
MANGGARAI — Pembangunan Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), memasuki tahap groundbreaking pada 31 Agustus 2026. Proyek tersebut merupakan bagian dari pembangunan fasilitas layanan haji dan umrah yang direncanakan pemerintah melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) 2026.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dalam keterangannya menyebut pembangunan PLHUT Manggarai ditujukan untuk menyediakan layanan haji dan umrah secara terpadu bagi masyarakat di Manggarai dan wilayah sekitarnya.
Proyek tersebut tercatat sebagai salah satu dari puluhan pembangunan PLHUT yang masuk dalam program infrastruktur layanan haji dan umrah tahun anggaran 2026.
Groundbreaking menjadi penanda dimulainya pembangunan fisik fasilitas tersebut. Namun, Kemenhaj dalam rilisnya belum mencantumkan tanggal penyelesaian maupun waktu mulai operasional gedung.
PLHUT diarahkan menjadi layanan satu pintu
Menurut Kemenhaj, fasilitas yang dibangun di Manggarai nantinya ditujukan untuk mengintegrasikan sejumlah layanan yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
Konsep yang digunakan adalah one-stop service, sehingga masyarakat tidak perlu mengakses layanan secara terpisah untuk kebutuhan yang dapat ditangani melalui fasilitas tersebut.
Kemenhaj menyebut cakupan layanan yang diharapkan dapat berlangsung secara terpadu antara lain:
- pelayanan administrasi haji dan umrah;
- akses layanan yang lebih dekat bagi masyarakat Manggarai dan sekitarnya;
- layanan yang berkaitan dengan proses administrasi; dan
- bimbingan manasik.
Kementerian menyatakan fasilitas tersebut diharapkan membuat pelayanan menjadi lebih mudah dan efisien.
Namun, manfaat tersebut masih merupakan tujuan pembangunan, bukan hasil yang sudah dapat diukur. Rilis Kemenhaj tidak menyertakan data mengenai kapasitas layanan saat ini, jumlah calon jemaah yang akan dilayani, atau berapa lama waktu pelayanan diperkirakan dapat dipangkas setelah PLHUT beroperasi.
Manggarai menjadi bagian dari pembangunan PLHUT 2026
Pembangunan di Manggarai bukan proyek yang berdiri sendiri. Dalam daftar proyek SBSN 2026, pembangunan PLHUT Manggarai tercatat sebagai bagian dari program pembangunan fasilitas layanan haji dan umrah pada tahun tersebut.
Dengan demikian, groundbreaking pada 31 Agustus merupakan perkembangan fisik dari proyek yang telah masuk dalam perencanaan pembangunan 2026, bukan pengumuman baru mengenai pembentukan layanan PLHUT secara nasional.
Rilis Kemenhaj sendiri belum memberikan rincian lebih jauh mengenai:
- kontraktor pelaksana;
- nilai kontrak setelah proses pengadaan;
- target penyelesaian fisik;
- jadwal gedung mulai digunakan masyarakat; atau
- kapasitas layanan setelah gedung selesai.
Informasi tersebut penting untuk menilai sejauh mana pembangunan infrastruktur tersebut nantinya benar-benar mengubah akses masyarakat terhadap layanan haji dan umrah.
Groundbreaking berlangsung saat NTT menghadapi dampak gempa
Agenda pembangunan PLHUT tersebut berlangsung bersamaan dengan kegiatan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang terdampak gempa di NTT.
Dalam rilisnya, Kemenhaj menyebut rombongan kementerian meninjau sejumlah lokasi terdampak, termasuk kerusakan fasilitas ibadah. Kementerian juga menyebut adanya masjid yang roboh serta masjid darurat yang dibangun masyarakat.
Bantuan yang disebut dalam rilis meliputi:
- bahan kebutuhan pokok seperti beras, telur, dan minyak goreng;
- pakaian;
- kebutuhan sanitasi; dan
- bantuan dana tunai.
Bantuan diserahkan kepada sejumlah pihak, termasuk Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi NTT Hasan Manuk, tokoh agama, perwakilan pesantren, dan masyarakat terdampak.
Kemenhaj mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari respons terhadap kondisi masyarakat setelah bencana.
Tahap berikutnya adalah memastikan proyek benar-benar selesai
Setelah groundbreaking, persoalan utama proyek bukan lagi sekadar rencana pembangunan, tetapi penyelesaian fisiknya dan kapan fasilitas tersebut dapat digunakan.
Kemenhaj menyatakan akan memantau proses pembangunan agar selesai sesuai target. Namun, rilis yang diterbitkan kementerian tidak menyebutkan secara spesifik kapan target tersebut harus tercapai.
Karena itu, perkembangan berikutnya dapat dilihat dari beberapa indikator:
- kemajuan pembangunan fisik;
- penyelesaian gedung sesuai spesifikasi proyek;
- waktu serah terima fasilitas;
- kesiapan fasilitas untuk menerima masyarakat; dan
- jenis layanan yang benar-benar tersedia ketika PLHUT mulai beroperasi.
Untuk masyarakat Manggarai, nilai pembangunan PLHUT pada akhirnya tidak hanya terletak pada berdirinya gedung, tetapi pada layanan apa yang benar-benar dapat diakses di dalamnya dan seberapa mudah masyarakat menggunakannya.
Sementara itu, di tengah pembangunan fasilitas layanan tersebut, proses pemulihan masyarakat terdampak gempa di sejumlah wilayah NTT juga masih menjadi bagian dari konteks kegiatan Kemenhaj di daerah tersebut.
Sumber: Kemenhaj RI




