
Dilansir Al Jazeera pada 12 Oktober 2026, sejumlah negara mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya ke Arab Saudi setelah rangkaian serangan terhadap sejumlah bandara di kerajaan tersebut. Pada Senin, Australia dan Selandia Baru menjadi negara terbaru yang mengeluarkan peringatan, menyusul langkah serupa dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Korea Selatan, dan Jepang.
Peringatan tersebut muncul di tengah lima serangan terhadap bandara di Arab Saudi dalam waktu kurang dari sepekan. Serangan paling mematikan terjadi pada Sabtu, 10 Oktober, ketika serangan yang dikaitkan dengan Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Jumlah korban meninggal kemudian bertambah menjadi 13 setelah seorang warga India meninggal akibat luka yang dideritanya dalam serangan tersebut. Insiden ini disebut sebagai serangan paling mematikan terhadap Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.
Pada Minggu, 11 Oktober, sebuah proyektil kembali menghantam bandara yang sama dan menewaskan satu orang serta melukai 11 lainnya, menurut Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA). Korban meninggal dalam serangan kedua tersebut diidentifikasi sebagai warga Pakistan.
Menurut laporan Al Jazeera pada 12 Oktober, kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas empat serangan terhadap bandara Arab Saudi sebelum insiden Minggu. Namun, serangan terbaru tersebut belum diklaim oleh kelompok mana pun pada saat laporan diterbitkan.
Bandara Riyadh dan Dammam Ditutup, Penerbangan di Jeddah Ikut Terganggu
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam dilaporkan masih ditutup setelah rangkaian serangan tersebut. Penutupan ini menyebabkan gangguan signifikan terhadap penerbangan di kawasan Timur Tengah.
Dampak gangguan juga meluas ke Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah. Menurut situs pelacak penerbangan Flightradar24, lebih dari 150 penerbangan dibatalkan dan 374 penerbangan lainnya mengalami keterlambatan di bandara tersebut pada Minggu, 11 Oktober.
Angka tersebut menggambarkan gangguan penerbangan yang tercatat pada hari itu, bukan akumulasi pembatalan dan keterlambatan selama seluruh periode serangan.
Setiap Negara Menetapkan Batasan Wilayah yang Berbeda
Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia meminta warganya menghindari Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta mempertimbangkan kembali perjalanan ke bandara-bandara lain di Arab Saudi.
Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru mendesak warganya untuk tidak bepergian ke bandara utama Riyadh maupun wilayah Najran, Jazan, dan Asir untuk alasan apa pun. Kementerian tersebut juga meminta warganya menghindari perjalanan yang tidak esensial ke Arab Saudi secara keseluruhan.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh pada Minggu menyarankan warga AS mempertimbangkan kembali perjalanan ke Arab Saudi, dengan alasan ancaman serangan dari Iran dan kelompok Houthi yang didukung Iran. Sementara itu, Global Affairs Canada mengeluarkan peringatan terhadap perjalanan yang tidak esensial ke seluruh wilayah Arab Saudi.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan merekomendasikan agar warganya yang berada di Arab Saudi meninggalkan negara tersebut, kecuali untuk keperluan esensial. Pemerintah Korea Selatan juga menyarankan warga yang berencana bepergian ke Arab Saudi untuk membatalkan perjalanan mereka.
Adapun Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris (FCDO) mendesak warganya menghindari perjalanan ke Jeddah dan Dammam serta ke seluruh bandara di Arab Saudi, kecuali Bandara Internasional Madinah, kecuali untuk keperluan esensial.
Perbedaan cakupan peringatan tersebut menunjukkan bahwa masing-masing negara menetapkan batasan perjalanan sesuai dengan kebijakan imbauan yang dikeluarkannya. Karena itu, peringatan untuk menghindari wilayah tertentu tidak selalu berarti larangan menyeluruh terhadap seluruh perjalanan ke Arab Saudi.
Analis Menilai Masih Terlalu Dini Memprediksi Dampak Jangka Panjang
Brendan Sobie, analis dan konsultan independen yang berbasis di Singapura, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi dampak serangan tersebut terhadap industri penerbangan di kawasan maupun secara global.
Menurut Sobie, besarnya dampak akan bergantung pada durasi krisis, berapa lama Bandara Riyadh tetap ditutup, serta lamanya dan cakupan pembatasan penerbangan setelah bandara tersebut kembali beroperasi.
