Saudi Update

Pipa Minyak East-West Arab Saudi Ditutup Sementara Usai Serangan Drone

Pipa Minyak East-West Arab Saudi Ditutup Sementara Usai Serangan Drone

Arab Saudi menghentikan sementara operasi pipa minyak East-West, yang juga dikenal sebagai Petroline, setelah pipa sepanjang 1.200 kilometer itu diserang drone pada Kamis pekan lalu. Dilansir Al Jazeera pada 14 September 2026, Kementerian Energi Arab Saudi menyebut penghentian tersebut sebagai langkah pencegahan setelah serangan menimbulkan kerusakan dan korban luka. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan serangan itu menyebabkan korban luka sekaligus kerusakan pada infrastruktur di wilayah administratif Riyadh dan Madinah.

Otoritas Arab Saudi menyebut drone yang menyerang pipa tersebut berasal dari Irak. Pemerintah Irak kemudian menyatakan hasil penyelidikannya menunjukkan lokasi peluncuran berada di Provinsi Maysan, Irak tenggara, wilayah yang berbatasan dengan Iran.

Sumber yang mengetahui insiden ini menyebut kepada Reuters bahwa perbaikan pipa berpotensi memakan waktu hingga sekitar enam minggu, sementara perkiraan lain menyebut operasi dapat pulih lebih cepat. Sejauh ini, luas kerusakan pada pipa belum dipastikan.

Pipa ini menjadi jalur andalan setelah aliran minyak lewat Selat Hormuz menyusut tajam

Petroline dibangun pada 1981 dan menghubungkan ladang minyak utama Arab Saudi di dekat Abqaiq, wilayah timur, dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga memungkinkan ekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Kapasitas maksimalnya mencapai sekitar 7 juta barel per hari.

Aliran aktual melalui pipa tersebut dalam beberapa periode terakhir lebih rendah. Data Kpler yang dikutip dalam pemberitaan Reuters menunjukkan aliran sekitar 2 juta barel per hari pada Agustus. Penurunan tersebut terjadi di tengah gangguan pelayaran di Laut Merah akibat serangan Houthi.

Sejak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pecah pada Februari, aliran minyak melalui Selat Hormuz merosot drastis. Sebelum konflik, Selat Hormuz membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Sejumlah estimasi industri menunjukkan aliran melalui selat tersebut turun tajam selama konflik, meski angkanya berubah mengikuti kondisi keamanan dan operasional di kawasan.

Menurut Reuters, Arab Saudi kemudian meningkatkan pemanfaatan Petroline. Dalam periode terakhir, pipa tersebut mengalirkan sekitar 4 hingga 5 juta barel minyak per hari, sehingga menjadi salah satu jalur penting untuk mempertahankan ekspor ketika lalu lintas melalui Selat Hormuz terganggu.

Serangan kali ini juga bukan satu-satunya insiden yang menyasar infrastruktur energi Arab Saudi pada 2026. Pemberitaan mengenai insiden sebelumnya mencakup serangan di kawasan Yanbu pada Maret serta serangan terhadap infrastruktur Petroline pada periode berikutnya. Objek, lokasi, dan waktu insiden berbeda antar laporan, tetapi rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur energi di jalur barat Arab Saudi juga menghadapi risiko keamanan.

Stok cadangan di Yanbu diperkirakan hanya cukup untuk lima hingga tujuh hari

Sumber yang dekat dengan Reuters menyebut jika pipa tetap tertutup, stok yang tersedia di Yanbu cukup untuk menopang ekspor selama sekitar 5 hingga 7 hari. Fasilitas penyimpanan dan logistik minyak Arab Saudi yang terhubung dengan Mesir, termasuk Ain Sukhna dan Sidi Kerir, disebut dapat menyediakan pasokan tambahan selama beberapa hari.

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pasokan minyak Arab Saudi pada Agustus berada pada level terendah dalam lebih dari tiga dekade. IEA juga memperkirakan pasokan minyak dunia pada 2026 turun sekitar 5,7 juta barel per hari menjadi sekitar 100,7 juta barel per hari.

Tekanan terhadap pasar minyak juga meningkat seiring berkurangnya stok dan gangguan pasokan di kawasan. Harga Brent telah kembali menembus US$100 per barel pada September. Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa sejumlah analis memperkirakan harga dapat meningkat jauh lebih tinggi apabila penarikan stok minyak global terus berlangsung.

Lembaga riset Gavekal menilai gangguan terhadap fasilitas Yanbu dapat menjadi persoalan serius bagi pasar minyak global karena kapasitas pengolahan dan jalur ekspor di kawasan tersebut memiliki peran penting. Penilaian tersebut dikutip Al Jazeera dalam pemberitaannya mengenai dampak gangguan Petroline terhadap pasar minyak.

Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?

Data dari sumber ini tidak menyebut dampak langsung terhadap Indonesia. Namun, gejolak harga minyak dan risiko keamanan di jalur energi kawasan Teluk dan Laut Merah merupakan faktor yang perlu dicermati pelaku industri penerbangan dan penyelenggara umrah serta haji, mengingat harga bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional maskapai.

Implikasi berikut merupakan analisis operasional, bukan dampak yang telah dilaporkan secara langsung akibat penutupan Petroline:

  • Memantau perkembangan harga minyak dunia dan kemungkinan penyesuaian biaya bahan bakar oleh maskapai yang melayani rute umrah dan haji.
  • Mencermati status keamanan jalur energi dan logistik di kawasan Teluk serta Laut Merah yang dapat memengaruhi kelancaran operasional penerbangan menuju Arab Saudi.
  • Menjaga komunikasi dengan maskapai mitra dan otoritas terkait mengenai kemungkinan perubahan jadwal atau tarif apabila dinamika kawasan berdampak pada operasional penerbangan.

Catatan ASPHIRASI

Penutupan sementara pipa Petroline menunjukkan bahwa infrastruktur energi Arab Saudi di wilayah barat, yang menjadi salah satu jalur alternatif ketika Selat Hormuz terganggu, juga rentan terhadap serangan drone yang menurut penyelidikan Saudi dan Irak berasal dari wilayah Irak. Kondisi ini menambah tekanan pada pasar minyak global yang sebelumnya sudah menghadapi gangguan di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Penyelenggara travel umrah dan haji perlu memperbarui asumsi biaya perjalanan dengan mempertimbangkan potensi volatilitas harga bahan bakar penerbangan, serta menjalin komunikasi lebih intensif dengan maskapai mitra terkait kemungkinan penyesuaian tarif atau jadwal penerbangan ke Arab Saudi.

Perkembangan proses perbaikan pipa Petroline dalam beberapa pekan mendatang, termasuk kecukupan pasokan dari stok Yanbu dan fasilitas cadangan yang terhubung dengan jaringan ekspor melalui Mesir, akan menjadi indikator penting untuk menilai dampak lanjutan terhadap harga minyak dan biaya operasional industri penerbangan yang melayani jemaah Indonesia.

Sumber: Al Jazeera

Bagikan