Saudi Update

Penutupan Bandara Akibat Kerusuhan, Warga Riyadh Butuh 22 Jam Pulang dari Korea Selatan

Penutupan Bandara Akibat Kerusuhan, Warga Riyadh Butuh 22 Jam Pulang dari Korea Selatan

Dilansir Arab News pada 16 Oktober 2026, warga Riyadh bernama Amal Sghaier menceritakan perjalanan hampir 22 jam untuk pulang dari liburan di Korea Selatan. Penutupan bandara akibat situasi keamanan membuat penerbangan awalnya batal. Ia akhirnya kembali ke Arab Saudi melalui jalur darat setelah terbang ke Bahrain.

Sghaier, yang telah tinggal di Riyadh selama lebih dari dua tahun, baru saja menjalani liburan pertamanya ke Seoul selama delapan hari. Penerbangan pulangnya dibatalkan kurang dari 24 jam sebelum jadwal keberangkatan. Ia kemudian mencari rute alternatif melalui negara tetangga di kawasan Teluk agar dapat memasuki Arab Saudi melalui jalur darat.

Pengalaman serupa dialami Rania Abdulrahman, warga Riyadh yang sedang berada di Kuwait. Penerbangannya dari Kuwait ke Riyadh dibatalkan melalui pemberitahuan surel. Ia kemudian menghubungi Kedutaan Besar Arab Saudi di Kuwait dan mengikuti perjalanan darat yang dikoordinasikan melalui perwakilan tersebut.

Amal Sghaier menempuh perjalanan melalui Dubai, Bahrain, dan Khobar sebelum tiba di Riyadh

Setelah penerbangan awalnya dibatalkan, Sghaier memilih terbang ke Bahrain dengan transit di Dubai menggunakan maskapai Emirates. Setibanya di Bahrain, ia memperoleh visa saat kedatangan (visa on arrival) dan mengaku mendapat sambutan baik dari petugas setempat.

Dari bandara Bahrain, ia naik taksi menuju Khobar dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Seorang temannya kemudian menjemputnya di Khobar untuk melanjutkan perjalanan darat ke Riyadh selama empat jam.

"Perjalanan di jalan benar-benar aman dan saya sangat senang bisa kembali ke rumah. Saya selalu merasa aman di sini, di Riyadh dan di Arab Saudi," kata Sghaier kepada Arab News.

Atasannya di Riyadh sempat memintanya mengutamakan keselamatan dan tidak terburu-buru pulang. Namun, Sghaier tetap ingin segera kembali ke rumah.

Kedutaan Arab Saudi di Kuwait mengoordinasikan perjalanan darat 12 jam bagi Rania Abdulrahman

Abdulrahman menuturkan bahwa setelah penerbangannya dibatalkan, ia menghubungi Kedutaan Besar Arab Saudi di Kuwait. Ia diminta melapor ke titik kumpul pada hari berikutnya, tempat sebuah bus akan mengangkut dirinya bersama penumpang lain menuju Riyadh melalui jalur darat.

Pihak kedutaan mengumpulkan salinan dokumen identitas seluruh peserta dan memastikan mereka memiliki tempat menginap. Meski tidak ada staf kedutaan yang ikut dalam perjalanan, makanan dibagikan selama perjalanan darat tersebut.

"Mereka sangat kooperatif dan tidak meninggalkan kami sendirian sedetik pun," kata Abdulrahman kepada Arab News.

Ia mengaku kelelahan setelah menempuh perjalanan selama 12 jam, tetapi bersyukur telah tiba di rumah dengan selamat. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kedutaan Besar Arab Saudi atas bantuan yang diberikan.

Apa artinya bagi travel dan jemaah umrah Indonesia?

Kisah dua warga Riyadh ini memperlihatkan bagaimana gangguan penerbangan dapat mengubah rencana perjalanan dan memaksa penumpang mencari alternatif transportasi. Dalam kasus Sghaier, perjalanan pulang memerlukan hampir 22 jam dengan kombinasi penerbangan dan transportasi darat. Sementara itu, Abdulrahman menempuh perjalanan darat selama 12 jam dari Kuwait.

Bagi penyelenggara perjalanan umrah di Indonesia, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dalam menyusun rencana kontingensi jika terjadi pembatalan penerbangan atau gangguan operasional bandara.

Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan penyelenggara perjalanan antara lain:

  • Menyiapkan prosedur penanganan gangguan penerbangan. Travel perlu memiliki mekanisme komunikasi dan penanganan jemaah ketika jadwal penerbangan berubah atau dibatalkan.
  • Memastikan kelayakan rute alternatif. Perjalanan melalui negara lain dan jalur darat tidak selalu tersedia bagi setiap penumpang. Persyaratan visa, aturan perbatasan, transportasi, serta kondisi keamanan perlu diperiksa sebelum opsi tersebut dipertimbangkan.
  • Memperkuat koordinasi dengan pihak terkait. Komunikasi dengan maskapai, mitra perjalanan, serta perwakilan resmi Indonesia di luar negeri dapat membantu memperoleh informasi dan arahan yang relevan.
  • Menyiapkan kontak darurat. Jemaah sebaiknya memiliki nomor kontak penyelenggara, maskapai, dan perwakilan Indonesia yang dapat dihubungi ketika menghadapi gangguan perjalanan.

Catatan ASPHIRASI

Pengalaman Amal Sghaier dan Rania Abdulrahman menunjukkan bahwa pembatalan penerbangan dapat memperpanjang perjalanan secara signifikan. Namun, kedua kasus ini merupakan pengalaman individual dan tidak dapat dijadikan jaminan bahwa alternatif perjalanan serupa selalu tersedia ketika terjadi gangguan penerbangan.

Bagi penyelenggara perjalanan haji dan umrah di Indonesia, salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah meninjau kembali prosedur penanganan pembatalan dan penundaan penerbangan, termasuk ketentuan asuransi perjalanan, komunikasi dengan maskapai, serta mekanisme penyampaian informasi kepada jemaah.

Cakupan perlindungan asuransi perlu diperiksa berdasarkan ketentuan polis masing-masing, karena tidak semua pembatalan atau penundaan otomatis ditanggung.

Perkembangan lain yang perlu dipantau adalah status operasional bandara di Arab Saudi, perubahan jadwal maskapai, dan kemungkinan dampaknya terhadap perjalanan jemaah umrah dari Indonesia. Informasi mengenai status penerbangan sebaiknya dikonfirmasi melalui maskapai dan pengelola bandara sebelum jemaah mengambil keputusan perjalanan.

Sumber: Arab News

Bagikan