
DOHA – Upaya diplomatik untuk meredakan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali berlangsung melalui Qatar. Utusan Iran bertemu mediator Qatar di Doha pada Sabtu (31/10/2026), ketika kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan militer AS kembali meningkat menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November.
Pertemuan tersebut berlangsung setelah lebih dari 12 jam pembicaraan antara utusan Iran dan Qatar di Teheran pada Jumat (30/10). Seorang sumber yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan kepada Reuters bahwa komunikasi dengan Washington terus dilakukan selama proses mediasi.
Namun, upaya diplomatik tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Presiden AS Donald Trump belum memutuskan apakah akan melancarkan serangan baru terhadap Iran, meskipun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington lebih mengutamakan penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Rubio, yang berbicara di sela pertemuan menteri luar negeri negara-negara G20 di Atlanta pada Sabtu, mengatakan komunikasi langsung maupun tidak langsung dengan Iran masih berlangsung.
Trump, menurut Rubio, lebih memilih penyelesaian diplomatik. Meski demikian, Rubio menegaskan AS memiliki kemampuan militer untuk bertindak apabila diperlukan.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan baru muncul karena Trump menahan operasi militer terhadap Iran dalam beberapa pekan menjelang pemilu paruh waktu. Sejumlah negara di kawasan memperkirakan serangan dapat dilanjutkan setelah pemungutan suara selesai.
Iran sebelumnya juga memperingatkan bahwa serangan baru akan dibalas dengan menyasar kepentingan AS dan Israel di negara-negara tetangga.
Mojtaba Khamenei perintahkan militer bersiap menghadapi ancaman
Di tengah berlangsungnya mediasi, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengeluarkan instruksi kepada angkatan bersenjata agar bersiap menghadapi segala bentuk ancaman.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui akun Telegram resminya pada Sabtu, Khamenei mengatakan setiap ancaman harus dihadapi dengan respons segera, berdampak, dan tanpa batasan geografis.
Khamenei juga menyebut para komandan senior melaporkan tingkat kesiapan tinggi di sepanjang pesisir Teluk, kawasan sekitar Selat Hormuz dan Teluk Oman, serta perbatasan barat laut dan tenggara Iran.
Reuters turut melaporkan bahwa militer Iran mengumumkan langkah-langkah untuk meningkatkan kesiapan setelah instruksi tersebut disampaikan.
Khamenei belum tampil di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada awal konflik pada Februari 2026.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Teheran sedang memperdebatkan kemungkinan mempertahankan atau mengubah larangan pengembangan senjata nuklir apabila permusuhan kembali terjadi. Namun, Rezaei menegaskan belum ada keputusan resmi mengenai perubahan kebijakan tersebut.
Rezaei juga menyatakan tidak akan ada pembicaraan mengenai program nuklir Iran sebelum Washington menerima tuntutan Teheran.
Dua proposal berbeda dalam mediasi Qatar
Perundingan yang berlangsung melalui Qatar memperlihatkan adanya dua proposal berbeda untuk membangun kepercayaan dan meredakan konflik.
Proposal pertama berasal dari mediator Qatar. Seorang sumber yang mengetahui perundingan tersebut mengatakan Qatar membawa rencana tujuh hari kepada Teheran. Dalam skema itu, AS dan Iran diharapkan mengambil langkah-langkah harian untuk membangun kepercayaan sebelum memasuki pembicaraan damai yang lebih luas.
Namun, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Jumat bahwa proposal tersebut belum memuaskan Teheran.
Sementara itu, Iran telah mengajukan proposal tujuh hari sendiri sejak September. Rencana tersebut mensyaratkan Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran, mencairkan aset Iran yang dibekukan, dan menyetujui jalur pelayaran yang didukung Teheran melalui Selat Hormuz. Setelah persyaratan tersebut dipenuhi, Iran menyatakan selat itu dapat dibuka kembali.
Perkembangan terbaru muncul pada Minggu (1/11). Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pembahasan dengan mediator Qatar telah memperpendek waktu pelaksanaan proposal Iran dari tujuh hari menjadi dua hari.
Menurut Araqchi, pada hari pertama AS harus menjalankan sejumlah langkah sesuai persyaratan Iran. Pada hari kedua, Selat Hormuz ditargetkan dibuka kembali sehingga pelayaran dapat berlangsung seperti sebelumnya.
