Saudi Update

BREAKING: Serangan Houthi Hantam Bandara Riyadh 2 Kali, 13 Orang Tewas dan 320 Terluka

BREAKING: Serangan Houthi Hantam Bandara Riyadh 2 Kali, 13 Orang Tewas dan 320 Terluka

Kelompok Houthi Yaman kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas penerbangan di Arab Saudi pada Minggu, 11 Oktober 2026, sehari setelah serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Serangan terbaru di Riyadh kembali menimbulkan korban jiwa, sementara otoritas Arab Saudi juga mengonfirmasi serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam.

Dilansir Al Jazeera pada 11 Oktober 2026, kelompok Houthi, melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone ke wilayah Arab Saudi sejak kampanye militer baru mereka dimulai pada September.

Dalam serangan Sabtu, 10 Oktober, terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, 12 orang tewas dan 309 lainnya terluka. Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menghentikan operasional bandara dan mengalihkan penerbangan.

Sehari kemudian, sebuah proyektil kembali menghantam Terminal 4 bandara tersebut dan memicu kebakaran. Menurut laporan Reuters pada 11 Oktober, serangan Minggu menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya. Dengan demikian, dua serangan tersebut menewaskan total 13 orang, belum termasuk korban dalam insiden lain di bandara yang terjadi pada pekan yang sama.

Pada Minggu malam, otoritas penerbangan sipil Arab Saudi juga mengonfirmasi serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam. Pemeriksaan kerusakan dan keselamatan fasilitas bandara masih berlangsung.

Perkembangan tersebut memperluas perhatian terhadap keamanan penerbangan di Arab Saudi. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Inggris telah mengeluarkan peringatan terkait perjalanan dan keselamatan penerbangan menyusul serangan di Riyadh. Kelompok Houthi juga memperingatkan masyarakat agar menghindari bandara-bandara Arab Saudi.

Rudal Palestine-2 dan Toufan Diklaim Berjangkau hingga 2.000 Kilometer

Menurut analisis Al Jazeera, Houthi telah meluncurkan ratusan drone dan rudal ke Arab Saudi sejak intervensi militer pimpinan Saudi pada 2015. Kelompok tersebut menggunakan kombinasi drone dan rudal dengan kecepatan berbeda untuk mempersulit upaya pencegatan oleh sistem pertahanan udara.

Salah satu persenjataan yang disebut dalam laporan tersebut adalah Palestine-2, rudal balistik jarak menengah dua tahap berbahan bakar padat yang diperkirakan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer dan kemampuan hipersonik. Houthi juga memiliki rudal Toufan, yang menurut analisis tersebut tampaknya merupakan versi yang berganti nama dari rudal Ghadr buatan Iran, dengan perkiraan jangkauan 1.350–1.950 kilometer.

Selain itu, kelompok tersebut memiliki rudal jarak pendek, termasuk seri Burkan dan Badr, yang diyakini berasal dari Iran dan pernah digunakan dalam serangan lintas batas ke Arab Saudi.

Nawaf Obaid, peneliti senior di Departemen Studi Perang King's College London, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa persenjataan rudal Houthi pada dasarnya berasal dari teknologi Iran dengan sejumlah pengaruh teknologi China. Menurutnya, kelompok tersebut menunjukkan sedikit bukti inovasi teknologi mandiri yang signifikan.

Meski demikian, jenis senjata yang digunakan dalam serangan terhadap Bandara King Khalid pada 10 Oktober belum diketahui secara pasti, menurut laporan Al Jazeera. Karena itu, karakteristik rudal yang disebut dalam analisis tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa salah satu jenis rudal tertentu digunakan dalam serangan tersebut.

Sejumlah Proyektil Berhasil Dicegat, tetapi Serangan Tetap Menembus Pertahanan

Otoritas Saudi melaporkan bahwa pasukannya berhasil mencegat sejumlah proyektil dalam sepekan terakhir, termasuk dua rudal balistik yang mengarah ke Riyadh pada Kamis, 8 Oktober. Namun, proyektil yang menghantam Bandara King Khalid pada Sabtu berhasil mencapai sasaran.

Dalam laporan terpisah pada Minggu, koalisi pimpinan Saudi menyatakan pertahanan udara mereka mencegat rudal jelajah di sekitar Bandara King Khalid. Koalisi juga melaporkan pencegatan drone di Provinsi Timur dan rudal balistik yang mengarah ke Khamis Mushait.

Nawaf Obaid menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa sebagian serangan yang berhasil menembus pertahanan udara merupakan risiko yang sulit dihilangkan sepenuhnya, mengingat luas wilayah Arab Saudi dan panjang perbatasannya dengan Yaman.

Ia menyatakan bahwa sistem pertahanan udara berlapis sekalipun tidak menjamin seluruh proyektil dapat dicegat. Menurut Obaid, puluhan upaya serangan Houthi dapat digagalkan untuk setiap satu serangan yang berhasil menembus pertahanan.

Dengan demikian, keberhasilan sejumlah pencegatan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh wilayah dan fasilitas strategis Arab Saudi terlindungi dari serangan. Sebaliknya, serangan yang berhasil mencapai bandara juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sistem pertahanan udara Saudi telah gagal secara menyeluruh.

Stok Rudal Pencegat Patriot dan THAAD Disebut Menipis

Wolfgang Pusztai, analis kebijakan keamanan dan pertahanan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sistem pertahanan rudal balistik Arab Saudi selama ini terutama difokuskan untuk menghadapi ancaman dari Iran.

Namun, meningkatnya serangan Houthi dari arah Yaman dapat mendorong Saudi mengalihkan sebagian kemampuan pertahanannya untuk menghadapi ancaman tersebut.

