Saudi Update

Pilot Serang Kapten dengan Kapak, Bos Maskapai Akui Keselamatan Penerbangan Tak Bisa Dijamin Mutlak

Pilot Serang Kapten dengan Kapak, Bos Maskapai Akui Keselamatan Penerbangan Tak Bisa Dijamin Mutlak

Dilansir Arab News, sejumlah petinggi maskapai penerbangan buka suara mengenai standar keselamatan setelah seorang co-pilot flydubai menyerang kapten pesawat dengan kapak pekan lalu dalam dugaan upaya mengambil alih kendali pesawat. Komentar para eksekutif ini menjadi salah satu tanggapan awal dari pimpinan maskapai sejak insiden tersebut terjadi.

Insiden itu membuat pesawat anjlok sejauh 16.000 kaki hanya dalam 30 detik. Co-pilot akhirnya dapat dilumpuhkan oleh penumpang setelah kapten yang terluka berhasil membuka pintu kokpit. Seorang penumpang turut membantu menstabilkan pesawat sebelum seorang awak yang sedang tidak bertugas dan berada di dalam pesawat mengambil alih kendali hingga pesawat mendarat dengan selamat.

Michael O'Leary, Chief Executive Ryanair Group, menyampaikan pandangannya di sela konferensi pers Airlines for Europe (A4E) di Brussels. Ia mengatakan, "Jika ada orang yang gila di dalam kokpit, sangat sulit untuk membuat aturan yang dapat mengantisipasinya."

Arab Saudi Buka Investigasi Keselamatan Penerbangan, UEA Selidiki Dugaan Tindak Pidana

Reuters, mengutip dua pejabat Israel yang mengetahui jalannya investigasi, melaporkan bahwa co-pilot flydubai mengaku kepada penyidik di Uni Emirat Arab (UEA), tempat ia ditahan, bahwa ia telah merencanakan serangan tersebut sebelum bergabung dengan maskapai yang berbasis di Dubai itu.

Klaim mengenai perencanaan sebelum bergabung dengan maskapai tersebut berasal dari laporan Reuters yang mengutip para pejabat tersebut. Klaim itu perlu dibedakan dari temuan resmi penyidikan yang telah diumumkan kepada publik.

Pada 3 Oktober, Kantor Kejaksaan Agung UEA menyatakan bahwa penyelidikan menemukan adanya upaya melakukan tindakan terorisme dalam insiden tersebut. Namun, penyelidikan masih berlangsung dan hasil akhirnya belum diumumkan.

Secara terpisah, Reuters melaporkan pada 7 Oktober bahwa Arab Saudi membuka investigasi keselamatan penerbangan atas insiden tersebut. Menurut tiga sumber yang mengetahui persoalan itu, investigasi tersebut berjalan terpisah dari penyelidikan pidana yang dipimpin otoritas UEA. Informasi mengenai investigasi Arab Saudi ini tetap perlu diatribusikan kepada Reuters karena konfirmasi resmi Saudi atas kasus spesifik tersebut belum terverifikasi.

Eksekutif Maskapai Akui Sulit Mencegah Pilot Bertindak Sengaja

Carsten Spohr, Chief Executive Lufthansa, mengatakan bahwa tidak semua insiden dapat dicegah dan standar keselamatan penerbangan secara umum tetap tinggi. Ia menyebut kasus serupa yang melibatkan pilot terakhir terjadi lebih dari satu dekade lalu, merujuk pada kecelakaan Germanwings pada 2015.

Dalam kecelakaan tersebut, sebuah Airbus A320 jatuh di Pegunungan Alpen Prancis setelah co-pilot mengunci kapten di luar kokpit dan dengan sengaja menerbangkan pesawat ke arah gunung. Sebanyak 150 orang tewas dalam peristiwa itu.

"Kita harus menghadapi fakta bahwa tidak ada keamanan dan keselamatan yang mutlak dalam industri ini," kata Spohr.

Ia juga menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan mental pilot selama ini telah dilakukan secara ketat.

Pernyataan Spohr mencerminkan pandangannya mengenai batas kemampuan prosedur keselamatan dalam mengantisipasi tindakan yang disengaja. Pernyataan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pemeriksaan yang berlaku saat ini tidak efektif.

Apa Artinya bagi Maskapai dan Jemaah Umrah serta Haji Indonesia?

Laporan Arab News dan Reuters yang menjadi rujukan artikel ini tidak menyebut adanya dampak langsung insiden flydubai terhadap penerbangan jemaah haji atau umrah asal Indonesia. Karena itu, belum ada dasar dari laporan tersebut untuk menyimpulkan bahwa perjalanan ibadah jemaah Indonesia mengalami gangguan akibat insiden ini.

Meski demikian, kasus tersebut relevan sebagai bahan perhatian bagi industri perjalanan yang bergantung pada transportasi udara. Ada tiga hal yang dapat dicermati:

  • Perkembangan investigasi: hasil penyelidikan UEA dan investigasi keselamatan penerbangan Arab Saudi dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai insiden tersebut.
  • Evaluasi keselamatan: setiap rekomendasi resmi yang nantinya diterbitkan otoritas penerbangan perlu dibedakan dari pendapat pribadi eksekutif maskapai.
  • Informasi bagi jemaah: penyelenggara perjalanan haji dan umrah dapat merujuk pada pengumuman resmi maskapai dan otoritas penerbangan jika muncul perubahan operasional yang relevan dengan perjalanan jemaah.

Ketiga hal tersebut merupakan aspek yang perlu dicermati, bukan bukti bahwa kebijakan baru telah diumumkan atau bahwa penerbangan jemaah Indonesia saat ini menghadapi risiko khusus akibat insiden tersebut.

Catatan ASPHIRASI

Insiden flydubai memperlihatkan tantangan yang dihadapi industri penerbangan dalam mengantisipasi tindakan berbahaya yang disengaja oleh anggota awak pesawat. Pernyataan para eksekutif maskapai menyoroti bahwa prosedur keselamatan memiliki keterbatasan ketika menghadapi tindakan yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya.

Bagi ekosistem perjalanan haji dan umrah Indonesia, laporan ini belum menunjukkan dampak langsung terhadap penerbangan jemaah. Fokus yang lebih relevan adalah mengikuti hasil investigasi dan rekomendasi resmi apabila diterbitkan, tanpa mengasumsikan adanya perubahan kebijakan atau gangguan operasional yang belum diumumkan.

Perkembangan selanjutnya yang perlu diperhatikan mencakup hasil penyelidikan pidana UEA, perkembangan investigasi keselamatan penerbangan Arab Saudi, serta kemungkinan rekomendasi resmi yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan.

Sumber: Arab News

Bagikan