Berita

Tri Hidayatno Gagas Kursi Kosong Penerbangan Haji Bawa Turis Timur Tengah ke Yogyakarta

Tri Hidayatno Gagas Kursi Kosong Penerbangan Haji Bawa Turis Timur Tengah ke Yogyakarta

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) ingin memanfaatkan kursi kosong pada penerbangan haji untuk membawa wisatawan Timur Tengah ke Indonesia. Yogyakarta menjadi salah satu pintu masuk yang dipertimbangkan.

Rencananya, pesawat yang selesai mengantar jemaah haji ke Arab Saudi dapat membawa wisatawan saat kembali ke Indonesia. Dengan begitu, penerbangan tersebut tidak hanya melayani perjalanan ibadah, tetapi juga mendukung pariwisata.

Gagasan ini dibahas dalam Tourism Talk pada Yogya Expo UMKM dan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah 2026 di Jogja Expo Center, Bantul, Minggu (25/10/2026). Namun, rencana tersebut masih membutuhkan kesepakatan dengan maskapai serta kesiapan layanan wisata.

Memanfaatkan kursi kosong

Direktur Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Tri Hidayatno, mengatakan penerbangan kembali setelah mengantar jemaah ke Tanah Suci berpotensi memiliki kursi kosong. Peluang inilah, yang oleh Tri, disebut empty leg.

“Pemanfaatan empty leg perlu dilihat sebagai peluang untuk menciptakan arus perjalanan dua arah. Penerbangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji juga dapat membuka kesempatan bagi wisatawan Timur Tengah untuk mengenal destinasi wisata Indonesia,” ujar Tri.

Pelaksanaannya tetap bergantung pada jumlah kursi yang tersedia, jadwal penerbangan, serta kesiapan maskapai dan mitra terkait.

Mengapa menyasar wisatawan Timur Tengah?

Kemenhaj menilai wisatawan Timur Tengah memiliki potensi ekonomi karena pengeluaran dan masa tinggal mereka relatif tinggi.

Dalam rilis Kemenhaj, perbandingannya disebut sebagai berikut:

  • Timur Tengah: rata-rata pengeluaran US$1.726 dengan lama tinggal 13 hari.
  • Asia Tenggara: rata-rata pengeluaran US$661 dengan lama tinggal 4 hari.

Kemenhaj menilai promosi perlu menyasar negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Kerja sama dengan agen perjalanan di negara-negara tersebut juga diperlukan.

Mengapa Yogyakarta dipertimbangkan?

Menurut Kemenhaj, Yogyakarta memiliki infrastruktur dan pengalaman penyelenggaraan haji yang dapat mendukung rencana ini.

Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) disebut mampu melayani pesawat berbadan lebar untuk penerbangan jarak jauh. Embarkasi haji DIY juga telah melayani 26 kelompok terbang atau kloter, dengan total 9.320 jemaah. Selain itu, DIY disebut memiliki model embarkasi berbasis hotel pertama di Indonesia.

Paket wisata dan layanan harus siap

Tri menekankan bahwa ketersediaan penerbangan harus diikuti paket wisata yang siap dijual. Paket tersebut dapat menggabungkan wisata alam, budaya, dan layanan premium.

Beberapa kebutuhan wisatawan yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Makanan bersertifikat halal.
  • Layanan berbahasa Arab.
  • Fasilitas yang nyaman untuk keluarga.
  • Pilihan perjalanan yang sesuai dengan kebutuhan pasar Timur Tengah.

Persiapannya membutuhkan kerja sama maskapai, pengelola bandara, pemerintah daerah, agen perjalanan, dan pelaku pariwisata. Transportasi, penginapan, serta layanan di destinasi juga harus siap menerima wisatawan.

Kemenhaj juga menyebut perlunya pemetaan kursi kosong dan jadwal penerbangan selama musim haji. Tujuannya agar paket wisata yang dijual sesuai dengan penerbangan yang benar-benar tersedia.

Masih berupa rencana

Gagasan ini masih berada pada tahap perencanaan. Rilis Kemenhaj belum merinci maskapai yang akan terlibat, jumlah kursi yang bisa dijual, jadwal penerbangan, maupun target wisatawan.

Bagi Yogyakarta, peluangnya bukan sekadar mendatangkan pengunjung dari Timur Tengah. Tantangan utamanya adalah memastikan penerbangan, paket wisata, dan layanan pendukung tersedia sebagai satu perjalanan yang bisa dibeli wisatawan.

Sumber: Kemenhaj RI

Bagikan