
Mulai sekarang, izin masuk Raudhah tidak lagi dapat diurus secara kolektif oleh travel. Seluruh jemaah umrah wajib melakukan pendaftaran sendiri melalui aplikasi resmi Nusuk setelah visa diterbitkan.
Kebijakan ini menandai perubahan penting dalam sistem pengajuan izin ziarah Raudhah yang sebelumnya masih dapat difasilitasi secara terpusat melalui pihak travel.
Penjelasan Aturan Baru dari DPP AMPHURI
Ketua Bidang Umrah DPP AMPHURI, Ahmad Barakwan, menjelaskan bahwa aturan ini mulai berlaku pada musim haji 1448 H. Sistem pengurusan tasreh Raudhah melalui muassasah yang sebelumnya digunakan travel kini tidak lagi dapat dipakai.
Ahmad menyampaikan:
“Untuk saat ini, di musim ini menu tersebut di sistemnya muassasah ada, tapi tidak bisa digunakan menunya. Jadi jalan keluarnya sekarang diharap untuk mendaftar masing-masing jemaah. Saudi sudah minta itu dari HPnya jemaah masing-masing,” kata Ahmad.
Dengan ketentuan ini, proses pengajuan izin tidak lagi bergantung pada sistem lama yang diakses melalui travel, melainkan harus dilakukan langsung oleh masing-masing jemaah.
Peran Travel dalam Proses Pendaftaran Nusuk
Meski pendaftaran bersifat mandiri, travel masih dapat berperan dalam membantu jemaah. Bantuan tersebut dapat berupa:
- Pendampingan proses pendaftaran di aplikasi Nusuk
- Pembuatan akun Nusuk atas nama jemaah setelah visa keluar
Namun, meskipun difasilitasi travel, akses izin tetap harus diproses melalui akun pribadi setiap jemaah.
Dampak Kebijakan: Digitalisasi dan Ketertiban Sistem Ibadah
Kebijakan ini mencerminkan langkah Pemerintah Arab Saudi yang semakin memperketat sistem layanan ibadah. Tujuannya adalah menciptakan sistem yang lebih tertib, transparan, dan terdokumentasi secara digital.
Dengan perubahan ini, peran travel tidak lagi sebatas mengurus keberangkatan. Travel juga dituntut untuk memastikan setiap jemaah memahami penggunaan aplikasi Nusuk sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Pentingnya Edukasi bagi Jemaah Umrah
Kurangnya pemahaman terhadap sistem baru berisiko membuat jemaah kehilangan kesempatan untuk beribadah di Raudhah.
Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari layanan travel umrah agar setiap jemaah siap menghadapi sistem digital yang kini diberlakukan.
Catatan ASPHIRASI: Dampak Aturan Nusuk bagi Travel dan Jemaah
Perubahan ini berdampak operasional lebih besar daripada yang terlihat. Selama ini pengurusan tasreh Raudhah secara kolektif adalah salah satu nilai jual paket umrah. Ketika izin harus diajukan dari ponsel masing-masing jemaah, penyelenggara kehilangan kendali atas hasilnya, tetapi tetap menerima keluhan bila jemaah gagal masuk.
ASPHIRASI menyarankan anggotanya membenahi dua hal sekaligus. Pertama, hentikan pencantuman jaminan masuk Raudhah dalam materi pemasaran, karena kepastiannya kini berada di luar kendali penyelenggara. Kedua, jadikan pendampingan aplikasi Nusuk sebagai bagian resmi dari manasik, bukan bantuan sambil lalu menjelang keberangkatan. Jemaah lanjut usia dan jemaah yang tidak terbiasa memakai aplikasi adalah kelompok yang paling berisiko tertinggal.
Untuk jemaah, dua hal perlu disiapkan sebelum berangkat: ponsel yang mampu menjalankan aplikasi Nusuk beserta nomor yang aktif, dan akun yang sudah pernah dibuka sendiri minimal satu kali. Menunggu sampai tiba di Madinah untuk pertama kali mencoba aplikasi adalah penyebab paling umum jemaah kehilangan jadwal ziarah.