Pusztai juga menyoroti ketersediaan amunisi pencegat. Menurut analisis Al Jazeera, Arab Saudi dan sejumlah sekutu Amerika Serikat menghadapi keterbatasan stok rudal Patriot dan THAAD setelah persediaan tersebut terkuras selama bulan-bulan awal perang melawan Iran.

Pada September, Riyadh dilaporkan telah menghubungi sejumlah negara sahabat untuk meminta penempatan sistem pertahanan udara atau bentuk dukungan lainnya guna menghadapi serangan Houthi.

Namun, laporan tersebut tidak memastikan berapa banyak stok rudal pencegat Saudi yang tersisa atau apakah keterbatasan amunisi menjadi penyebab langsung serangan terhadap Bandara King Khalid.

Obaid menilai koalisi pimpinan Saudi tetap memiliki keunggulan militer, tetapi serangan sesekali yang berhasil mencapai sasaran dapat memberikan dampak pemberitaan yang besar. Sebagai eksportir minyak mentah terbesar dunia dan anggota G20, Arab Saudi juga menghadapi perhatian internasional yang tinggi ketika fasilitas strategisnya menjadi sasaran.

Bandara Riyadh Masih Ditutup, Dammam Juga Terdampak

Perkembangan pada Minggu menunjukkan bahwa gangguan penerbangan tidak lagi hanya berkaitan dengan serangan awal di Riyadh.

Reuters melaporkan bahwa Bandara Internasional King Khalid masih ditutup setelah serangan pada Sabtu. Serangan baru terhadap Terminal 4 pada Minggu kembali menimbulkan korban dan kerusakan.

Sementara itu, Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA), melalui laporan Saudi Press Agency (SPA), mengonfirmasi bahwa Bandara Internasional King Fahd di Dammam juga menjadi sasaran serangan pada Minggu malam. Otoritas masih melakukan penilaian kerusakan dan pemeriksaan keselamatan fasilitas bandara.

Kelompok Houthi mengklaim telah menyerang bandara Dammam dan dua fasilitas Saudi Aramco. Namun, konfirmasi GACA mengenai serangan terhadap bandara tidak dengan sendirinya mengonfirmasi seluruh klaim kelompok tersebut mengenai sasaran lainnya.

Pada Minggu, Kedutaan Besar Inggris di Arab Saudi juga mengimbau warga negaranya untuk menghindari perjalanan yang tidak penting ke Jeddah, Dammam, dan seluruh bandara di kerajaan tersebut, kecuali bandara di Madinah. Otoritas penerbangan Amerika Serikat turut mengeluarkan pemberitahuan agar maskapai negaranya berhati-hati ketika terbang menuju atau melintasi wilayah Arab Saudi.

Apa Artinya bagi Travel dan Jemaah Umrah Indonesia?

Serangan terhadap bandara di Riyadh dan Dammam meningkatkan perhatian terhadap keamanan dan kelancaran penerbangan di Arab Saudi. Namun, perkembangan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh penerbangan umrah dari Indonesia akan terdampak atau bahwa jalur penerbangan tertentu telah ditutup.

Bagi penyelenggara perjalanan ibadah umrah dan haji Indonesia, beberapa hal berikut perlu menjadi perhatian:

  • Memantau status bandara dan penerbangan. Penyelenggara perlu memeriksa pengumuman resmi otoritas penerbangan Saudi dan informasi terbaru dari maskapai mengenai status operasional bandara serta perubahan jadwal.
  • Berkoordinasi dengan maskapai. Jika terdapat penerbangan yang terhubung dengan Riyadh, Dammam, atau bandara lain yang terdampak, penyelenggara perlu memastikan apakah ada perubahan rute, penundaan, atau pembatalan.
  • Memeriksa rencana perjalanan jemaah. Jalur penerbangan dan titik transit setiap rombongan perlu diperiksa secara spesifik. Gangguan pada satu bandara tidak otomatis berarti semua rute menuju Arab Saudi mengalami gangguan yang sama.
  • Menyiapkan komunikasi kepada jemaah. Informasi mengenai perubahan jadwal dan arahan maskapai sebaiknya disampaikan secara terukur, berdasarkan pemberitahuan resmi, agar jemaah tidak menerima informasi yang belum terverifikasi.

Status penerbangan perlu diperiksa kembali sebelum keberangkatan karena kondisi operasional dapat berubah setelah serangan atau ketika pemeriksaan keselamatan masih berlangsung.

Catatan ASPHIRASI

Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10 Oktober 2026 menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Sehari kemudian, serangan baru di bandara yang sama menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya. Otoritas Arab Saudi juga mengonfirmasi bahwa Bandara Internasional King Fahd di Dammam menjadi sasaran serangan pada Minggu malam.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa risiko terhadap fasilitas penerbangan Arab Saudi masih menjadi perhatian. Meski demikian, dampaknya terhadap perjalanan umrah dan haji dari Indonesia harus dinilai berdasarkan status operasional bandara, rute penerbangan, serta pemberitahuan resmi dari maskapai dan otoritas terkait.

Penyelenggara perjalanan umrah dan haji perlu memantau perkembangan keamanan penerbangan, memeriksa status perjalanan setiap rombongan, serta menyampaikan perubahan jadwal berdasarkan informasi terverifikasi.

Perkembangan selanjutnya yang perlu dicermati mencakup status operasional bandara Riyadh dan Dammam, kemungkinan serangan lanjutan terhadap fasilitas penerbangan Saudi, kemampuan pertahanan udara menghadapi serangan berikutnya, serta potensi perubahan jadwal atau rute penerbangan yang dapat memengaruhi perjalanan jemaah Indonesia.

Sumber: Al Jazeera

Bagikan