Ia membandingkan ketidakpastian tersebut dengan dampak perang Iran terhadap sektor penerbangan di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain. Dalam pandangannya, durasi krisis dan pembatasan operasional akan menjadi faktor penting dalam menentukan besarnya dampak terhadap penerbangan.
Apa Artinya bagi Travel dan Jemaah Indonesia?
Peringatan perjalanan dari tujuh negara tersebut menjadi perkembangan penting bagi penyelenggara umrah dan calon jemaah Indonesia yang memiliki jadwal keberangkatan dalam waktu dekat. Penutupan dua bandara utama Arab Saudi dan gangguan penerbangan di Jeddah membuat status operasional bandara serta jadwal penerbangan perlu diperiksa sebelum keberangkatan.
Namun, laporan Al Jazeera tidak menyebutkan adanya dampak langsung terhadap rute penerbangan dari Indonesia atau jadwal kedatangan jemaah umrah Indonesia. Karena itu, gangguan yang dilaporkan di Arab Saudi tidak dapat langsung diartikan sebagai pembatalan penerbangan atau penundaan keberangkatan jemaah dari Indonesia.
Untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan operasional, penyelenggara umrah dan calon jemaah dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Memeriksa status penerbangan: Memastikan jadwal keberangkatan dan kedatangan melalui maskapai atau agen perjalanan, termasuk kemungkinan pembatalan maupun keterlambatan.
- Mengonfirmasi rencana perjalanan: Menghubungi penyelenggara umrah dan mitra di Arab Saudi untuk memastikan rute, bandara tujuan, serta pengaturan transportasi darat.
- Mengevaluasi opsi perubahan jadwal: Membahas kemungkinan penjadwalan ulang apabila maskapai atau penyelenggara mengonfirmasi adanya gangguan yang memengaruhi perjalanan.
- Memantau informasi resmi: Mengikuti pengumuman otoritas penerbangan, maskapai, dan perwakilan Indonesia yang relevan sebelum mengambil keputusan terkait keberangkatan.
Langkah-langkah tersebut merupakan tindakan antisipatif, bukan konfirmasi bahwa seluruh perjalanan umrah dari Indonesia telah terdampak.
Pembaruan: Operasi Bandara Riyadh Masih Ditangguhkan
Dalam laporan resmi bertanggal 12 Oktober 2026, Saudi Press Agency (SPA) memberitakan bahwa GACA memperpanjang penangguhan operasi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Perkembangan ini memperkuat pentingnya memeriksa kembali status operasional bandara sebelum menyimpulkan bahwa penerbangan telah kembali normal.
Meski demikian, informasi mengenai perpanjangan penangguhan operasi di Riyadh tidak dengan sendirinya memastikan status operasional terbaru Bandara Internasional King Fahd di Dammam atau kondisi setiap penerbangan menuju Jeddah. Ketiga hal tersebut perlu diverifikasi secara terpisah melalui pengumuman resmi dan informasi maskapai.
Catatan ASPHIRASI
Penutupan Bandara King Khalid di Riyadh dan King Fahd di Dammam, disertai lebih dari 150 pembatalan serta 374 keterlambatan penerbangan di Jeddah pada Minggu, menunjukkan bahwa rangkaian serangan telah diikuti gangguan nyata terhadap operasional penerbangan di Arab Saudi. Namun, angka tersebut merupakan catatan untuk satu hari dan tidak dapat digunakan untuk menggambarkan total gangguan sepanjang periode serangan.
Bagi penyelenggara umrah di Indonesia, perkembangan ini menjadi alasan untuk memperkuat komunikasi dengan maskapai dan mitra darat di Arab Saudi, terutama terkait status penerbangan jemaah yang akan berangkat maupun yang sedang dalam perjalanan. Opsi penjadwalan ulang dapat dibahas apabila terdapat konfirmasi bahwa jadwal atau rute perjalanan tertentu terdampak.
Ke depan, perkembangan yang perlu dipantau mencakup status operasional Bandara Riyadh dan Dammam, cakupan pembatasan penerbangan setelah bandara kembali dibuka, serta kemungkinan perubahan imbauan perjalanan dari negara-negara lain. Informasi tersebut juga perlu dibedakan dari perkembangan penerbangan Indonesia–Arab Saudi yang harus dikonfirmasi melalui sumber terkait.
Sumber: Al Jazeera




