
Jakarta — Kunjungan Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf ke Uzbekistan pada awal September 2026 tidak hanya berbicara tentang kedekatan sejarah Islam Indonesia dan Asia Tengah. Di balik narasi penguatan wisata religi, terdapat agenda yang lebih konkret: membuka konektivitas penerbangan, memperluas rute perjalanan umrah, dan mendorong masuknya wisatawan Indonesia ke Uzbekistan.
Irfan bertemu Gubernur Samarkand Adiz Boboev pada Sabtu (5/9/2026). Salah satu hal yang dibahas adalah peluang membuka penerbangan langsung Indonesia-Uzbekistan untuk meningkatkan mobilitas wisatawan sekaligus memperluas pilihan perjalanan dalam paket umrah.
Pertemuan tersebut kemudian berlanjut dengan agenda yang memperlihatkan sisi lain dari kerja sama ini.
Pada 6 September, Irfan menghadiri pembukaan Hadith Hotel, hotel bintang lima di kompleks Imam Bukhari, Samarkand. Pemerintah Uzbekistan menyebut hotel tersebut dibangun bersama investor Indonesia dan ditujukan antara lain untuk melayani jemaah lokal maupun internasional yang mengunjungi kompleks Imam Bukhari. Hotel itu memiliki 120 kamar dengan kapasitas 240 tamu.
Kantor Urusan Muslim Uzbekistan juga melaporkan bahwa dalam rangkaian acara tersebut, Irfan dan Gubernur Samarkand membahas upaya menarik lebih banyak jemaah Indonesia serta kemungkinan penerbangan khusus melalui program Umra+.
Uzbekistan memang sedang membidik pasar Indonesia
Jika dilihat dari kebijakan Uzbekistan, rencana tersebut bukan gagasan yang baru muncul dalam kunjungan September.
Pemerintah Uzbekistan telah menyiapkan program “Umrah Plus” yang menggabungkan perjalanan umrah ke Arab Saudi dengan kunjungan ke sejumlah situs sejarah dan keislaman di Uzbekistan, termasuk Samarkand dan Bukhara.
Bahkan, pemerintah Uzbekistan memberikan insentif finansial untuk menarik wisatawan dari Indonesia dan Malaysia.
Berdasarkan kebijakan resmi Pemerintah Uzbekistan, Komite Pariwisata memberikan subsidi US$100 untuk setiap wisatawan asal Indonesia atau Malaysia yang dibawa ke Uzbekistan dalam kerangka program “Umrah Plus”. Subsidi tersebut diberikan kepada operator tur Uzbekistan. Skema ini berlaku hingga 31 Desember 2026.
Ketentuan tersebut merupakan bagian dari Resolusi Kabinet Menteri Uzbekistan Nomor 6 tanggal 9 Januari 2026 tentang langkah tambahan untuk menjalankan program “Umrah Plus”.
Rute umrah juga sudah dirancang
Yang lebih menarik, Uzbekistan tidak hanya menawarkan destinasi, tetapi juga telah menyusun kemungkinan konektivitasnya.
Dalam dokumen resmi pemerintah, rute yang direncanakan mencakup Jakarta–Samarkand–Jeddah–Jakarta dan Jakarta–Bukhara–Jeddah–Jakarta. Ada pula rute serupa dari Kuala Lumpur. Pemerintah Uzbekistan menyatakan akan mengupayakan keterlibatan sejumlah pesawat serta menyediakan pilihan penerbangan dengan harga kompetitif bagi perusahaan perjalanan yang mengikuti program tersebut.
Upaya tersebut masih merupakan bagian dari pengembangan program, bukan berarti seluruh rute tersebut sudah menjadi penerbangan reguler yang berjalan.
Pada Juli 2026, Kementerian Luar Negeri Uzbekistan juga mencatat pembahasan khusus mengenai peningkatan arus wisatawan dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Pertemuan itu membahas peningkatan penerbangan dari Malaysia serta peluncuran penerbangan langsung dari Indonesia dan Singapura, sekaligus promosi wisata ziarah melalui program “Umrah Plus”.
Jadi, apa kepentingan Indonesia?
Bagi Indonesia, peluangnya bukan sekadar menambah satu destinasi wisata religi.
Jika konektivitas tersebut benar-benar terwujud, jemaah umrah Indonesia berpotensi memiliki alternatif perjalanan yang memasukkan Samarkand atau Bukhara sebelum atau sesudah perjalanan ke Arab Saudi. Pemerintah Indonesia sendiri kini sedang membicarakan konektivitas tersebut sebagai cara memperluas pilihan perjalanan umrah.
Namun, pelaksanaan perjalanan umrah tetap berada di ranah pelaku usaha perjalanan. Pemerintah lebih berperan membuka ruang kerja sama, konektivitas, dan hubungan antarpemerintah, sementara paket perjalanan kepada jemaah nantinya membutuhkan keterlibatan perusahaan perjalanan yang relevan.
Dengan demikian, pertemuan Irfan Yusuf dengan pejabat Uzbekistan pada September ini dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas.
Ada sebuah pasar wisata religi yang sedang dibangun—dan Uzbekistan secara terbuka sedang berusaha menjadikan jemaah Indonesia sebagai salah satu pasar utamanya.
Sumber: Kemenhaj RI




