menunggu pertolongan, pindahkan jemaah ke tempat teduh, longgarkan pakaian, dan beri minum bila ia masih sadar. Penanganan medis tetap menjadi wewenang tenaga kesehatan.
Catatan ASPHIRASI
ASPHIRASI memandang kesehatan jemaah sebagai bagian dari kualitas layanan, bukan urusan pribadi jemaah semata. Penyelenggara yang baik mendata riwayat kesehatan jemaah sebelum berangkat, menyusun jadwal yang menyisakan waktu istirahat, dan memastikan pembimbing tahu ke mana harus membawa jemaah yang sakit.
Bagi jemaah, pertanyaan seputar kesehatan layak diajukan sebelum membayar. Tanyakan apakah rombongan didampingi tenaga kesehatan, bagaimana prosedur bila ada yang sakit, dan apakah asuransi perjalanan sudah termasuk dalam paket. Jawaban yang jelas menunjukkan penyelenggara sudah memikirkan hal ini, bukan sekadar menjual jadwal yang padat.
Kami juga mengingatkan anggota agar tidak menyusun program yang memaksa jemaah berkegiatan tanpa jeda. Paket yang terlihat penuh agenda belum tentu lebih baik. Ibadah yang tenang dan jemaah yang pulang dalam keadaan sehat adalah ukuran keberhasilan yang lebih jujur.
Catatan mengenai kemutakhiran data
Artikel ini berisi panduan umum dan tidak menggantikan nasihat dokter. Ketentuan vaksinasi, pemeriksaan kesehatan, serta aturan membawa obat ke Arab Saudi dapat berubah. Konfirmasikan informasi terbaru kepada Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Kesehatan, fasilitas kesehatan tempat Anda diperiksa, dan penyelenggara perjalanan Anda sebelum berangkat.