Araqchi juga mengatakan Iran sedang mempelajari surat dari Wakil Presiden AS JD Vance yang disampaikan melalui jalur komunikasi diplomatik. Surat tersebut sebelumnya dilaporkan sebagai upaya Washington untuk membuka kembali kemungkinan perundingan.
Trump, bagaimanapun, membatasi penjelasannya mengenai surat tersebut. Trump mengatakan persetujuan terhadap komunikasi itu terutama berkaitan dengan kemungkinan memasukkan pasokan medis untuk membantu masyarakat Iran.
Pernyataan Araqchi mengenai rencana dua hari belum berarti kesepakatan telah tercapai. Pelaksanaannya masih bergantung pada penerimaan Washington terhadap persyaratan Teheran.
Ketidakpastian kawasan menjadi perhatian industri penerbangan
Perkembangan diplomatik tersebut berlangsung ketika keamanan penerbangan di kawasan Timur Tengah masih menghadapi sejumlah risiko.
European Union Aviation Safety Agency (EASA) menerbitkan peringatan keselamatan penerbangan untuk wilayah udara Arab Saudi melalui Conflict Zone Information Bulletin (CZIB) 2026-09-R1. Peringatan yang direvisi pada 9 Oktober itu mengidentifikasi risiko aktivitas militer, serangan rudal dan drone, serta operasi pertahanan udara terhadap keselamatan penerbangan sipil.
EASA meminta operator penerbangan yang berada dalam cakupan regulasinya untuk menghindari dua bagian wilayah udara Arab Saudi yang ditentukan dalam buletin tersebut. Operator juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan rencana kontingensi ketika beroperasi di bagian lain wilayah penerbangan Jeddah.
Peringatan tersebut mencerminkan situasi keamanan yang lebih luas, termasuk konflik AS-Iran dan peningkatan serangan Houthi terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Dengan demikian, risiko penerbangan tidak hanya berkaitan dengan perkembangan perundingan di Doha.
Di Indonesia, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sebelumnya melaporkan adanya penyesuaian operasional sejumlah penerbangan transit yang terhubung dengan Riyadh.
Dalam pemantauan per 12 Oktober 2026, sejumlah layanan mengalami pembatalan, perubahan rute, maupun pengaturan ulang perjalanan penumpang. Namun, penerbangan langsung Indonesia-Arab Saudi yang tercantum dalam laporan tersebut masih beroperasi.
Informasi tersebut penting dibedakan berdasarkan waktu dan jenis penerbangannya. Laporan Kementerian Perhubungan menggambarkan kondisi operasional pada Oktober, bukan kepastian mengenai jadwal penerbangan setelah perkembangan diplomatik terbaru pada akhir bulan.
Catatan ASPHIRASI: Kepastian penerbangan perlu menjadi perhatian penyelenggara
Bagi industri haji dan umrah, perkembangan konflik di kawasan Teluk tidak cukup dipantau hanya melalui kemungkinan serangan militer. Kepastian operasional penerbangan, perubahan rute, konektivitas transit, dan informasi keselamatan dari otoritas penerbangan juga perlu menjadi perhatian.
Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) perlu memastikan informasi jadwal dan rute yang disampaikan kepada jemaah sesuai dengan pembaruan maskapai. Perjalanan yang menggunakan penerbangan transit juga perlu mendapat perhatian karena gangguan pada satu titik konektivitas dapat memengaruhi rangkaian perjalanan berikutnya.
Di sisi lain, informasi mengenai risiko keamanan harus disampaikan secara proporsional. Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh penerbangan langsung Indonesia-Arab Saudi terdampak oleh perundingan AS-Iran atau bahwa jemaah umrah Indonesia menghadapi ancaman langsung akibat pertemuan di Doha.
Perkembangan yang perlu dipantau selanjutnya mencakup respons Washington terhadap proposal Iran, hasil mediasi Qatar, serta pembaruan peringatan keselamatan penerbangan di kawasan.
Bagi penyelenggara perjalanan, kesiapan menghadapi perubahan operasional dan komunikasi yang akurat kepada jemaah merupakan bagian penting dari perlindungan perjalanan, terutama ketika situasi keamanan kawasan masih berkembang.
Sumber: Arab News




