
Harga minyak dunia naik tajam setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi, termasuk terhadap fasilitas milik perusahaan energi negara Aramco. Dilansir Al Jazeera edisi 25 September 2026, kenaikan harga tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap gangguan lanjutan pasokan energi yang sebelumnya sudah tertekan akibat konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Houthi menyatakan pada Kamis bahwa mereka meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sebuah sasaran sensitif di Riyadh serta fasilitas Aramco di Yanbu, kota di tepi Laut Merah. Kelompok tersebut mengklaim kedua operasi berhasil mencapai tujuannya, menurut pernyataan yang disiarkan kantor berita Yemen News Agency yang dikelola Houthi.
Namun, otoritas Arab Saudi tidak mengonfirmasi klaim tersebut. Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi sebelumnya menyatakan telah mencegat dan menghancurkan enam rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke arah Taif dan kawasan Yanbu. Hingga berita ini disusun, otoritas Arab Saudi juga belum mengonfirmasi adanya kerusakan atau korban jiwa akibat serangan yang diklaim Houthi.
Brent naik lebih dari 3 persen dan sempat tembus 108 dolar AS per barel
Brent, acuan utama harga minyak dunia, naik lebih dari 3 persen pada Kamis menyusul perkembangan tersebut. Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November ditutup di atas 106,50 dolar AS per barel pada hari yang sama, setelah sempat menembus 108 dolar AS dalam perdagangan intrahari.
Pada Jumat pagi waktu Asia, harga Brent sedikit melemah dari level tertingginya dan berada di sekitar 105,77 dolar AS per barel pada pukul 02.00 GMT.
Aramco, yang menurut Al Jazeera memasok sekitar 10 persen kebutuhan minyak global, tidak menanggapi permintaan konfirmasi yang disampaikan di luar jam kerja reguler perusahaan.
Kenaikan harga minyak juga terjadi di tengah kekhawatiran yang lebih luas mengenai keamanan pasokan energi di kawasan. Reuters melaporkan kenaikan harga pada Kamis turut dipengaruhi perkembangan serangan Houthi serta belum adanya kemajuan berarti dalam upaya diplomatik Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan muncul di tengah upaya diplomasi AS-Iran yang belum tuntas
Perkembangan tersebut terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran tengah menjajaki kembali upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan, di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis menyampaikan harapan agar Washington kembali ke nota kesepahaman mengenai pengakhiran perang. Upaya tersebut sebelumnya berakhir pada pertengahan Agustus tanpa kesepakatan damai, menurut Al Jazeera.
Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, Sydney, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa level harga minyak saat ini masih tinggi dibandingkan tren pascaperang dan mencerminkan kerentanan jalur pasokan serta fasilitas energi penting.
“Upaya diplomatik di sela sidang PBB memberi sedikit penyeimbang, tetapi hingga ada bukti yang lebih jelas mengenai deeskalasi yang berkelanjutan, tekanan kenaikan harga masih bertahan,” katanya.
June Goh, analis senior di Sparta Commodities, Singapura, mengatakan harga minyak kemungkinan bertahan di atas 100 dolar AS per barel selama perang terhadap Iran masih berlangsung.
Apa artinya bagi travel dan jemaah umrah Indonesia?
Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memengaruhi biaya bahan bakar penerbangan, termasuk penerbangan menuju Arab Saudi untuk keperluan umrah dan haji. Jika ketegangan di kawasan berlanjut dan harga minyak bertahan tinggi, biaya operasional maskapai dapat ikut terpengaruh.
Dampaknya terhadap harga paket umrah, bagaimanapun, belum dapat dipastikan dari data yang tersedia saat ini. Harga paket juga dipengaruhi berbagai komponen lain, termasuk tiket pesawat, akomodasi, transportasi darat, visa, dan layanan di Arab Saudi.
Bagi penyelenggara perjalanan, perkembangan ini dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dipantau dalam perhitungan biaya perjalanan.
- Memantau perkembangan harga bahan bakar penerbangan dan komponen biaya operasional yang dapat memengaruhi kalkulasi paket umrah dan haji.
- Mencermati informasi resmi mengenai keamanan di Arab Saudi, mengingat otoritas setempat belum mengonfirmasi kerusakan maupun korban akibat klaim serangan tersebut.
- Mengikuti perkembangan diplomasi AS-Iran karena arah eskalasi atau deeskalasi konflik dapat memengaruhi pergerakan harga minyak.
Catatan ASPHIRASI
Kenaikan Brent lebih dari 3 persen dalam sehari menunjukkan bagaimana pasar energi masih sensitif terhadap perkembangan keamanan di kawasan, termasuk klaim Houthi mengenai serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi.
Bagi penyelenggara travel umrah dan haji, perubahan harga energi dapat menjadi salah satu faktor dalam perhitungan biaya operasional. Karena itu, perkembangan harga minyak, biaya penerbangan, serta informasi resmi mengenai kondisi keamanan dan operasional di Arab Saudi perlu dipantau secara berkala.
Arah harga minyak selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik di kawasan, termasuk perkembangan negosiasi AS-Iran dan ada tidaknya eskalasi lanjutan yang mengancam jalur atau fasilitas energi.
Sumber: Al Jazeera




