
Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menghancurkan dua peluncur rudal balistik di Sanaa pada Senin, 26 Oktober 2026. Salah satu peluncur tersebut disebut digunakan untuk meluncurkan rudal ke arah Riyadh yang kemudian dicegat pertahanan udara Saudi.
Menurut laporan Saudi Press Agency (SPA), juru bicara Koalisi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Maliki, menyampaikan bahwa kedua peluncur rudal telah dihancurkan di ibu kota Yaman yang dikuasai kelompok Houthi.
Al-Maliki menyatakan operasi untuk membongkar jaringan rudal balistik Houthi masih berlanjut.
Rudal yang mengarah ke Riyadh berhasil dicegat
Penghancuran dua peluncur tersebut menyusul insiden peluncuran rudal balistik ke arah Riyadh. Dalam pernyataan terpisah pada 26 Oktober, koalisi menyebut pertahanan udara Saudi telah mencegat dan menghancurkan rudal yang diluncurkan ke ibu kota.
Arab News melaporkan bahwa warga Riyadh menerima peringatan dari Pertahanan Sipil melalui ponsel sekitar pukul 03.42 waktu setempat. Peringatan tersebut menyebut potensi ancaman udara, sebelum pemberitahuan lanjutan menyatakan ancaman telah berlalu.
Tidak ada laporan dalam sumber yang diperiksa mengenai korban jiwa atau kerusakan akibat insiden rudal ke Riyadh tersebut.
Serangan sebelumnya menyebabkan dua orang terluka
Insiden di Riyadh terjadi di tengah rangkaian serangan rudal dan drone yang dilaporkan otoritas Saudi dalam beberapa hari terakhir.
Pada Minggu, 25 Oktober, Pertahanan Sipil Saudi melaporkan dua orang terluka akibat jatuhnya serpihan dari dua rudal balistik yang telah dicegat. Korban terdiri atas seorang warga negara Saudi dan seorang warga asing asal Asia.
Serpihan tersebut jatuh di wilayah Khamis Mushayt dan Ahad Rafidah. Otoritas juga melaporkan kerusakan pada tiga bangunan tempat tinggal dan tujuh kendaraan.
Sehari sebelumnya, serpihan dari dua rudal balistik yang dicegat dilaporkan jatuh di sejumlah lokasi di wilayah Makkah dan Madinah, termasuk Wadi Al-Mughammas di Makkah, kawasan Al-Nuzha di Jeddah, Wadi Jalil di Taif, serta Masturah di wilayah Rabigh. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Bandara Riyadh mulai dibuka kembali secara terbatas
Pada Minggu, 25 Oktober, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh mulai membuka kembali Terminal 1 untuk penerbangan domestik dan Terminal 2 untuk penerbangan internasional yang dioperasikan maskapai nasional.
Menurut laporan Arab News, pembukaan kembali tersebut dilakukan setelah bandara ditutup menyusul serangan pada 10 Oktober 2026. Insiden sebelumnya itu dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Pengelola bandara mengimbau penumpang yang telah memiliki pemesanan untuk menghubungi maskapai masing-masing guna memastikan status penerbangan sebelum berangkat ke bandara.
Informasi tersebut berkaitan dengan pemulihan operasional bandara setelah insiden sebelumnya. Belum ada keterangan dalam sumber yang diperiksa bahwa serangan rudal ke Riyadh pada 26 Oktober menyebabkan penutupan kembali bandara atau pembatalan penerbangan Indonesia.
Catatan ASPHIRASI
Penghancuran dua peluncur rudal di Sanaa menunjukkan bahwa operasi militer koalisi masih berlangsung di tengah serangkaian pencegatan rudal yang dilaporkan otoritas Saudi. Namun, perkembangan ini tidak dengan sendirinya berarti ancaman serangan telah berakhir.
Bagi penyelenggara perjalanan haji dan umrah Indonesia, perkembangan keamanan dan status operasional penerbangan Arab Saudi tetap perlu dipantau melalui informasi resmi dari maskapai dan otoritas terkait. Hingga sumber yang diperiksa untuk laporan ini diterbitkan, belum terdapat konfirmasi mengenai dampak langsung insiden terbaru terhadap penerbangan atau perjalanan jemaah Indonesia.
Sumber: Arab News




