
MAKKAH — Umm Al-Qura University menggelar 26th Scientific Forum for Hajj, Umrah and Visit Research pada 2–3 September 2026. Forum yang berada di bawah patronase Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud itu mempertemukan peneliti, ahli, pengambil keputusan, dan penyedia layanan dalam ekosistem haji, umrah, dan kunjungan.
Saudi Press Agency (SPA) melaporkan pada 1 September bahwa forum tersebut menjadi wadah untuk membahas penelitian, kajian, serta berbagai usulan inovasi yang berkaitan dengan pengembangan layanan bagi jemaah.
Fokusnya bukan hanya layanan jemaah
Agenda forum diarahkan pada bagaimana berbagai pihak yang terlibat dalam ekosistem haji dan umrah dapat bekerja lebih terintegrasi.
Beberapa tema yang disebut dalam pengumuman SPA meliputi:
- pengaruh integrasi dan koordinasi terhadap pengalaman jemaah;
- model integrasi antarlembaga dalam ekosistem haji dan umrah;
- pengukuran efisiensi operasional di tempat-tempat suci;
- tata kelola data dan pertukaran informasi;
- keberlanjutan operasional;
- perencanaan menghadapi keadaan darurat.
Forum juga dimaksudkan untuk mempertemukan peneliti dan inovator dengan persoalan operasional yang dihadapi sektor haji dan umrah, sehingga dapat dikembangkan gagasan atau solusi berbasis penelitian.
Saudi dorong keputusan berbasis riset
SPA menyebut forum tersebut sebagai bagian dari upaya strategis untuk mengembangkan ekosistem haji, umrah, dan kunjungan. Selain pertukaran pengetahuan dan praktik dari dalam maupun luar Saudi, forum diarahkan untuk memperkuat koordinasi antarlembaga dan mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Custodian of the Two Holy Mosques Institute for Hajj and Umrah Research, lembaga riset di bawah Umm Al-Qura University yang memiliki sejumlah bidang penelitian, termasuk penelitian administratif dan kemanusiaan, lingkungan dan kesehatan, perkotaan dan teknik, serta informasi ilmiah dan layanan.
Inovasi ikut menjadi bagian forum
Forum juga disertai pameran ilmiah dan pengetahuan yang menampilkan inisiatif, layanan, inovasi, dan penelitian terkait haji, umrah, dan kunjungan. Selain itu, Hajathon 4 digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan forum untuk mendorong gagasan inovatif yang dapat mendukung sektor tersebut.
Dengan demikian, forum ini tidak hanya ditempatkan sebagai pertemuan akademik. Agenda yang dibawa mencakup persoalan praktis seperti efisiensi operasional, pertukaran data, koordinasi lembaga, serta kesiapan menghadapi kondisi darurat.
Belum ada kebijakan baru yang diumumkan sebagai hasil forum tersebut. Informasi yang tersedia masih menjelaskan forum, tema pembahasan, dan tujuan riset serta inovasi yang hendak didorong.
Catatan ASPHIRASI: Riset Haji dan Suara Penyelenggara
Forum riset semacam ini menyentuh persoalan yang sehari-hari dihadapi penyelenggara, mulai dari koordinasi antarlembaga, pertukaran data, sampai kesiapan menghadapi keadaan darurat. Bagi ASPHIRASI, nilainya baru terasa bila temuannya turun menjadi panduan kerja yang bisa dipakai di kantor travel, bukan berhenti sebagai makalah.
Kami juga menilai pelaku usaha di Indonesia sebaiknya tidak hanya menjadi objek yang diteliti. Catatan lapangan tentang antrean layanan, kendala transportasi, dan penanganan jemaah sakit adalah bahan mentah yang berharga bagi kajian seperti ini. Perlu ada jalur yang membuat pengalaman penyelenggara Indonesia ikut terbaca dalam forum ilmiah kawasan.
Kepada anggota, kami menyarankan agar peristiwa operasional dicatat rapi sejak sekarang, karena data yang tertib adalah modal untuk ikut bicara. Kepada pembuat kebijakan, kami mengusulkan agar hasil forum yang relevan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disebarkan ke penyelenggara. Perlu diingat pula bahwa rilis forum ini belum mengumumkan kebijakan baru, sehingga tidak layak dijadikan bahan janji layanan kepada jemaah.




