Saudi Update

AI Mulai Dukung Pariwisata Saudi, Nusuk AI Dipakai 2 Juta Kali dalam Sebulan

AI Mulai Dukung Pariwisata Saudi, Nusuk AI Dipakai 2 Juta Kali dalam Sebulan

Arab Saudi memperluas penggunaan kecerdasan buatan atau AI di sektor pariwisata, mulai dari pencarian destinasi hingga pengalaman jemaah di area ibadah. Dalam laporan yang diterbitkan Arab News pada 26 September 2026, menjelang World Tourism Day pada 27 September, upaya itu disebut berjalan seiring target Arab Saudi mencapai 150 juta kunjungan wisatawan per tahun pada 2030. Saudi Press Agency (SPA) sebelumnya menyatakan target tersebut dinaikkan setelah negara itu melampaui sasaran awal 100 juta kunjungan wisata pada 2023.

Menurut rilis SPA pada Agustus 2026, asisten Nusuk AI mendukung lebih dari 180 bahasa, telah dimanfaatkan lebih dari 320.000 pengguna sejak peluncurannya, dan mencatat lebih dari 1 juta penggunaan. Angka tersebut perlu dibedakan dari Digital Mutawwif, layanan lain di ekosistem Nusuk, yang menurut program resmi Pilgrims Experience Program telah mencatat lebih dari 2 juta penggunaan dalam satu bulan dan melayani lebih dari 1,4 juta penerima manfaat.

Sementara itu, Kementerian Pariwisata Arab Saudi dan Accenture Saudi Arabia Ltd Co. menandatangani nota kesepahaman dalam konferensi LEAP 2026. SPA menyebut kerja sama itu akan mengeksplorasi pemanfaatan AI dan teknologi baru untuk sektor pariwisata, termasuk riset AI yang bertanggung jawab, pengembangan solusi digital, serta pembangunan destinasi dan pengalaman wisata pintar.

Dalam wawancara dengan Arab News, sejumlah pelaku industri menilai pertanyaan utama kini bukan lagi apakah teknologi tersebut berfungsi, melainkan apakah penerapannya dapat diperluas tanpa mengurangi kepercayaan dan sentuhan manusia yang membuat perjalanan berkesan.

Digital Mutawwif memandu rute tawaf dan sai lewat spatial AI

Haji dan umrah menjadi salah satu ujian paling nyata bagi penerapan AI karena mempertemukan jutaan orang dari beragam negara dan bahasa di lokasi yang padat. Hana Al-Abiad, analis senior pariwisata dan budaya di lembaga riset Infomineo, mengatakan kepada Arab News bahwa nilai Nusuk AI bukan semata pada teknologinya, melainkan pada kemampuannya mengurangi ketidakpastian, hambatan bahasa, dan kebutuhan mencari bantuan di lingkungan yang asing.

Menurut Pilgrims Experience Program, Digital Mutawwif tersedia melalui aplikasi Nusuk dan menggunakan spatial AI untuk memahami lokasi, pergerakan, serta konteks perjalanan jemaah secara waktu nyata. Layanan itu dapat memandu pengguna menuju rute dan lantai yang sesuai untuk tawaf dan sai, menghitung putaran secara otomatis, serta menampilkan panduan dan doa sesuai tahapan ibadah.

Arab News melaporkan bahwa di balik layar, algoritma juga digunakan untuk menganalisis dinamika kerumunan, periode puncak kepadatan, dan rute bus. Rincian mengenai fungsi analisis tersebut belum terlihat dalam rilis resmi yang dirujuk, sehingga klaim ini perlu tetap disandarkan pada laporan Arab News.

Al-Abiad juga menyebut AlUla sebagai contoh lain. Kepada Arab News, ia mengatakan sensor pintar dapat memantau pergerakan pengunjung di situs warisan guna mendukung pengelolaan kapasitas dan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan wisata dengan perlindungan situs arkeologi. Pernyataan tersebut merupakan penilaian narasumber Arab News; belum ada rilis resmi AlUla yang ditemukan dalam pemeriksaan ini untuk mengonfirmasi penerapan sensor itu secara spesifik.

SARA dan asisten percakapan mengubah titik awal keputusan wisatawan

Bagi wisatawan rekreasi, perubahan disebut dimulai jauh sebelum penerbangan. Saudi Tourism Authority meluncurkan versi beta SARA, digital human berbasis AI, pada November 2024. Menurut SPA, SARA dirancang untuk menjawab pertanyaan wisatawan, memberi bantuan, dan menyediakan rekomendasi perjalanan yang dipersonalisasi. Pada Februari 2025, SPA juga memperkenalkannya sebagai pemandu wisata pintar di platform Spirit of Saudi Arabia.

Muzzammil Ahussain, CEO Almosafer Travel & Tourism Co., mengatakan kepada Arab News bahwa AI telah menggeser momen pengambilan keputusan wisatawan. Menurutnya, sebagian wisatawan kini membentuk gambaran lengkap tentang Arab Saudi sebelum membuka platform pemesanan; tantangan utama destinasi, menurutnya, bukan semata kualitas produk wisata, tetapi tingkat kesadarannya di kalangan calon pengunjung.

Ahussain juga mengatakan alat percakapan dapat memunculkan lokasi yang mungkin tidak terpikir untuk dicari wisatawan, seperti Edge of the World atau lokasi penyelaman di Laut Merah. Ia menyebut Almosafer telah membangun ulang aplikasinya agar pengguna dapat mendeskripsikan keinginan perjalanan dalam bahasa Arab atau Inggris. Menurut Ahussain, kanal WhatsApp yang memadukan agen AI dan staf manusia menyumbang hingga 10 persen dari pemesanan harian perusahaan. Seluruh klaim mengenai Almosafer tersebut bersumber dari pernyataan Ahussain kepada Arab News dan belum didukung pengumuman perusahaan yang ditemukan dalam pemeriksaan ini.

Apa artinya bagi travel dan jemaah Indonesia?

DATA yang dipaparkan Arab News berfokus pada sektor pariwisata Arab Saudi secara umum, dengan Nusuk AI dan Digital Mutawwif disebut sebagai contoh penerapan di ranah haji dan umrah. Ekosistem seperti Nusuk yang sudah menjangkau lebih dari 2 juta pengguna dengan dukungan lebih dari 180 bahasa berpotensi menjadi jalur bagi fitur AI lain merambah manajemen kerumunan dan layanan jemaah di area ibadah, meski DATA tidak merinci rencana perluasan tersebut secara spesifik.

Penyelenggara umrah dan haji Indonesia perlu mencermati beberapa hal berikut.

  • Perkembangan fitur baru pada aplikasi Nusuk yang berpotensi memengaruhi alur pendaftaran, visa, atau layanan jemaah.
  • Kesiapan jemaah menggunakan asisten digital seperti Nusuk AI atau Digital Mutawwif, termasuk kendala bahasa dan literasi digital.
  • Informasi resmi terkait manajemen kerumunan berbasis AI di area ibadah yang dapat berdampak pada jadwal dan rute kelompok jemaah.

Catatan ASPHIRASI

Berdasarkan DATA, dampak konkret yang sudah terverifikasi adalah pemanfaatan Nusuk AI oleh lebih dari 2 juta pengguna dengan dukungan lebih dari 180 bahasa, serta penerapan Digital Mutawwif untuk memandu rute tawaf dan sai. Kedua alat ini menunjukkan arah pengembangan layanan digital di ekosistem haji dan umrah, meski DATA belum merinci bagaimana keduanya akan diperluas ke pengelolaan kerumunan berskala lebih besar.

Langkah praktis bagi penyelenggara adalah memastikan staf dan jemaah memahami fungsi dasar Nusuk AI sebagai sumber informasi resmi, sekaligus menyiapkan pendampingan bagi jemaah yang kurang terbiasa dengan teknologi digital agar tetap mendapat bantuan manusiawi saat dibutuhkan.

Ke depan, perlu dipantau perkembangan lanjutan dari kerja sama Kementerian Pariwisata dengan Accenture Saudi Arabia serta kemungkinan integrasi fitur AI baru ke dalam ekosistem Nusuk, termasuk informasi resmi soal manajemen kerumunan di area ibadah yang relevan bagi perencanaan operasional penyelenggara umrah dan haji.

Sumber: Arab News

Bagikan